
Sebuah karya yang baik kadang baru terlihat maknanya setelah kita mundur
beberapa langkah.
Begitu pula dalam layanan kesehatan.
Jangan hanya melihat sebuah rumah sakit sebagai gedung, tempat tidur, ruang
operasi, poliklinik, dokter dan alat kesehatan.
Di baliknya bisa ada sebuah gagasan:
bagaimana membuat pelayanan kesehatan tumbuh, bergerak dan semakin dekat dengan masyarakat.
Di Panyabungan, gagasan itu menarik untuk dibaca.RSU Permata Madina bukan lagi sekadar tempat praktik seorang dokter. Dalam data

Kementerian Kesehatan, rumah sakit ini telah berkembang sebagai RS kelas C
dengan spektrum layanan yang cukup lebar: pelayanan dasar, KIA/KB, penyakit
dalam, anak, bedah, obstetri-ginekologi, saraf, mata, paru, jantung dan pembuluh
darah, hingga PICU dan berbagai layanan penunjang.
Tetapi ceritanya tidak berhenti di Panyabungan.
Jejak Permata Madina juga bergerak ke Sibuhuan. Di sinilah kata jaringan mulai
menjadi penting.
Sebab Tabagsel bukan satu kota.
Ada Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Padang Lawas Utara
dan Padang Lawas. Masing-masing mempunyai fasilitas kesehatan, tenaga medis dan rumah sakitnya sendiri.
Tetapi pasien tidak mengenal batas administratif ketika
membutuhkan pertolongan.

Pasien hanya mengenal satu pertanyaan:
Di mana saya bisa mendapatkan pelayanan yang saya butuhkan?
Itulah sebabnya perkembangan layanan kesehatan di Tabagsel layak dibaca
sebagai sebuah ekosistem.
Padangsidimpuan selama ini mempunyai posisi penting sebagai simpul pelayanan
kawasan. Tetapi Panyabungan juga sedang bergerak cepat.
RSUD Panyabungan mengembangkan berbagai layanan spesialistik dan teknologi medis yang sebelumnya membuat sebagian pasien harus menempuh perjalanan jauh.
Artinya, peta kesehatan Tabagsel sedang berubah.Yang dahulu terkonsentrasi pada beberapa pusat layanan, perlahan mulai tersebar ke simpul-simpul baru.
Inilah kreativitas pelayanan.
Bukan kreativitas dalam arti membuat sesuatu yang aneh. Tetapi kemampuan
membaca kebutuhan masyarakat, kemudian menghadirkan layanan yang
sebelumnya sulit dijangkau.
Dan pada titik inilah kita mulai menemukan sosok di balik sebagian karya tersebut,
yakni: dr. H. Safii Siregar, SpOG.
Ia memang seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Tetapi jejak publiknya
menunjukkan peran yang lebih luas: praktik medis, pengelolaan institusi pelayanan
kesehatan, dan pengembangan jaringan pelayanan.
Namun, memiliki visi tentu jauh lebih mudah daripada menaklukkannya.
Di sinilah tantangan sebenarnya dimulai.
Pertama, memperkuat rumah sendiri.
Rumah sakit tidak cukup hanya memiliki gedung, alat dan nama besar. Ia
membutuhkan dokter spesialis yang cukup, tenaga kesehatan yang kompeten,
manajemen yang sehat, sistem pelayanan yang konsisten, teknologi yang terus
diperbarui, serta kepercayaan masyarakat.

Setiap inovasi pada akhirnya harus diuji
oleh satu hal: apakah pasien memperoleh pelayanan yang lebih cepat, lebih aman dan
lebih baik?
Kedua, membangun kolaborasi.
Kalau visi yang dibangun adalah visi kesehatan Tabagsel, maka rumah sakit tidak
mungkin bekerja sendirian.
RS Panyabungan tidak harus menjadi pesaing Padangsidimpuan. Rumah sakit swasta tidak harus berhadap-hadapan dengan rumah sakit pemerintah.
Justru yang dibutuhkan adalah jejaring.
Ada layanan yang lebih tepat dilakukan di satu rumah sakit.
Ada kasus yang harus dirujuk ke rumah sakit lain. Ada dokter spesialis yang bisa menjadi penghubung.
Ada teknologi yang dapat dimanfaatkan bersama. Ada pengetahuan dan
pengalaman yang dapat dipertukarkan.
Dengan demikian, kompetisi dapat tetap ada, tetapi kepentingan pasien menjadi titik
temu.
Ketiga, terus menghadirkan inovasi.
Kebutuhan kesehatan masyarakat tidak pernah berhenti pada apa yang sudah
tersedia hari ini. Penyakit berubah.
Teknologi berkembang. Standar pelayanan
meningkat. Masyarakat semakin kritis.
Maka rumah sakit yang berhenti berinovasi sebenarnya sedang membiarkan jarak
antara kebutuhan masyarakat dan kemampuan pelayanan semakin lebar.
Karena itu, inovasi kesehatan tidak selalu berarti membeli alat paling mahal.
Kadang inovasi adalah mendatangkan dokter yang sebelumnya tidak tersedia.
Kadang membuka layanan yang membuat pasien tidak perlu pergi ratusan kilometer.
Kadang membangun sistem rujukan yang lebih cepat.
Kadang menghubungkan rumah sakit dengan rumah sakit lain.
Dan kadang justru memperbaiki hal yang paling sederhana: cara pasien dilayani.
Di sinilah visi dr. Safii menjadi menarik untuk dibaca lebih jauh.
Dalam struktur organisasi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI)
Sumatera Utara periode 2022–2025, ia berada pada Komisariat VIII, yang mencakup wilayah Padangsidimpuan, Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal.
Sebuah wilayah yang secara geografis luas, tetapi secara kebutuhan kesehatan
sesungguhnya saling terhubung.
Maka visi pelayanan kesehatan kawasan tidak cukup dibangun dengan ekspansi.
Ia membutuhkan penguatan internal + kolaborasi eksternal + inovasi berkelanjutan.
Tiga hal ini sekaligus menjadi ujian bagi sang pemilik visi.Sebab pada akhirnya, ukuran sebuah karya kesehatan bukan seberapa megah gedungnya, bukan pula seberapa panjang daftar layanannya.
Ukuran terpentingnya adalah:
berapa jauh masyarakat menjadi lebih mudah mendapatkan pertolongan ketika mereka membutuhkan.
Dari Panyabungan ke Sibuhuan.
Dari layanan ibu dan anak ke layanan spesialistik.
Dari rumah sakit ke jejaring profesi.
Dari satu kabupaten menuju satu kawasan.
Di balik rangkaian karya itu, kita mulai melihat pemilik visinya.

Dr. H. Safii Siregar. Bukan terutama sebagai sebuah nama.Tetapi sebagai bagian dari pertanyaan yang lebih besar:
Mampukah Tabagsel membangun ekosistem kesehatan sendiri—yang saling terhubung,
saling melengkapi, terus berinovasi, dan semakin sedikit mengirim pasien keluar kawasan?
Pertanyaan itu jauh lebih besar daripada sebuah rumah sakit.Dan mungkin, justru di situlah makna sebenarnya dari sebuah visi.(Gugus Literasi Mandailing Epicentrum )
Admin : Iskandar Hasibuan.SE.








