Belajar Dari 26 Tahun Layanan Medis di RSU Permata Madina(2)

Seri 2 dari 5 Artikel — Rumah Sakit Besar Dimulai dari Dalam

Ada rumah sakit yang gedungnya semakin besar, tetapi persoalan di dalamnya tidak
otomatis menjadi semakin kecil.

Ada pula rumah sakit yang perlahan membangun kapasitas dari dalam, sehingga
pertumbuhan fisiknya mengikuti pertumbuhan organisasi.

Di sinilah pelajaran penting dari perjalanan panjang Permata Madina mulai terlihat.
Rumah sakit besar tidak pertama-tama dibangun dengan menambah lantai. Ia dibangun dengan memperkuat isi.

Maka setelah membaca perjalanan 26 tahun RSU Permata Madina sebagai sebuah
laboratorium pengalaman pada seri pertama, sekarang pertanyaannya lebih dalam:
Apa yang harus diperkuat dari dalam agar sebuah rumah sakit mampu memasuki tahap pertumbuhan berikutnya?

Bukan Cuma Soal Dokter Ketika berbicara tentang penguatan rumah sakit, pikiran publik sering langsung menuju dokter spesialis.Memang penting.

Tetapi rumah sakit tidak pernah bekerja hanya dengan dokter.Di belakang seorang dokter ada perawat, bidan, tenaga farmasi, analis laboratorium,radiografer, tenaga gizi, administrasi, rekam medis, tenaga teknologi informasi,petugas kebersihan, keamanan, manajemen dan begitu banyak unsur lain yang tidak selalu terlihat oleh pasien.

Satu mata rantai lemah dapat memengaruhi keseluruhan pengalaman pelayanan.
Karena itu, kekuatan rumah sakit adalah kekuatan sistem, bukan sekadar kumpulan
orang-orang hebat.

Permata Madina sendiri saat ini tercatat di Kementerian Kesehatan sebagai rumah
sakit umum kelas C dengan layanan yang mencakup antara lain penyakit dalam,
anak, bedah, obstetri-ginekologi, anestesi, saraf, mata, paru, jantung dan pembuluh
darah, patologi klinik, radiologi, perinatologi serta sejumlah layanan penunjang lainnya.

Daftar itu menarik bukan karena panjang.
Justru karena ia menunjukkan bahwa semakin banyak layanan yang dibuka, semakin rumit pula mesin organisasi yang harus menopangnya.

Membuka layanan baru relatif mudah jika hanya dihitung dari ruang dan alat.
Yang jauh lebih sulit adalah memastikan tersedia tenaga yang kompeten, jadwal
pelayanan, standar prosedur, sistem rujukan, obat, alat yang terawat, rekam medis, keselamatan pasien dan mekanisme evaluasi.

Di situlah rumah sakit diuji.Rumah sakit daerah membutuhkan dokter spesialis.
Tetapi menghadirkan dokter spesialis seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Ada atau tidak?”

Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:
“Apakah kehadiran mereka membentuk kapasitas?”Seorang dokter spesialis bukan hanya penyedia konsultasi.

Ia dapat menjadi pusat pembelajaran bagi dokter lain, pembimbing bagi tenaga kesehatan, pengembang layanan baru, bagian dari jejaring rujukan dan sumber pengetahuan bagi institusi.

Dengan demikian, investasi SDM kesehatan seharusnya bergerak dari mendatangkan
orang menuju membangun kapasitas.
Di sinilah tantangan kepemimpinan rumah sakit menjadi jauh lebih kompleks.

Rumah sakit harus mampu membuat tenaga profesional betah, berkembang,bekerja dalam sistem dan memiliki ruang untuk menciptakan inovasi.

Mutu Bukan Papan NamaAda kecenderungan melihat mutu rumah sakit melalui akreditasi.Padahal akreditasi semestinya bukan tujuan akhir.

Mutu harus terasa ketika pasien masuk IGD. Ketika keluarga menunggu diagnosis.
Pada saat pasien mengkonsumsi obat.

Setelah perasi berlangsung.
Lalu, ketika pasien dipindahkan dari satu unit ke unit lain. Informasi sampai kepada
keluarga.

Dan, setelah pasien pulang.
Semuanya menceritakan secara detail tentang mutu itu.Kementerian Kesehatan sendiri menempatkan indikator mutu sebagai instrumen pemantauan pelayanan rumah sakit.

Data yang dipublikasikan Kemenkes
menunjukkan Permata Madina Panyabungan ikut tercatat dalam pelaporan
indikator nasional mutu rumah sakit.

Artinya, rumah sakit modern tidak cukup mengatakan:
“Kami bermutu.”Ia harus memiliki data untuk menunjukkan mutu itu.

Dan yang lebih penting lagi, data tersebut harus dipakai untuk memperbaiki
pelayanan.

Bukan Lomba Beli Alat Canggih Hal lain yang sering disalahpahami adalah inovasi.
Ketika rumah sakit membeli alat baru, publik segera menyebutnya
kemajuan.

Padahal, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan manfaatnya adalah
bagaimana teknologi tersebut masuk ke dalam sistem pelayanan.

Sebuah alat canggih tanpa tenaga terlatih hanya menjadi investasi mahal.
Sebuah sistem digital tanpa disiplin kerja hanya menjadi tampilan baru dari masalah
lama.

Sebaliknya, teknologi yang tepat, digunakan oleh tenaga yang kompeten dan
ditempatkan dalam sistem yang baik dapat mengubah kualitas pelayanan secara
nyata.

Maka, pertanyaan aktualnya adalah:
“Masalah pasien apa yang ingin kita selesaikan dengan teknologi yang ada?”
Ini perbedaan antara rumah sakit yang sekadar mengikuti tren dengan rumah sakit
yang benar-benar belajar.

Manajemen: Mesin yang Sering Tidak Terlihat Ada satu unsur yang sering kalah populer dibanding dokter dan alat medis,
yaitu: manajemen. Padahal, semakin besar rumah sakit, semakin besar pula
kebutuhan terhadap manajemen yang profesional.

Jadwal dokter harus teratur. Persediaan obat harus terkendali.Alat harus dirawat.
Keuangan harus sehat.SDM harus dikembangkan.Data harus tersedia.
Keluhan harus ditangani.

Keselamatan pasien harus diawasi.
Hubungan dengan BPJS dan mitra harus dikelola.

Rujukan harus berjalan.Semua itu membutuhkan sistem.Maka, membesarkan rumah sakit tanpa membesarkan kemampuan manajemennya
dapat menciptakan paradoks:
gedung membesar, layanan bertambah, tetapi organisasi justru semakin rapuh.
Karena itu, tantangan besar Permata Madina—dan rumah sakit lain di Tabagsel—
bukan hanya bagaimana menambah layanan.

Tetapi bagaimana menambah kompleksitas tanpa kehilangan kendali.Ukuran Terakhir
Pada akhirnya, seluruh pembicaraan tentang SDM, teknologi, manajemen, akreditasi dan investasi harus kembali kepada satu titik, yakni: pasien.

Pasien tidak terlalu peduli berapa banyak teori manajemen yang digunakan rumah
sakit. Mereka ingin dilayani dengan cepat ketika gawat.

Mendapat penanganan tenaga yang kompeten dan memperoleh informasi yang jelas.

Mereka harus sampai pada rasa aman. Mendapat perlakukan sebagai manusia,
bukan sekadar nomor rekam medis.

Karena itu, budaya pelayanan menjadi bagian dari infrastruktur rumah sakit.
Sedangkan gedung adalah infrastruktur fisik di samping sistem informasi dalam
infrastruktur digital.

Tetapi, budaya pelayanan mencakup infrastruktur berupa manusia. Dan, yang terakhir inilah yang paling sulit dibangun.
Di sinilah perjalanan Permata Madina memberikan pelajaran yang lebih luas.

Sebuah rumah sakit mungkin lahir dari visi satu atau beberapa orang.Tetapi ia tidak akan bertahan 26 tahun hanya dengan mengandalkan energi pendirinya.

Visi harus berubah menjadi sistem. Sistem harus melahirkan budaya. Budaya harus melahirkan generasi berikutnya.

Dan, generasi berikutnya harus mampu membawa institusi menghadapi persoalan yang bahkan belum ada ketika rumah sakit itu pertama kali berdiri.

Inilah ujian sesungguhnya sebuah institusi:
Apakah ia tetap berjalan ketika orang yang pertama kali membayangkannya tidak lagi
menjadi pusat segala sesuatu?

Kalau jawabannya ya, berarti visi telah berhasil berubah menjadi institusi.
Tantangan Lebih Besar Permata Madina sudah mempunyai pengalaman panjang.

Tetapi pengalaman tidak boleh berubah menjadi nostalgia. Harus menjadi modal untuk memperkuat institusi ke depan.

Di situ, harus ada penguatan SDM. Layanan harus diperdalam. Manajemen lebih
matang. Mutu harus diukur.

Di sisi lain, harus cerdas memilih teknologi.
Budaya pelayanan harus dijaga.Dan, regenerasi harus disiapkan.Rumah sakit yang sehat adalah rumah sakit yang mampu melahirkan kemampuan baru dari dalam dirinya sendiri.

Namun, di sinilah muncul pertanyaan berikutnya.Kalau sebuah rumah sakit sudah cukup kuat dari dalam, apakah ia harus berdiri sendiri?

Ataukah justru kekuatan berikutnya lahir ketika ia mulai membuka pintu lebih lebar
kepada rumah sakit lain?

Bagi Tabagsel, pertanyaan ini bukan kecil.
Sebab pasien tidak berhenti di pagar rumah sakit.

Kasus medis tidak mengenal batas kabupaten.Dan kebutuhan kesehatan masyarakat jauh lebih luas daripada kemampuan satu institusi.

Karena itu, seri berikutnya akan membawa kita keluar dari halaman Permata
Madina.

Jangan lewatkan Seri 3 dari 5 artikel — Membangun Kolaborasi, Menjalin Sinergi
Rumah Sakit. (Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum)

Admin : Iskandar Hasibuan.SE.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    WPR Bakal Dapat IPR : Urus Reforma Agraria dan Tanah Ulayat.!

    WPR bakal dapat IPR. Bagus!Tetapi jangan buru-buru merasa urusan selesai. Sebab legalisasi tambang rakyat bukan hanya soal menerbitkan izin. Ada pekerjaan yang lebih mendasar: -urus tanahnya, -urus ulayatnya, dan -urus…

    Read more

    Continue reading
    Ia Ampun.!!! Separah Itukah Tumpukan Sampah di Jalan Nasional Panyabungan..?

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Ia Ampun.!!! Separah Itukah Tumpukan Sampah di Jalan Nasional Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal, ujar Wakil Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) Genta Madina, M.Fikri Hasibuan,S.Sos, Jumat(02/10) di Jalan Merdeka Kayujati…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses