Indah Annisa : ” Mengapa Harus Saya..? “

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Indah Annisa, inilah pertanyaan yang harus dijawab sebelum melangkah menuju kursi Ketua DPD Partai Golkar Madina.
Jangankan kader lain yang tidak berambisi menjadi ketua, ayahnya sendiri, H. Aswin Parinduri, yang kini memimpin Golkar Madina sekaligus menjadi anggota DPRD Sumatera Utara, secara wajar dapat mengajukan pertanyaan serupa: mengapa harus Indah yang memimpin Golkar berikutnya?
Indah tentu tidak cukup menjawab dengan menyebut dirinya lahir di Tamiang, menempuh pendidikan di Matauli dan USU, meraih gelar magister manajemen, mengikuti pendidikan politik Golkar Institute, lalu menjadi Wakil Ketua DPRD Madina.
Semua itu bagian dari perjalanan, tetapi belum dengan sendirinya menjadi alasan untuk memimpin.
Pertanyaan yang lebih besar justru menunggu: apa yang dipikirkan Indah tentang masa depan Golkar Madina?
Golkar tidak cukup hanya memiliki struktur sampai desa, sekolah kader, sistem keanggotaan digital, serta ruang bagi anak muda dan perempuan.
Semua itu merupakan perangkat. Yang perlu dijelaskan ialah bagaimana perangkat tersebut menjawab perubahan masyarakat, memperkuat kepercayaan publik, dan membuat kehadiran Golkar semakin bermakna.

Pasar suara Madina menuju 2029 juga tidak cukup dibaca sebagai hitungan kursi. Di sana ada perubahan kebutuhan ekonomi, aspirasi generasi muda, persoalan desa, harapan perempuan, serta tuntutan agar partai hadir melampaui musim pemilu.
Maka, jika Indah menjawab mengapa harus saya, jawabannya harus memperlihatkan cara ia membaca perubahan itu, menentukan prioritas, dan menerjemahkannya menjadi kerja politik yang terukur.
Bukan karena ia anak ketua. Bukan pula semata-mata karena ia muda, berpendidikan, atau telah menduduki jabatan publik. Semua itu dapat menjadi modal, tetapi modal bukanlah hasil.
Sebagai Alternatif
Pertanyaan itu menuntut Indah menjelaskan apa yang ingin ia ubah, bagaimana ia akan mengubahnya, dan bagaimana kader dapat menguji hasilnya.
Sebab, kursi ketua bukan hadiah atas perjalanan masa lalu. Ia adalah amanah untuk menjawab tantangan masa depan.

Dan, sebagai alternatif, Indah memiliki dimensi yang berbeda, yang mungkin lebih sinergis untuk momentumnya. (Bersambung Terus)
Admin : Iskandar Hasibuan..








