Trip Wisata Madina Dalam Seribu Testimoni

Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Perjalanan wisata ke Mandailing Natal bisa dimulai dari Jakarta.
Dan, cara menarik untuk melihat Madina justru dengan bertanya lebih dulu: “Bagaimana cerita tentang kesaksian orang setelah mereka sampai di Madina?”

Di situlah “seribu” testimoni bermula. Mulai dari kesaksian tentang bagaimana orang sampai ke Madina, apa yang dilihat, di mana mereka berhenti, apa yang mereka makan, apa yang membuat mereka terkesan, apa yang mengganggu perjalanan, apa yang mereka foto, lalu apa yang akhirnya mereka ceritakan kembali.

Metafora “seribu” ini merupakan upaya mengumpulkan suara-suara yang tercecer di ruang digital berupa: tulisan, foto, video, ulasan, catatan perjalanan, berita dengan kesaksian pengunjung, hingga pengalaman operator perjalanan.

Suara-suara itu menarik karena tidak semuanya berbicara tentang objek wisata.

Sebagian justru bercerita tentang perjalanan.
Dan di situlah cara melihat pariwisata Madina perlu digeser sedikit.

Bukan Sekadar Destinasi

Dalam teori experience economy, wisata tidak berhenti pada produk atau objek yang dikunjungi. Pengalaman menjadi bagian penting dari nilai yang dirasakan orang. Penelitian pariwisata yang menguji konsep Pine dan Gilmore, misalnya, membaca pengalaman melalui empat dimensi: hiburan, estetika, pendidikan dan pelarian dari rutinitas.

Karena itu, sebuah gunung tidak hanya berarti gunung.

Itu bisa berarti perjalanan menuju gunung, udara yang dirasakan, warung tempat berhenti, percakapan dengan warga, jalan yang dilalui, foto yang diambil, bahkan cerita yang dibawa pulang.

Madina tampaknya memiliki bahan yang berlimpah untuk itu.
Afiqah’s Journey, misalnya, mencatat perjalanan dari Sibolga menuju Padang melalui Padangsidimpuan, Panyabungan, Sibanggor Jae, Sibanggor Tengah, Sibanggor Julu dan Kotanopan.

Di Panyabungan ia berhenti makan. Perjalanan kemudian berlanjut ke kawasan Sorik Marapi dan sumber air panas.
Tidak ada satu objek tunggal yang menjadi seluruh cerita.
Perjalanannya sendiri adalah pengalaman.

Kisah pelancong yang naik bus ALS selama 67 jam juga merekam Kotanopan, Batang Gadis dan Panyabungan. Ada pula rekaman operator tentang dua wisatawan Jepang serta lima pengendara asal Perth yang melintasi koridor Sumatera menuju Panyabungan.

Karena bersumber dari operator, dua kisah terakhir lebih tepat dibaca sebagai rekaman perjalanan, bukan kutipan langsung wisatawan.

Pembedaan kecil ini penting.
Sebab “seribu testimoni” bukan berarti semua suara harus dipukul rata. Justru kualitas cerita ditentukan oleh siapa yang bercerita, dari posisi apa, dan berdasarkan pengalaman seperti apa.

Orang Singgah

Panyabungan bahkan sering muncul sebagai pengalaman orang yang singgah (stopover). Lalu, pergi ke tempat makan yang khas. Ke pasar untuk beli oleh-oleh unik. Pesantren atau makam untuk hasrat religius. Sungai untuk wudu’ atau sekedar mandi.

Di trip itu juga bisa menikmati lanskap perjalanan menuju puncak Sorik Marapi.
Ini menghasilkan satu fakta menarik:

Orang tidak selalu harus berniat menjadi wisatawan Madina untuk memperoleh pengalaman wisata di Madina.

Kadang mereka hanya lewat.
Tetapi perjalanan itu kemudian memberi kesan dalam yang berubah menjadi cerita. Dan, cerita yang beredar dapat menjadi bagian dari citra sebuah destinasi.

Kajian tentang user-generated content dalam pariwisata menunjukkan bahwa konten yang dibuat pengguna dapat ikut membentuk citra kognitif maupun afektif suatu destinasi, yang kemudian berkaitan dengan kepuasan pengalaman perjalanan.

Dengan kata lain, foto seorang pengunjung, cerita seorang pengendara, ulasan sebuah keluarga, atau video perjalanan seorang traveler bukan sekadar kenang-kenangan pribadi.

Itu bisa menjadi serpihan info promotif destinasi yang dibuat oleh pengalaman nyata.

Wajah Keluarga

Di trip wisata itu, ada juga tawaran pengalaman bersama keluarga atau menemui keluarga.

