Ongkos Ojek Rp 10.000/Orang, Warga 7 Desa di Tambangan Minta Jembatan Dibangun

Warga Seberang Batang gadis Tambangan mau mengikuti Karnaval/ Munawir Ling

TAMBANGAN(Malintangpos Online): “ Malang Benar Nasib Masyarakat Itu,” Kalimat itulah yang cocok mungkin disampaikan kepada warga 7 Desa diseberang Batang Gadis, Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal, karena Jembatan yang menghubungkan Laru- Wilayah Tambangan Hanyut terbawa arus sungai(Aek) beberapa waktu yang lalu.

            Ketujuh desa tersebut adalah Desa Tambangan Jae, Tambangan Tonga, Simangambat, Rao-Rao Dolok, Desa Rao-Rao Lombang, Desa Panjaringan  dan Desa Tambangan Pasoman, yang setiap harinya masyarakat jika mau ke Laru harus mengeluarkan uang Rp 10.000,- orang untuk sekali jalan dengan naik Ojek.

            Hal itu disampaikan oleh masyarakat wilayah 7 Desa kepada Malintang Pos Group, Sabtu pagi(17-08) di sekitar Jembatan Gantung, ketika masyarakat hendak mengikuti Upacara HUT RI ke-74 di Lapangan Tambangan.

Warga Tambangan Antri melewati Jembatan untuk HUT RI/MUnawir

Tokoh Pemuda Tambangan Dan Lubis mengutarakan, sekalipun ada keterangan Kadis PUPR Madina Syahruddin Lubis,ST di Media, bahwa Jembatan akan dibangun Tahun 2020 mendatang ini, tapi Masyarakat tidak sabar lagi.

Kenapa..? Karena mereka ( Warga Red) )meminta di tahun ini juga, kalau di undur-undur sampai tahun 202, berarti pemerintah kurang peduli terhadap warga 7 desa di seberang Batang Gadis Kecamatan Tambangan

“ Pemerintah seharusnya melihat dengan jelas efek dari jembatan ini,baik kerugian moril dan materil, Kerugian materil  warga Tambangan harus mengeluarkan ongkos ojek Rp10.000/ sekali jalan untuk sampai ke Laru, yang biasanya cuma Rp 5.000,-/orang,” ujar Dan Lubis dengan nada tinggi.

 Disebutkan, Dan Lubis, yang lebih memprihatinkan lagi, biaya anak sekolah yang harus di tambah, belum lagi hasil bumi,Pemerintah seharusnya memikirkan itu, berapa kerugian masyarakat seberang Batang Gadis Tambangan selama setahun ini.

Jembatan Baru yang hanyut/ Dokumen

“ Jembatan ini sangat vital bukan main- main, Yang jelasnya kami mendesak di tahun ini juga, dan kami tidak percaya pemerintah selesai mengerjakannya sebelum Idul Fitri Tahun 2020, kalau tidak di bangun kami siap melakukan demo besar- besaran,” ujar Dan Lubis dengan lantang dan keras ketika ditanya Wartawan di Tambangan.

Sementara itu, yang dikutip Wartawan dari status Akun Facebook Munawir Ling Nasution “Para pemangku jabatan pun bernyanyi atas desakan warga tambangan ,Pemerintah kab.madina melalui jubir bupati dinas PUPR Mengeluarkan pernyaataan yang belum begitu pasti atas desakan warga Tambangan dalam membangun kembali jembatan dengan iming-iming anggaran angka ber MM di apbd 2020.

“ dengan mengabaikan anggaran Apbd TA 2017-2018 senilai 5,9 M yang tdk kita ketahui dikemanakan dan kejatisu pun enggan memeriksa kadis PU atas kegagalan proyek tsb yang di duga merugikan negara atas ketidak seriusan pihak dinas PUPR dlm menjalankan amanah dan pertanggung jawaban atas pengerjaan jembatan tsb,” tulis Munawir Ling Nasution dalam Akun Facebooknya.

Warga bawa Kerangka Jembatan di Karnaval 17 Agustus/ Dan Lubis

Sedangkan Kadis PUPR Kab.Madina Syahruddin Lubis,ST yang berkali-kali mau dihubungi dikantornya selalu gagal, karena kesibukannya mendampingi Bupati ke luar daerah, serta ketika dihubungi Via Selularnya selalu di rijek dan di SMS tidak pernah dijawab.

“ Kadis PUPR Mandailing Natal, sebenarnya tidak mau jumpa dengan Wartawan Malintang Pos Group, sebab sering diberitakan, karena itu Kadis tidak mau jumpa dan membalas SMS dari Wartawan Malintang Pos,” ujar seorang staf di kantor PUPR Madina ( NS/SN/Red)

 

 

Liputan : Nanda/Suaib

Admin   : Siti Putriani

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.