Rekonsiliasi: Sembuhkan Luka, Bangkit Bersama Membangun Bangsa

Suheri Sahputra Rangkuty(Penulis)

Hari-hari penuh ketegangan di alam maya telah kita lewati. Disebut ketegangan karena memang dilihat dari berita media online yang lalu ilalang memberitakan isu-isu yang debatable sehingga memicu keinginan pengguna media untuk nimbrung memberi komentar masing-masing. Sepintas lalu, kejadian semacam ini dianggap biasa dalam negara yang berdemokrasi, bebas mengemukakan pendapat. Akan tetapi, sebagian dari pengguna media tidak bisa mengontrol emosi, akhirnya, narasi-narasi permusuhan dalam kolom komentar tidak bisa di elakkan. Hal semacam inilah yang kemudian memancing ketegangan di antara para pengguna, meski tidak menimbulkan konflik langusung di alam nyata.

Betapapun demikian, ketegangan tetaplah menyisakan luka, pepatah mengatakan, lidah lebih tajam dari pedang. Luka sayatan lidah bisa mendalam dan menjalar hingga pada tahap klimaksnya ketegangan bisa menjadi konflik. Oleh karenanya ketegangan yang terjadi selama ini mesti dihentikan. Menghentikan dalam artian kita sebagai anak bangsa perlu disadarkan bahwa kita adalah saudara yang hidup di bawah satu bendera dan satu atap satu negara yaitu negera kesatuan Indonesia.

Sebenarnya, jika kita menyadari bahwa kita itu sama-sama anak bangsa, maka di waktu pemilu pun sejatinya kita tidak perlu terlibat dalam debat-debat kusir yang tidak menguntungkan, kecuali keterlibatan kita (sebagai pengguna media yang cerdas) untuk meluruskan dan menepis isu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kita juga harus sadar, di masa-masa pemilu banyak beredar isu dan rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan yang sengaja disebarkan guna menggagngu ketentraman anak bangsa. Maunya, kejadian yang berulang setiap kali pemilu ini menjadi pembelajaran bagi kita untuk tidak cepat-cepat percaya dan menyebarkannya. Setidaknya, mengurangi ketegangan yang ada di tahun politik.

Saatnya 03

Pasca putusan MK kemarin, maka pada prinsipnya, pemilu yang sering disebut pesta rakyat itu telah final. Maka yel-yel dan simbol-simbol untuk menyatakan dukungan sudah selayaknya berakhir. Kelompok pendukung dan simpatisan juga tidak perlu lagi untuk mengkampanyekan dukungannya sebab pemilu telah usai. Menghidupkan kembali dukungan kepada satu calon di saat semuanya telah usai hanya akan memperpanjang polarisasi di tengah-tengah masyarakat.

Sudah saatnya kita berhenti menamakan diri sebagai pendukung 01 dan 02. Sekarang kita kembali kepada sila yang ke 3 yaitu persatuan Indonesia. Bagi setiap pendukung sudah saatnya juga untuk menebarkan narasi yang menyejukkan terlebih-lebih memanjatkan do’a meminta dilimpahkan keberkahan untuk negeri ini. Agar senyum yang dulu semerbak di alam maya kembali mekar, setelah sekian lama layu dipenuhi ketegangan-ketegangan yang tidak terbendung. Saling rangkul dengan satu tujuan dan satu pandangan untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

Pada hakikatnya, siapapun yang terpilih dalam kontestasi pemilu, rakyat adalah pemenangnya. Kemenangan atas nama rakyat, tidak ada kemenangan atas kelompok tertentu. Sekali lagi, mari tebarkan persaudaraan dan membuka tangan untuk merangkul seluruh lapisan anak bangsa demi persatuan Indonesia(Suheri Sahputra Rangkuti).

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.