Liputan6 merekam Asriana Harahap dari Padangsidimpuan yang datang bersama keluarga besar ke Panatapan Panyabungan. Ia menyukai akses yang mudah, suasana sejuk dan kenyamanan bagi anak-anak.

Muhammad Andry dari Way Kanan, Lampung, terkesan pada bukit hijau, udara sejuk dan banyaknya spot foto istimewa.
Dua kesaksian ini memperlihatkan sesuatu yang sering luput ketika pariwisata dibicarakan hanya melalui daftar objek.

Yang dicari keluarga bukan semata-mata “apa yang ada”.
Mereka mencari apakah perjalanan itu nyaman untuk dijalani bersama.

Ada akses, ruang bermain, udara sejuk dan segar, tempat berhenti untuk sekedar selfi di bentang pemandangan.

Ada foto dan dokumentasi eksotik yang dibawa pulang sebagai kenangan testimonial.
Maka, pengalaman wisata sebenarnya dimulai sebelum seseorang tiba di objek wisata.

Rute Petualangan

Di destinasi Pastap Julu, pengalaman berubah lagi.
Di sana, banyak wisatawan lokal dan asing. Mereka bisa tubing, camping, air terjun, panjat tebing dan hiking.

Di sepanjang Sibanggor–Sorik Marapi, perjalanan bertemu desa, pegunungan dan sumber air panas.

Kotanopan menghadirkan wajah berbeda: perbukitan, Batang Gadis, sawah, perkebunan dan lubuk larangan.

Desa Wisata Sawah Sabarang, sekitar 52 kilometer dari Panyabungan, menawarkan hamparan sawah, sungai, air terjun, kuliner dan edukasi pertanian.

Di testimoni itu, Madina sebenarnya mempunyai modal yang lebih besar daripada sekadar destinasi dan spot foto.
Ada alur pengalaman. Lintasan dari kota ke desa. Jalan raya ke persawahan, sungai ke perbukitan, dan petualangan ke pengetahuan.

Pariwisata tidak harus memotong-motong semua itu menjadi objek yang berdiri sendiri.

Justru hubungan antarobjek itulah yang dapat menjadi pengalaman yang terasa utuh.

Eksotisme Pantai Barat

Kemudian perjalanan bergerak ke arah Pantai Barat. Masuk Natal, terus (Sing Qwang), Pantai Batu Badaun, dan Batu Ruso.

Tak butuh waktu lama, wisatawan bisa juga kembali ke Natal dan menuju arah selatan. Di sana, Batahan menawarkan wisata alam yang historis mercuar tua di Pulau Tamang.

Jika hendak bikin rekaman rasa, silakan catat cerita tentang pantai, suasana asri, warung-warung bersahaja dan matahari terbenam (sunset) yang mungkin sedang menakjubkan.

Silakan catat sebagai kritik halus, tentang akses jalan yang kadang butuh waktu dan perjuangan.

Seorang pengunjung bernama Kholid, bahkan mengajak wisatawan datang ke Pulau Tamang dan menyebut kawasan itu ramai dikunjungi wisatawan lokal pada hari libur.

Ini tentu menarik. Menggairahkan. Menguatkan hasrat untuk sampai ke pengalaman dan rasa spesial.

Wahana Air

Wisata air menambah warna lain. Semuanya memberi bahan testimoni: rasa.

Bokeh pilih Hutaraja dengan pemandian air panas yang terus mengalir. Air terjun Sigalagala dan Simatutung.

Sopotinjak pun bukan hanya lokasi puncak yang sejuk. Di suasana itu, ada kuliner biasa yang terasa luar biasa.
Dan berbagai pemandian alam mulai dari Pintu Air dan Batubontar di sisi timur Kota Panyabungan.

Jejak pengunjung berbicara tentang air, persawahan, warung, musala, pondok dan lingkungan yang nyaman.
Sekali lagi, pengalaman tidak berhenti pada air.

Yang ingin merasakan denyut kehidupan sosial di sekitarnya, bisa mampir dan menginap (moncot) di desa kaya budaya.
Jadi, makin lengkap suasananya: makanan, keluarga, ibadah, percakapan dengan tetua dan pemuda (naposo-nauli bulung) desa.

Ada lanskap desa yang landai, tempat rumah tampak bertingkat-tingkat.

Objek wisata adalah titik. Pengalaman adalah garis yang menghubungkan titik-titik itu.
Dan semakin banyak garis yang dapat dirangkai, semakin utuh sebuah destinasi terbaca.

Khasanah Ziarah

Lalu Madina memiliki pengalaman yang tidak dapat dipisahkan dari ziarah. Dari ujung ke ujung bertebaran situs religi bersejarah.

Silakan mengawalinyandari Purba Baru, Muara Mais, Hutapungkut dan Sabadolok.

Jika posisinya sudah Kota Panyabungan, pergilah 1-2 kilometer ke arah timur. Ada Kotasiantar yang menjadi lokasi makam sejumlah ulama, termasuk yang masyhur Syekh Abdul Fattah Mardia (Pagaran Sigatal/Al-Mandili).

Di Natal, ada pula makam guru Syekh Abdul Fattah Al-Mandili bernama sama, Syekh Abdul Fattah Natal.

Berbagai makam ulama membawa perjalanan kepada pengalaman spiritual dan historis.

Di antara jejak yang diberitakan terdapat makam Syekh Mustafa Husein, Syekh Abdul Wahab Lubis, Syekh Sulaiman Al-Kholidi, Syekh Abdul Hamid dan Syekh Muhammad Hasan.

Di Teluk Mambang, Natal, perjalanan menuju makam zurriyah Sayyid Baqibillah al-‘Alawi bahkan menjadi pengalaman tersendiri.
Jalan tanah sekitar dua kilometer, kebun dan hutan.
Makamnya, ada di tepi laut. Saat ziarah, terasa hembusan angin laut, suara burung dan deburan ombak.

Di sini, tema ziarah, sejarah, spiritualitas, alam dan laut bertemu.

Ini adalah perjalanan makna, rasa.

Rasa Budaya

Budaya pun tidak berhenti pada bangunan.

Berkunjung ke Tamiang, di Kecamatan Kotanopan, membawa wisatawan memasuki jejak Harajaon Tamiang dan tradisi adat Mandailing Julu.

Catatan etnomusikologi merekam peneliti yang datang ke sana dan berbincang dengan warga tentang musik tradisional, termasuk gordang tano dan ritual mangido udan.

Lalu muncul pertanyaan kecil yang justru dapat membuka perjalanan lebih jauh:

Mengapa nama Tamiang juga muncul di Aceh?

Di Aceh Tamiang memang terdapat komunitas Mandailing, termasuk keluarga campuran Mandailing–Aceh dan Mandailing–Jawa yang tercatat dalam penelitian kebahasaan.

Apakah kesamaan nama Tamiang mempunyai hubungan dengan migrasi, bahasa atau sejarah?

Belum cukup bukti untuk menyimpulkannya. Tetapi justru di situlah menariknya. Wisata tidak selalu harus berangkat dari jawaban. Kadang ia dimulai dari pertanyaan. Karena itulah, wisata spertiritual dapat membawa orang kepada kosmologi masyarakat.

Sebuah makam dapat membawa orang kepada sejarah ulama.

Sebuah sungai dapat membawa orang kepada cerita ekologis.
Madina dengan demikian bukan hanya tempat untuk dilihat.
Ia tempat untuk dibaca.

Cermin Rasa

Di sinilah konsep “seribu testimoni” menjadi lebih penting.

Kajian tentang electronic word of mouth atau e-WOM menunjukkan bahwa cerita digital antarpengguna mempunyai berbagai jalur pengaruh terhadap persepsi, sikap dan keputusan perjalanan.

Artinya, ruang digital sekarang bukan hanya papan pengumuman pariwisata.
Ia sudah menjadi semacam cermin destinasi yang memantulkan apa yang sudah dirasakan di Madina.

Trip Melingkar

Inilah yang membuat gagasan trip melingkar seakan menawarkan satu paket wisata resmi. Bukan promosi penerbangan. Melainkan cara membaca Madina sebagai satu bentang perjalanan.

Masuk melalui satu gerbang.
Mengalami berbagai wajah Madina.

Keluar melalui gerbang yang berbeda.
Perubahan konektivitas udara membuat gagasan itu semakin mungkin.

Sejak 1 Agustus 2026, Wings Air membuka rute Kualanamu–Bandar Udara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution (JHN) dan sebaliknya tiga kali seminggu, setiap Selasa, Kamis dan Sabtu. Maskapai juga menyebut Kualanamu sebagai penghubung bagi perjalanan lanjutan dari dan menuju Madina.

Dengan begitu, perjalanan dari Jakarta tidak harus masuk dan keluar melalui pintu yang sama.
Misalnya:

Jakarta ✈ Padang → Panyabungan → jelajah Madina → JHN ✈ Kualanamu → Jakarta.

Atau:

Jakarta ✈ Kualanamu → JHN → Panyabungan → jelajah Madina → Padang → Jakarta.

Ini bukan sekadar perubahan moda transportasi.

Ini perubahan cara membaca ruang.

Sebuah daerah mungkin dipahami sebagai satu destinasi dengan satu pintu. Masuk dan keluarvdari pintu yang sama.
Sekarang, ketika konektivitas memungkinkan, Madina dapat dibaca sebagai simpul dalam jaringan perjalanan Sumatera.

Dan, Panyabungan memperoleh posisi yang semakin menarik sebagai basis perjalanan: ibu kota kabupaten, titik persilangan berbagai pengalaman dan tempat wisatawan menyusun kembali perjalanan berikutnya.

Data BPS Sumatera Utara bahkan mencatat 53.252 perjalanan wisatawan nusantara menuju Madina pada Januari 2026, 49.728 pada Februari, 108.231 pada Maret, 65.666 pada April dan 53.934 pada Mei. Angka ini bukan otomatis berarti seluruhnya wisatawan yang datang khusus untuk berwisata, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa arus perjalanan ke Madina sudah dapat dibaca sebagai fenomena mobilitas yang nyata.

Wisatawan bisa mengalami dan merasakan Madina untuk selanjutnya menjadi alasan untuk melakukan perjalanan melingkar berikutnya.

Di situlah pariwisata berubah dari daftar objek menjadi ekosistem pengalaman. Madina akhirnya bukan sekadar sebuah tujuan.

Ia sebuah perjalanan.

Kritik Menggigit

Memang testimoni tidak selalu berarti pujian.

Keluhan tentang parkir, kebersihan, fasilitas atau pengelolaan juga merupakan bagian dari pengalaman wisata yang sebenarnya. Ada kalanya, Pemerintah Daerah setempat jadi lebih respek karena wisatawan juga kasih saran atau kritik yang menggigit.

Bahkan secara komunikasi, kritik semacam itu lebih berguna daripada pujian kosong. Itu menunjukkan bagian mana dari pengalaman yang belum selesai.

Karena itu, “seribu testimoni” tidak berarti seribu kalimat “Madina indah, Madina hebat.”
Kalimat seperti itu terlalu murah. Yang lebih berharga justru cerita eksotisnya:

Indahnya di mana, ditempuh melalui jalan apa, berhenti di mana, membayar berapa, makan apa, bertemu siapa, nyaman atau tidak, lalu apa yang membuat orang ingin datang kembali. Mungkin ini terasa dahsyat.

Horizon Tauhid

Pada akhirnya, perjalanan bukan sekadar perpindahan tubuh.

Jalan, gunung, sungai, sawah, laut, kampung dan kebudayaan adalah tanda-tanda yang dapat membawa manusia kepada syukur dan pengenalan kepada Sang Pencipta.

Karena itu, pengalaman wisata tidak harus berhenti pada kamera.

Foto boleh menjadi kenangan. Cerita boleh menjadi promosi. Perjalanan telah menjadi pengalaman.

Tetapi semuanya dapat menjadi lebih tinggi ketika manusia yang melihat alam akhirnya juga melihat tanda-tanda kebesaran Allah di balik alam itu.

Madina memiliki alam, kebudayaan dan sejarah dalam trip wisata sejuta testimoni. Tetapi nilai terdalamnya bukan sekadar apa yang berhasil dipotret seorang traveler. Melainkan apa yang dibawa pulang setelah perjalanan selesai:

Apakah manusia menjadi lebih bersyukur, lebih mengenal ciptaan-Nya, dan akhirnya lebih mengenal Allah.

Itulah perjalanan yang tidak selesai ketika kendaraan berhenti. (*)

Catatan: Penulisan kripis ini menggunakan bantuan AI dan merujuk pada berbagai sumber.
(Gugus Literasi Mandailing Epicentrum)

Admin : Iskandar Hasibuan.SE.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    KOTANOPAN MEMANAS, WPR/IPR HARUS DIBUKA JALANNYA

    Ada yang terbakar di Kotanopan. Bukan hanya ekskavator dan kotak penyaringan emas. Yang sebenarnya sedang terbakar adalah kesabaran masyarakat menghadapi konflik tambang yang tak kunjung menemukan jalan keluar. Waspada.id memberitakan,…

    Read more

    Continue reading
    Ekscavator Dibakar Warga , Tujuh Anggota DPRD Dapil Madina II Jangan Bungkam

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) Genta Madina & Merpati Putih Tabagsel, mendesak Tujuh(7) Anggota DPRD Dapil Madina II, Untuk angkat bicara sekitar peristiwa Pembakaran Ekscavator milik Penambang Emas di DAS…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses