Tiga Belas Tahun Malintang Pos: Menggalang Kolaborasi, Merangkai Sinergi

Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Ada media yang lahir karena bisnis. Ada yang lahir karena idealisme jurnalistik. Ada pula yang lahir dari pengalaman panjang membaca daerah.
Malintang Pos agaknya berada di antara ketiganya.

Jejak 13 tahunnya menarik dibaca bukan semata sebagai perjalanan sebuah perusahaan media, tetapi sebagai perjalanan seseorang dan institusi dalam menemukan bentuk pengabdian melalui media.

Pendiri Malintang Pos, Iskandar Hasibuan, pernah menjadi wartawan Harian Waspada sekaligus anggota DPRD Madina satu periode (2009-2014). Setelah itu, ia memilih kembali ke dunia media dengan menerbitkan koran lokal yang sekaligus ingin menjangkau pembaca regional Sumatera Utara.

Nama yang dipilih pun bukan nama yang dibuat agar terdengar besar: Malintang Pos — nama desa asalnya.

Di situ ada pesan sederhana: media boleh bergerak ke mana-mana, tetapi identitas tidak harus dicabut dari akar.
Dari koran mingguan, Malintang Pos kemudian menjalani perjalanan yang tidak selalu lurus. Kadang berseberangan dengan Pemerintah Kabupaten Madina.

Kadang bekerja sama. Bahkan pernah mengalami fase ketika medianya ditolak di lingkungan pemerintahan.

Tetapi justru di situlah salah satu ukuran umur sebuah media: mampukah ia bertahan ketika hubungan dengan kekuasaan tidak selalu nyaman?

Malintang Pos tidak hanya mengurus berita.
Pernah ada upaya melembagakan pelatihan calon reporter. Di ruang redaksi juga pernah dibangun desk khusus Pusat Data dan Informasi Dana Desa.
Ini menarik.

Sebab media pada titik itu mulai bergerak dari sekadar pabrik berita menjadi institusi yang mencoba membangun kapasitas pengetahuan.

Dana desa bukan hanya berita. Ia membutuhkan data, penelusuran, kemampuan membaca dokumen dan pemahaman atas kehidupan desa.
Artinya, redaksi mulai mencoba membangun ototnya sendiri.
Lalu jangkauan diperluas.

Malintang Pos tidak lagi hanya berbicara tentang Madina. Beberapa kantor perwakilan dibangun di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Utara.
Nama Madina dibawa keluar.

Tetapi bersamaan dengan itu, PT Malintang Pos juga terus diperkuat secara kelembagaan. Belum sampai pada fase mandiri secara finansial, mungkin. Namun bertahan selama 13 tahun dalam industri media yang terus berubah sendiri sudah merupakan modal institusional yang tidak kecil.

Sebab media hari ini bukan hanya berhadapan dengan media lain.
Ia berhadapan dengan Facebook, TikTok, YouTube, WhatsApp, algoritma, influencer, citizen journalism, bahkan kecerdasan buatan.

Di tengah booming media online, Malintang Pos justru tidak buru-buru meninggalkan koran cetaknya.
Versi cetak dipertahankan dengan periodisasi yang lebih rendah.

Kemudian, ketika waktunya tiba, lahirlah versi online dengan bendera Malintang Pos Group.

Ini bukan sekadar perpindahan platform.
Ini adalah proses adaptasi.
Koran tidak lagi harus mati hanya karena internet datang. Sebaliknya, pengalaman jurnalistik yang dibangun melalui cetak dapat menjadi modal memasuki ruang digital.

Dan ada satu kebiasaan Malintang Pos yang menarik untuk dibaca lebih jauh: HUT tahunan.

Ia bukan sekadar seremoni ulang tahun.
Ada pemberian award kepada tokoh-tokoh genuin yang berprestasi di Madina. Ada ruang penghargaan terhadap orang-orang yang bekerja dan memberi arti bagi daerah.
Pada saat yang sama, HUT menjadi ruang untuk terus memperkuat hubungan dengan media-media lain yang berbasis di Madina.
Di sinilah perjalanan 13 tahun itu mulai menemukan bentuk baru.

Dari media, menuju jaringan media.
Dari mempertahankan perusahaan, menuju membangun ekosistem.

Maka tema HUT ke-13 tahun ini terasa bukan sekadar slogan:
Kolaborasi Media, Sinergi Madina.
13 Tahun Malintang Pos: Menggalang Kolaborasi dan Merangkai Sinergi.
Kata menggalang penting.

Sebab kekuatan media Madina sebenarnya tidak berada pada satu media saja.
Ada media yang kuat di lapangan. Ada yang kuat di digital. Ada yang memiliki jaringan wartawan. Ada yang dekat dengan komunitas. Ada yang punya pengalaman panjang. Ada yang lincah membaca isu baru.

Kalau semua berdiri sendiri, kekuatannya terpecah.Tetapi kalau dirangkai, terbentuk sesuatu yang lebih besar: ekosistem informasi Madina.

Di sinilah kolaborasi tidak berarti semua media harus kehilangan identitasnya.
Sebaliknya.

Kompetisi menjaga kualitas. Kolaborasi memperbesar dampak.Malintang Pos memasuki usia ke-13 dengan pengalaman yang cukup untuk membaca perubahan itu.
Dari wartawan yang pernah masuk parlemen, menjadi penerbit koran lokal. Dari nama desa menjadi nama media.

Dari koran mingguan menjadi grup media. Dari hubungan yang kadang berjarak dengan pemerintah, menuju ruang-ruang sinergi. Dari membangun redaksi sendiri, menuju membuka kemungkinan bekerja bersama media lain.

Perjalanan itu menunjukkan satu hal: media yang ingin bertahan bukan hanya media yang mampu menghasilkan berita, tetapi media yang mampu membaca perubahan lingkungan tempat ia hidup.
Dan Madina sedang membutuhkan itu.
Bukan semakin banyak media yang hanya saling mengulang berita.

Tetapi semakin banyak media yang mampu membagi peran, berbagi data, memperluas jaringan, mengangkat persoalan bersama dan mempertemukan berbagai kekuatan daerah.

Karena pada akhirnya, pertanyaan penting media bukan lagi:
“Media siapa yang paling besar?”
Melainkan:
“Apa yang bisa kita kerjakan bersama untuk membuat Madina lebih terbaca, lebih terkoneksi dan lebih bergerak?”
Mungkin di situlah makna sebenarnya 13 tahun Malintang Pos.
Bukan hanya bertahan.
Tetapi mulai belajar merangkai.

Dan kalau serpihan-serpihan kekuatan media Madina berhasil dirangkai, yang lahir bukan sekadar kolaborasi antarmedia.
Yang lahir adalah kekuatan informasi untuk Madina.

Foto Hanya Pemanis Berita

Di titik itu, HUT ke-13 Malintang Pos tidak lagi sekadar perayaan usia.
Ia bisa menjadi titik berangkat sebuah ekosistem.

Kolaborasi Media. Sinergi Madina. Tiga Belas Tahun Malintang Pos: Menggalang Kolaborasi, Merangkai Sinergi

Admin : Dita Risky Saputri.SKM.

 

 

 

 

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Penabrak Wartawan Diamankan, Ketua IJEN Sumut Ucapkan Terimakasih Kepada Kasatlantas Polres Madina

      PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Jurnalis Independen (IJEN) Sumatera Utara, Ismed Harahap,mengucapkan Terima Kasih Kepada Kapolres dan Kasat Lantas Polres Madina, Iptu.Sumardi.SH,Atas Gerak Cepat Mengamankan Terduga…

    Read more

    Continue reading
    SMSI Madina Apresiasi Gerak Cepat Kasat Lantas Iptu Sumardi Ungkap Kasus Tabrak Lari Wartawan M. Rusdi Batubara

    PANYABUNGAN(Malintangpos Onlibe): Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Mandailing Natal memberikan apresiasi tinggi kepada Kasat Lantas Polres Madina, Iptu Sumardi atas gerak cepat (gercep) dalam mengungkap dan menangkap pelaku tabrak…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses