Mengintip Vitalitas “ Cincu ” dalam Manajemen ALS: 60 Tahun Layani Trayek Sumatera–Jawa–Bali

*** Artikel Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum ***

Ada sesuatu yang menarik dari enam dekade perjalanan PT Antar Lintas Sumatera (ALS).

Bukan hanya bus hijaunya yang menyeberangi ribuan kilometer Sumatera–Jawa, bahkan pernah mencapai Bali. Yang lebih menarik adalah sistem manusia yang membuat ratusan unit bus terus bergerak dari satu trip ke trip berikutnya.

Di situlah nama “cincu” menjadi penting.

Jaringan Bus Terbesar
ALS tidak lahir sebagai raksasa transportasi pada 29 September 1966. Berawal dari visi, keberanian dan inovasi. Menggeliat dan menguat.

Pada fase awal, armadanya hanya beberapa unit dengan trayek yang masih terbatas. Tetapi kemudian berkembang menjadi salah satu jaringan bus antarkota paling luas dari Sumatera.

Data historis yang ditemukan menunjukkan angka yang berubah-ubah sesuai zamannya: sekitar 155 unit pada 1995, kemudian pernah mengalami kontraksi hingga sekitar 60 unit, sebelum kembali berkembang. Data lain mencatat 258 unit, sementara sumber penelitian berbeda menyebut sekitar 300 unit dengan 41 trayek.

Ada pula klaim kontemporer mengenai sekitar 400 unit dan 32 destinasi. Angka terakhir ini masih perlu dikonfirmasi kepada ALS sebagai data resmi terbaru.
Tetapi terlepas dari perbedaan angka tersebut, satu hal yang terang:

ALS pernah dan masih merupakan jaringan transportasi berskala besar.

Dan jaringan sebesar itu tentu membutuhkan sistem pengelolaan yang tidak sederhana.

Cincu: Manajer Kecil di Atas Roda

Dalam struktur operasional ALS yang terdokumentasi dalam penelitian, posisi cincu berada bersama sopir dan kenek di bawah perwakilan.

Penelitian lapangan Rosmawati Harahap mencatat cincu sebagai pengemudi utama yang mengurusi bus dalam perjalanan panjang 7–9 hari pulang-pergi. Pengemudi kedua bekerja di bawah koordinasinya. Bahkan cincu tercatat membayar pengemudi kedua.

Artinya, cincu bukan sekadar orang yang memegang setir.
Ia berhadapan dengan kendaraan, kru, penumpang, uang perjalanan, kebutuhan operasional dan persoalan yang muncul di jalan.

Cincu adalah semacam manajer kecil sebuah unit bus yang sedang bergerak.

Dalam sistem kepemilikan unit yang tersebar, hubungan ini menjadi semakin menarik:
Pemilik unit → ALS → Cincu → Sopir/Kenek → Penumpang.

Pertanyaan besarnya kemudian: seberapa kuat kepercayaan antara pemilik unit dan cincu?

Dari Toke ke Cincu

Jejak istilah ini bahkan lebih tua.

Kesaksian sejarah keluarga tentang cikal bakal ALS mengenal hubungan Toke–Cincu, dengan Toke sebagai pengelola/pemilik dan Cincu sebagai pihak yang berurusan langsung dengan penerimaan uang perjalanan.

Dalam perkembangan berikutnya, kepemilikan unit ALS dikenal tersebar di antara keluarga atau kelompok pemilik tertentu. Nomor pintu bus pun, menurut sejumlah kesaksian, dikenal berkaitan dengan identitas pemilik unit.

Maka ALS menarik dibaca bukan hanya sebagai perusahaan bus, tetapi sebagai ekosistem kepemilikan dan kepercayaan.

Di titik inilah kita perlu membedah lebih jauh:

Bagaimana sistem setoran bekerja? Siapa menanggung kerusakan? Bagaimana uang jalan dikelola? Apa kewajiban cincu kepada pemilik unit?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum seluruhnya terjawab dalam sumber terbuka. Justru karena itu, wawancara dengan cincu, sopir, kenek dan pemilik unit menjadi penting untuk merekonstruksi “dapur” ALS.

Dua Napas ALS

Ada cerita tentang masa emas ALS ketika dunia bus mampu mengangkat kehidupan para kru.

Sopir bahkan kenek bukan sekadar mencari nafkah perjalanan. Sebagian mampu membangun rumah, mengolah sawah dan memperbaiki kehidupan keluarga di kampung.

Regenerasi armada juga pernah berlangsung agresif. Data sejarah mencatat sekitar 155 unit pada 1995, dengan pergantian unit yang relatif cepat.

Tetapi kemudian napas bisnis berubah.

Penerbangan berbiaya rendah menggerus keunggulan bus jarak jauh. Ketika harga tiket pesawat semakin mendekati ongkos bus untuk rute-rute tertentu, pilihan penumpang ikut berubah.

Di kalangan insan transportasi kemudian muncul cerita tentang semakin beratnya “ekonomi satu trip”: uang jalan menipis. Bahkan, di trayek yang minus, ada kesaksian mengenai cincu yang harus mencari pinjaman sebelum perjalanan atau berutang BBM.

Cerita ini memang masih perlu diverifikasi.

Tetapi secara analitis, itu menunjukkan persoalan penting: kalau benar terjadi, tekanan bisnis tidak lagi hanya terasa di kantor perusahaan, melainkan sudah sampai ke orang yang mengendalikan satu unit di jalan.

Trayek Minus?

Di sinilah angka unit dan trayek menjadi penting.

Kita tidak boleh membicarakan “ALS” seolah seluruh unit mempunyai ekonomi yang sama.

Saat ini, tetap ada yang masuk kategori trayek gemuk, trayek sedang dan trayek yang sering minus dan mungkin nyaris mati.
Trayek dengan penumpang kuat tentu berbeda ekonominya dengan trayek yang berangkat dalam kondisi load factor rendah.

Satu trip harus membayar setidaknya:
— pendapatan penumpang (loket)
– BBM
– kru/uang jalan
– biaya operasional
– perawatan dan suku cadang
– kewajiban kepada pemilik unit
= ekonomi satu trip.

Maka ukuran vitalitas ALS bukan sekadar:

“Berapa bus yang dimiliki?”
Tetapi juga:

“Berapa sehat ekonomi setiap unit dan setiap trayek?”

Dan pertanyaan berikutnya jauh lebih menarik:

Apakah trayek yang gemuk ikut menopang trayek yang lemah, atau setiap unit sepenuhnya berdiri di atas ekonomi trayeknya sendiri?

Jawabannya akan membantu kita memahami sejauh mana cincu merupakan termometer ekonomi ALS.

Napas Sosial-Spiritual

Namun ALS ternyata tidak hanya hidup dari roda ekonomi.

Ada pula tradisi sosial yang berlangsung setiap tahun: pemberian bantuan kepada anak-anak yatim di kampung-kampung sekitar jaringan trayeknya, dengan jumlah penerima yang membanggakan.

Tradisi ini menarik dibaca sebagai modal sosial perusahaan dan kekuatan spiritual jajaran personilnya.
Perusahaan transportasi yang setiap hari membawa manusia melintasi daerah-daerah pada akhirnya membangun hubungan bukan hanya dengan penumpang, tetapi juga dengan komunitas yang dilewati dan menjadi bagian dari sejarahnya.

Di sinilah usia 60 tahun memperoleh makna lain.
Perusahaan tidak hanya membutuhkan vitalitas ekonomi, tetapi juga vitalitas sosial-spiritual.

Menjual Konektivitas

ALS sebenarnya sudah mempunyai embrio menuju model baru.

Di kawasan Medan sekitar (Mebidang – Medan, Binjai dan Deli Serdang), misalnya, jaringan ALS bersentuhan dengan Bandara Kualanamu, Medan dan Binjai. Layanan antar-jemput dari rumah menuju ALS dan sebaliknya juga membuat perjalanan tidak lagi sekadar “terminal ke terminal”.
Ini penting.

Sebab, masa depan ALS tidak harus diletakkan dalam pertarungan: BUS versus PESAWAT.

Pertarungannya bisa diubah menjadi kolaborasi atau sinergi:

BUS + PESAWAT + KAPAL + KERETA.

ALS tidak harus memiliki semua moda tersebut.

ALS perlu memiliki konektivitasnya.

Rumah → ALS → bandara → pesawat → ALS → rumah

Atau:

Kampung → feeder → simpul transportasi → moda utama → tujuan.

Bahkan trayek yang ekonominya mulai lemah dapat dipikirkan ulang sebagai feeder menuju simpul transportasi, bukan langsung dianggap sebagai trayek yang harus dimatikan.

Dan, betapa indahnya jika manajemen di bawah kepemimpinan Direktur Utama PT Antar Lintas Sumatera (ALS) Chandra Lubis tetap menjaga visi-spirit: tak boleh ada pendiri yang kehabisan unit.

Enam Puluh Tahun Kemudian…

Enam puluh tahun pertama adalah sejarah tentang bagaimana 3-7 unit bus berkembang menjadi jaringan perjalanan lintas wilayah. Tentu, secara logika, tak sedikit jumlah penumpang yang sudah sering merasakan jasa besarnya.

Dari beberapa unit, pernah mencapai sekitar 155 pada 1995 unit, kemudian mengalami masa kontraksi, dan kembali berkembang hingga ratusan unit menurut berbagai sumber.

Tetapi, enam puluh tahun berikutnya membutuhkan cara berpikir yang berbeda.

Dulu ALS menjual kursi.
Kemudian ALS menjual perjalanan. Dan, ke depan, ALS bisa menjual konektivitas.

Cincu mungkin tetap vital dengan posisi yang kokoh.

Makanya, sistem di belakang cincu perlu ikut berevolusi: sistem kepemilikan, pengelolaan unit, pembiayaan perjalanan, perawatan, digitalisasi tiket, integrasi moda dan pembacaan ekonomi setiap trayek.

Karena itu, untuk memahami ALS, kita tidak cukup menghitung jumlah bus dan trayek.

Kita perlu masuk lebih dalam:
Siapa yang membuat satu bus berangkat, bagaimana satu trip bertahan, dan mengapa sebuah trayek tetap hidup.

Di situlah vitalitas cincu menjadi menarik.

Dan di situlah pula enam puluh tahun ALS sebenarnya belum selesai. Masih ada bentang perjalanan 60 tahun ke depan.

Horizon Tauhid: perjalanan panjang manusia bukan sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain. Di dalamnya ada ikhtiar mencari rezeki, mempertemukan keluarga, membuka akses dan berbagi kepada sesama.

Jika roda bisnis terus berputar sementara hubungan kemanusiaan tetap terjaga, sebuah perusahaan tidak hanya meninggalkan jejak kendaraan, tetapi juga jejak kehidupan.(*)

Admin : Iskandar Hasibuan.SE.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Bukan Sekadar Gedung, Rumah Sakit Umum Permata Madina Bervisi Layanan Tabagsel

    Sebuah karya yang baik kadang baru terlihat maknanya setelah kita mundur beberapa langkah. Begitu pula dalam layanan kesehatan. Jangan hanya melihat sebuah rumah sakit sebagai gedung, tempat tidur, ruang operasi,…

    Read more

    Continue reading
    Jangan Berhenti di Catatan, DPRD Madina Harus Pastikan RTL

    *** Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum.*** Banggar DPRD Mandailing Natal telah menyetujui Raperda Perubahan APBD 2026 untuk ditetapkan, dengan enam catatan kritis kepada Pemkab Madina. Sikap ini dapat dipahami dalam…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses