Dalihan Na Tolu dalam Cahaya Hadis: Merawat Kekerabatan, Menghidupkan Persaudaraan

*** Oleh: Nur Hamidah Pulungan
Dosen Ilmu Hadis STAIN Mandailing Natal ***.

Nur Hamidah Pulungan
Dosen Ilmu Hadis STAIN Mandailing Natal

Apa yang terjadi apabila falsafah Dalihan Na Tolu dibaca melalui hadis Nabi Muhammad SAW? Pertanyaan ini menarik, terutama bagi masyarakat Mandailing yang hidup dalam dua ruang nilai sekaligus: adat dan Islam.

Dalihan Na Tolu bukan sekadar susunan hubungan kekerabatan. Ia menjadi salah satu cara masyarakat Mandailing memahami bagaimana manusia harus menempatkan diri di tengah keluarga dan masyarakat.

Ada tiga unsur utama di dalamnya yaitu: Mora, Kahanggi dan Anak Boru. Ketiganya membentuk hubungan timbal balik yang mengatur penghormatan, tanggung jawab, kerja sama dan keseimbangan sosial.

Dalihan Na Tolu berfungsi sebagai pedoman dalam komunikasi, tindakan sosial, penyelesaian persoalan, serta pelaksanaan berbagai kegiatan masyarakat. Akan tetapi, ada satu hal yang perlu ditegaskan. Dalihan Na Tolu bukan berasal dari hadis.

Ia merupakan warisan budaya dan sistem kekerabatan masyarakat Mandailing. Meskipun Hadis Nabi bukan menjadi sumber lahirnya Dalihan Na Tolu.

Akan tetapi nilai-nilai yang terdapat di dalamnya dapat diperjumpakan dengan nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW. Di sinilah dialog antara adat dan hadis menjadi menarik.

Dari Kekerabatan Menuju Persaudaraan
Salah satu kekuatan Dalihan Na Tolu adalah kemampuannya membangun kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendirian.

Seseorang mempunyai hubungan dengan keluarga, kerabat, tetangga dan masyarakat. Ia memiliki kewajiban terhadap orang lain sebagaimana orang lain memiliki kewajiban terhadap dirinya.

Semangat ini sangat dekat dengan ajaran Rasulullah SAW tentang persaudaraan. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).
Arti Persaudaraan dalam hadis tersebut bukan sekadar hubungan emosional namum memiliki konsekuensi moral dengan tidak menzalimi, tidak membiarkan saudaranya berada dalam kesulitan, membantu ketika membutuhkan dan menjaga kehormatannya.

Jika dikaitkan dengan masyarakat Mandailing, semangat tersebut dapat ditemukan dalam hubungan kekerabatan yang dibangun melalui Dalihan Na Tolu. Kekerabatan adat dapat menjadi ruang praksis bagi nilai persaudaraan yang diajarkan hadis.

Somba Marhula-hula: Menghormati yang Dituakan
Dalam etika Dalihan Na Tolu dikenal ungkapan somba marhula-hula, yang secara sederhana mengandung pesan untuk menghormati pihak hula-hula atau Mora.

Jika dibaca secara substantif, terdapat nilai penghormatan terhadap orang lain, terutama mereka yang memiliki kedudukan tertentu dalam relasi kekerabatan. Nilai ini dapat dipertemukan dengan banyak hadis Nabi tentang penghormatan kepada orang tua dan orang yang lebih tua.

Rasulullah SAW bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.”

Pesan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan sosial membutuhkan etika penghormatan. Tetapi penghormatan dalam Islam tidak boleh berubah menjadi pengkultusan.

Seseorang dihormati bukan karena ia memiliki kekuasaan yang tidak terbatas, melainkan karena adanya nilai kemanusiaan, usia, pengalaman, hubungan kekerabatan, atau tanggung jawab sosial yang melekat padanya. Karena itu, somba marhula-hula dapat dibaca sebagai pendidikan karakter dengan belajar menghormati orang lain tanpa kehilangan sikap kritis.

Manat Mardongan Tubu: Menjaga Hubungan dengan Sesama
Hubungan dengan dongan tubu atau sesama kerabat juga membutuhkan kehati-hatian.

Dalam tradisi Dalihan Na Tolu dikenal ungkapan manat mardongan tubu dengan bersikap hati-hati dan menjaga hubungan dengan sesama kerabat. Ini bukan sekadar persoalan tata krama.

Di baliknya terdapat kesadaran bahwa konflik dengan orang yang dekat sering kali justru lebih menyakitkan daripada konflik dengan orang yang jauh. Karena itu, hubungan kekerabatan membutuhkan kesabaran, pengendalian diri, komunikasi dan kemampuan menyelesaikan perbedaan. Nilai tersebut sangat dekat dengan ajaran hadis tentang menjaga hubungan persaudaraan dan larangan memutus silaturahmi.

Dalam kehidupan modern, pesan ini semakin penting. Kita dapat memiliki ribuan teman di media sosial tetapi kehilangan hubungan baik dengan saudara sendiri.

Kita dapat begitu cepat memberikan komentar kepada orang lain, tetapi lupa berbicara dengan keluarga secara baik-baik. Barangkali manat mardongan tubu mengingatkan kita bahwa kedekatan membutuhkan kehati-hatian. Semakin dekat hubungan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga perasaan, kehormatan dan kepercayaan.

Elek Marboru: Memuliakan dan Melayani
Unsur lain yang penting adalah elek marboru yakni sikap membujuk, menyayangi, memperhatikan dan memperlakukan boru dengan baik. Di sini kita menemukan dimensi lain dari Dalihan Na Tolu yaitu hubungan sosial tidak dibangun hanya dengan penghormatan tetapi juga dengan pelayanan dan kasih sayang. Prinsip ini sangat dekat dengan karakter Rasulullah SAW. Nabi bukan hanya mengajarkan kebaikan melalui kata-kata.

Beliau memperlihatkan kebaikan melalui Tindakan dengan membantu, menyayangi, memaafkan, memperhatikan orang lemah dan membangun hubungan sosial yang manusiawi. Dengan demikian, elek marboru dapat dibaca sebagai bentuk kearifan lokal yang menempatkan kelembutan dan kasih sayang sebagai kekuatan sosial. Dalam dunia yang semakin individualistis, nilai semacam ini justru semakin diperlukan.

Adat Bukan Lawan Agama
Di sinilah kita perlu berhati-hati dalam melihat hubungan adat dan agama.

Ada kecenderungan untuk mempertentangkan keduanya ketika seolah-olah seseorang taat kepada agama namun ia harus meninggalkan adat. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Masyarakat Mandailing telah mengalami proses interaksi panjang antara Islam dan adat.

Dalihan Na Tolu menunjukkan bahwa kedua sistem nilai tersebut hidup berdampingan dan saling berinteraksi dalam kehidupan masyarakat termasuk dalam berbagai upacara siriaon dan siluluton.

Yang diperlukan bukanlah mempertentangkan adat dengan agama tetapi membaca adat secara kritis melalui nilai agama dan kemanusiaan.

Adat yang mengandung kasih sayang, persaudaraan, penghormatan, musyawarah, gotong royong dan tanggung jawab sosial tentu dapat dipelihara.

Sebaliknya, jika ada praktik tertentu yang bertentangan dengan prinsip agama, keadilan, martabat manusia, atau kemaslahatan, maka tradisi tersebut dapat dievaluasi. Sebab, melestarikan budaya tidak berarti mempertahankan semua bentuk tradisi tanpa kritik.

Yang dilestarikan adalah nilai baiknya; bentuknya dapat berkembang sesuai zaman. Pertanyaan pentingnya sekarang adalah apakah Dalihan Na Tolu masih relevan? Jawabannya sangat relevan jika kita memahami substansinya.

Generasi muda mungkin tidak lagi hidup dalam struktur sosial seperti generasi terdahulu.

Mereka tinggal di kota, merantau ke berbagai daerah, bekerja dalam lingkungan yang multikultural dan berinteraksi melalui media sosial.

Tetapi kebutuhan manusia untuk dihormati, dicintai, dibantu, didengar dan memiliki keluarga tidak pernah hilang. Karena itu, nilai Dalihan Na Tolu justru dapat menjadi modal sosial untuk menghadapi zaman modern.

Somba marhula-hula dapat diterjemahkan menjadi budaya menghormati. Manat mardongan tubu dapat diwujudkan sebagai budaya menjaga persaudaraan.

Elek marboru dapat diterjemahkan menjadi budaya kasih sayang dan pelayanan. Musyawarah adat dapat dikembangkan menjadi budaya dialog. Gotong royong dapat menjadi solidaritas sosial.

Sementara hadis memberikan fondasi moral bahwa semua itu bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi dapat menjadi bagian dari akhlak.

Dalihan Na Tolu adalah warisan budaya Mandailing. Hadis adalah warisan kenabian.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Ketika keduanya dibaca secara dialogism aka adat tidak sekadar menjadi upacara dan hadis tidak berhenti menjadi teks.

Kita dapat mempertahankan identitas Mandailing sekaligus memperdalam keberagamaan.

Kita dapat mencintai adat tanpa menganggap semua adat sebagai sesuatu yang mutlak. Kita dapat menghormati tradisi tanpa berhenti berpikir kritis. Pada akhirnya, yang kita perlukan adalah manusia yang mampu membawa nilai terbaik dari masa lalu ke masa depan.

Barangkali inilah wajah terbaik dari akulturasi Islam dan budaya Mandailing yaitu bukan ketika adat kehilangan identitasnya karena agama dan bukan pula ketika agama sekadar dijadikan pembenaran bagi adat, akan tetapi ketika nilai-nilai keduanya berdialog untuk melahirkan kehidupan sosial yang lebih manusiawi.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin individualistis, kita justru perlu kembali mendengar suara lama itu, “Somba marhula-hula; Manat mardongan tubu; Elek marboru”, yang tidak sekadar untuk diucapkan sebagai semboyan, tetapi untuk dihidupkan sebagai akhlak.( Rel)

 

Admin : Iskandar Hasibuan.SE.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Gordang Sambilan Adukan Saipullah Nasution Ke KPK

    JAKARTA(Malintangpos Online): Lembaga Gordang Sambilan Centre menyerahkan berkas laporan atas dugaan berbagai tindak pidana korupsi yang menyeret nama H. Saipullah Nasution, yang juga saat ini menjabat Bupati Kabupaten Mandailing Natal…

    Read more

    Continue reading
    Warga dan TNI Turun Tangan, Material Menumpuk & Mobil Fuzo Mogok Jalan Nasional di Panyabungan Macet 1 Km

    PANYABUNGAN UTARA(Malintangpos Online): Akibat jalan Nasional diantara Desa Kampung Baru – Huta Dame Kecamatan Panyabungan Utara Mandailing Natal, Amblas dan Sedang diperbaiki Kontraktor dan tumpukan Material Menumpuk di sisi Jalan,…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses