Catatan Iskandar Hasibuan (1), Pileg 2019 di Madina Mayoritas “Suap” Pemilih

Iskandar Hasibuan

PEMILIHAN Calon anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal priode 2019 -2024 yang dilaksanakan secara serentak bersama pemilihan Presiden/Wakil Presiden, DPD dan DPRD Provinsi serta DPR.RI menimbulkan berbagai catatan yang merusak sendi-sendi demokrasi di Republik Indonesia, karena mayoritas Caleg pemenang mengeluarkan uang sangat banyak untuk menyuap pemilih di berbagai desa yang ada TPS(Tempat Pemungutan Suarat).

            “ Suap Haram, Yang menyuap dan menerima suap masuk neraka,” Kalimat ini sering dilontarkan oleh Ustadz yang melakukan Tauziah dimana-mana, namun berdasarkan Catatan Penulis sendiri sebagai salah seorang Calon Legislatif dari Daerah Pemilihan 5 dari PDI Perjuangan, sedikit heran dan bercampur bingung, separah itukah masyarakat sekarang ini.

            Kenapa rupanya..? Bayangkan jauh-jauh hari sebelum dilaksanakannya pesta demokrasi 17 April 2019 telah dilakukan kampanye oleh Parpol maupun Calon DPRD, baik secara langsung maupun dengan melakukan pertemuan-pertemuan, tetapi dalam setiap pertemuan dengan masyarakat, kalimat-kalimat “ Wanipiro, Berapa Satu Suara, Adong Do Miak na, sampai ada yang menargetkan agar calon dipilih harus siapkan uang Rp 150.000,- sampai Rp 250.000,- /pemilih.

            Memang, ketika isu ataupun informasi tersebut muncul ditengah-tengah masyarakat, banyak yang mengunggah di facebook, tetapi untuk membuktikannya apakah benar ada “Suap/Money Politik “ sangatlah sulit, selain Bawaslu hingga jajaran bawah di desa tidak mempunyai kekuatan yang baik, sekalipun Undang-Undang mengatakan bahwa itu tanggung jawab semua pihak untuk melakukan pengamanan terhadap oknum-oknum yang mau menyuap pemilih.

            Informasi dari mulut ke mulut di Dapil 5 Madina seperti diwilayah Kecamatan Bukit Malintang, Panyabungan Utara, Nagajuang, Siabu dan Hutabargot ada beberapa Calon DPRD yang berdasarkan data-data yang telah dihimpun dari TS (Tim Sukses) ada yang mencatat sampai 6000 data pakai KTP dengan nominal Rp 150.000,-/pemilih, ada juga yang 8000 data dengan Rp 150.000,-/suara atau pemilih tapi sangat disayangkan uangnya salah sasaran dan tidak terpilih, sehingga terlihat wajahnya bingung dan sambil berkata “ Kok Ngak Dapat Suara separoh sajapun “

            Tentu, timbul pertanyaan, kenapa tidak ditangkap, menangkapnya inilah yang sulit didapat, sebab antara satu sama lain TS nya pintar membagi-bagi uang sambil dimasukkan ke kantongnya sendiri dan melaporkannya kepada Calon DPRD bahwa uang telah dibagi, Insya Allah akan duduk menjadi DPRD, nyatanya tidak, kasihan memang.

            Penulis pernah di WA oleh salah seorang Calon DPRD Priode 2019-2024 dan WA nya masih disimpan kira-kira bahasanya “ Bos jika benar ada Caleg yang nyuap kenapa tidak ditangkap, jangan hanya di Medsos dibuka, tangkaplah “ dan mungkin Caleg tersebut merasa dia sedang menyuap dan merasa terusik, Alhamdulilah Caleg yang mengirim WA walaupun telah mengeluarka uang banyak sesuai dengan informasi yang berkembang bahwa si Caleg juga sawer pemilih kisaran Rp 75.000,- sampai Rp 100.000,- tapi gagal juga,sebab suaranya sangat sedikit, kasihan memang (Bersambung Terus )

 

 

Admin : Siti Putriani Lubis

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.