
Membangun Kolaborasi, Menjalin Sinergi Rumah Sakit.Kalau rumah sakit hanya berpikir tentang dirinya sendiri, batas perjuangannya adalah pagar rumah sakit itu sendiri.
Tetapi ketika ia mulai memikirkan perjalanan pasien dan hubungannya dengan fasilitas kesehatan lain, cakrawalanya berubah:
dari mengelola rumah sakit menjadi membangun sistem pelayanan kesehatan.
Di sinilah perjalanan 26 tahun Permata Madina menarik dibaca.
Dari Rumah Sakit Bersalin, berkembang menjadi RSIA, kemudian RSU. Tetapi
perkembangan itu tidak berhenti pada perubahan jenis layanan.
Jejak Permata Madina kemudian meluas secara geografis. Selain di Panyabungan, hadir pula RSU Permata Madina di Sibuhuan, Padang Lawas.
Dua titik di dua kabupaten belum otomatis menjadi jaringan. Tetapi ia adalah bukti
awal bahwa pengalaman kelembagaan Permata Madina telah bergerak melampaui
satu wilayah administratif.
Dan bukti berikutnya lebih menarik.
Dari Jejak Geografis ke Jejaring
Di Sibuhuan, RSU Permata Madina pernah bekerja sama dengan RSUD Sibuhuan
dalam pelayanan darah.
Kerja sama itu disebut telah berlangsung sejak 2022, antara lain karena Permata Madina tidak memiliki unit transfusi darah sendiri.
Di sini terlihat satu prinsip penting:
rumah sakit tidak harus memiliki semuanya untuk dapat melayani lebih baik.
Justru ketika satu kemampuan tidak tersedia, dibutuhkan rumah sakit lain.
Artinya, kekuatan pelayanan kesehatan dapat berada di banyak institusi, lalu
dihubungkan melalui rujukan dan kerja sama.
Jejak seperti ini juga bukan sepenuhnya baru. Dalam daftar jejaring Trauma Center
BPJS Ketenagakerjaan periode 2015–2016, RSU Permata Madina Panyabungan dan
Sibuhuan tercatat bersama sejumlah fasilitas kesehatan lain di kawasan, termasuk RSUD Padangsidimpuan.
Bukti-bukti itu memang berasal dari waktu dan konteks yang berbeda. Tetapi ketika
disusun, terlihat satu pola:
kehadiran → perluasan → kerja sama → jejaring.
Di titik inilah pembicaraan tentang Tabagsel mulai punya pijakan.Kebutuhan Kesehatan Tidak Mengenal SekatPasien tidak datang dengan bertanya, “Apakah penyakit saya termasuk Madina atau Palas?”Ia datang karena membutuhkan pertolongan.
Penyakit juga tidak mengenal batas Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padang
Lawas, Padang Lawas Utara dan Padangsidimpuan.
Yang mengenal batas adalah administrasi.
Kebutuhan kesehatan tidak.Bahkan pengembangan layanan jantung melalui Cath Lab RSUD Panyabungan pada
2026 telah dibaca pemerintah daerah dalam konteks kebutuhan masyarakat
Tabagsel yang selama ini harus menempuh perjalanan lebih jauh untuk
mendapatkan layanan tersebut.
Ini memberi pelajaran penting: kebutuhan layanan kesehatan memang dapat bersifat
regional, meskipun fasilitasnya berada di satu kabupaten.
Maka pembangunan kesehatan Tabagsel tidak cukup dengan logika setiap daerah
membangun rumah sakitnya sendiri.
Yang diperlukan adalah kemampuan yang saling terhubung.
Permata Madina di Mana?
Lalu, di mana posisi Permata Madina dalam arsitektur itu?Belum tepat menyebutnya sebagai sistem kesehatan regional.
Tetapi terlalu sempit pula jika 26 tahun perjalanannya hanya dibaca sebagai sejarah
sebuah rumah sakit di Panyabungan.
Ada jejak pelayanan di Mandailing Natal.
Ada jejak kelembagaan di Padang Lawas.
Ada pengalaman kerja sama lintas rumah sakit.
Ada pengalaman masuk dalam jejaring pelayanan.Ada pula perkembangan layanan yang terus menuntut hubungan dengan institusi lain.
Semua itu belum menjadi ekosistem.
Tetapi sudah merupakan modal menuju jejaring.Dan modal itulah yang menarik untuk diuji.

Tiga Pekerjaan Berikutnya,Pertama, memperkuat rumah sendiri. SDM, dokter spesialis, mutu, manajemen,teknologi dan keselamatan pasien harus semakin kokoh.
Kedua, mengubah kerja sama menjadi sistem. Bukan sekadar MoU, tetapi rujukan yang jelas, komunikasi dokter, pertukaran informasi dan kesinambungan perawatan.
Ketiga, menciptakan layanan bersama yang dibutuhkan kawasan. Telekonsultasi,
diskusi kasus, pendidikan tenaga kesehatan, berbagi kompetensi, bahkan pusat
layanan tertentu dapat dikembangkan sesuai kebutuhan.
Sebab jejaring bukan daftar nama rumah sakit.Jejaring adalah ketika kemampuan yang tersebar benar-benar dapat dipakai bersama oleh pasien.
Dari Rumah Sakit ke EkosistemInilah pelajaran terbesar dari 26 tahun Permata Madina.
Perjuangan pertama adalah menghadirkan rumah sakit.Perjuangan berikutnya memperkuat institusi.
Lalu memperluas jangkauan.Dan tahap yang lebih besar adalah mengubah kekuatan institusi menjadi kekuatan
jaringan.
Bukan menjadikan satu rumah sakit sebagai penguasa layanan kesehatan Tabagsel.
Justru sebaliknya: membangun beberapa simpul yang saling melengkapi.
Jika arah itu ditempuh, pengalaman 26 tahun Permata Madina tidak berhenti
sebagai sejarah satu institusi.
Ia dapat menjadi salah satu modal untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar:
Bisakah Tabagsel membangun ekosistem kesehatannya sendiri?
Tetapi sebuah jejaring tidak cukup hanya menghubungkan rumah sakit.Ia harus melahirkan kemampuan baru.

Maka pertanyaan untuk seri berikutnya:
Setelah rumah sakit berdiri dengan jaringanya, Permata Madina memasuki level selanjutnya.
Seri 4 dari 5 Artikel — The Next Level Permata Madina.
(Gugus Literasi Mandailing Epicentrum ).
Admin : Iakandar Hasibuan.SE.








