
BATAHAN(Malintangpos Online): Masyarakat di Kecamatan Batahan, mulai mengeluhkan kelangkaan gas LPG 3 kilogram dalam beberapa hari terakhir.
Gas bersubsidi yang biasa digunakan warga kecil untuk kebutuhan memasak itu kini sulit ditemukan, sementara harga jual di tingkat pengecer justru melonjak jauh dari harga normal.
Di sejumlah warung dan kios pengecer, tabung gas melon tampak kosong. Warga harus berkeliling dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mendapatkan satu tabung gas.
Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang pulang dengan tangan hampa karena stok disebut sudah habis sejak pagi.

“Sudah beberapa hari susah dicari. Kalau pun ada, harganya mahal sekali,” ungkap seorang ibu rumah tangga kepada Ustadz Sobirin, Jumat (15/5).
Kelangkaan gas bersubsidi tersebut disebut semakin parah dalam beberapa hari terakhir.
Warga mengaku barang sangat sulit didapatkan, sementara harga di tingkat pengecer sudah menembus Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per tabung.
Meski mahal, masyarakat terpaksa tetap membeli demi memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Namun persoalan tidak berhenti pada tingginya harga, sebab barang juga disebut sangat langka di pasaran.
“Barangnya sangat sulit didapatkan. Harga sudah sampai Rp40 ribu sampai Rp45 ribu, warga terpaksa beli itu. Tapi meski begitu, gas tetap langka. Bahkan ada warga yang mencoba mencari gas sampai ke arah Sumbar,” ujar Ustadz Sobirin.
Kelangkaan ini bukan hanya dirasakan ibu rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha kecil seperti pedagang gorengan, warung kopi, hingga penjual makanan keliling.
Mereka mengaku mulai kesulitan menjalankan usaha akibat biaya operasional yang meningkat.
“Kalau gas mahal dan susah dicari, otomatis pengeluaran bertambah. Sementara pembeli juga sedang sepi,” ujar seorang pedagang kecil di kawasan pesisir Batahan.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal, Parlin Lubis, yg dihubungi Wartawan,menyampaikan bahwa distribusi Gas LPG 3 Kg di wilayah Pantai Barat Kabupaten Mandailing Natal pada umumnya dilaksanakan melalui agen Madina Gas Lestari (MGL).
Namun demikian, saat ini MGL sedang menghadapi permasalahan administratif dan operasional sehingga untuk sementara waktu penyaluran kuota atau jatah LPG 3 Kg dari pihak PT Pertamina Patra Niaga kepada MGL ditunda sementara.
“Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal telah memanggil pihak manajemen PT MGL untuk melakukan klarifikasi dan koordinasi terkait langkah-langkah penyelesaian yang diperlukan,” ujar Parlin Lubis.
Ia menambahkan, koordinasi juga telah dilakukan dengan pihak PT Pertamina Patra Niaga guna memastikan distribusi LPG 3 Kg kepada masyarakat tetap berjalan dan tidak menimbulkan kelangkaan di wilayah Pantai Barat.
Sebagai langkah penanganan sementara, pihak PT Pertamina Patra Niaga akan mengalihkan sementara penyaluran pangkalan-pangkalan yang sebelumnya berada di bawah naungan MGL kepada agen lain yang ditunjuk, sampai permasalahan MGL dapat diselesaikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas distribusi dan ketersediaan LPG 3 Kg bagi masyarakat, khususnya di wilayah Pantai Barat Kabupaten Mandailing Natal.
Kondisi ini pun memunculkan keresahan di tengah masyarakat.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera memastikan distribusi kembali normal agar kelangkaan dan lonjakan harga tidak terus berlanjut.
Bagi masyarakat kecil, gas 3 kilogram bukan sekadar kebutuhan rumah tangga biasa.

Di dapur-dapur sederhana, tabung hijau itu menjadi penopang hidup sehari-hari. Ketika barang sulit didapat dan harga terus naik, keresahan warga pun tak terelakkan. (DITA/ISK/REN)
Admin ; Iskandar Hasibuan.








