DUO PEMIMPIN — INDAH & MIFTAH: JEJAK KADER DAN ARAH GERAK

Mengeja Puzzle Pemuda Daerah Dari Jakarta, Bercermin pada Kasus Madina

Artikel Kripis — Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Dari konsistensi kaderisasi partai hingga ujian kepemimpinan di gedung dewan, dua perjalanan ini mengantar kita pada pertanyaan yang lebih besar: Apakah Madina sedang menyiapkan generasi penerus atau sekadar menyaksikan pergantian orang di kursi kekuasaan?

Pada seri sebelumnya, kita membaca tiga lintasan pembentukan diri: aktivisme mahasiswa dan kaderisasi organisasi, pengabdian organisasi daerah yang berlanjut ke kemandirian ekonomi, serta persilangan profesi jurnalistik dengan organisasi sosial dan politik.

Kini, perhatian beralih kepada dua sosok muda yang berada di ruang legislatif Mandailing Natal: Miftahul Falah Nasution dan Indah Annisa Parinduri.

Keduanya datang melalui jalur berbeda. Yang satu memperlihatkan konsistensi dalam organisasi dan partai, sementara yang lain harus mengembangkan kapasitas kepemimpinan melalui pengalaman profesional, pendampingan kerja politik, pendidikan, dan adaptasi sosial.

Dari sini, kita bisa membaca satu persoalan mendasar: Bagaimana pengalaman yang berbeda berubah menjadi kemampuan memimpin?

Indah Annisa: Tumbuh Lebih Tangguh

Indah Annisa Parinduri, S.E., M.M., menghadirkan cerita yang berbeda. Pada usia yang relatif muda, ia memperoleh kepercayaan menjadi Wakil Ketua DPRD Madina sekaligus representasi Partai Golkar dalam pimpinan lembaga legislatif.

Posisi itu menuntut lebih dari sekadar pengetahuan tentang partai. Dalam sistem pimpinan yang kolektif-kolegial, ia harus bekerja bersama pimpinan lain, berhadapan dengan tujuh fraksi, mengoordinasikan agenda kelembagaan, serta memimpin persidangan ketika mendapat giliran.

Pada masa awal menjabat, muncul pertanyaan tentang kapasitasnya menghadapi kompleksitas kerja tersebut. Pertanyaan semacam itu tidak asing bagi perempuan muda yang memasuki ruang politik yang selama ini banyak didominasi laki-laki.

Namun, kapasitas kepemimpinan tidak semestinya dinilai hanya dari usia, jenis kelamin, atau persepsi awal. Pengujian yang lebih masuk akal ialah bagaimana seseorang belajar, beradaptasi, mengambil keputusan, dan menjalankan tanggung jawabnya.

Alumni SMP Negeri 1 Kotanopan ini memiliki bekal pengalaman yang tidak sepenuhnya berasal dari organisasi kemahasiswaan. Semasa kuliah, ia berfokus menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana dan magister. Di luar kegiatan akademis, ia membantu pekerjaan di perusahaan keluarga, termasuk urusan administrasi dan manajemen keuangan.

Ketika ayahnya, H. Aswin Parinduri, menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Sumatera Utara, pengalaman Indah semakin bersinggungan dengan pekerjaan politik. Dia membantu tugas-tugas kepartaian dan mendampingi sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penyerapan aspirasi masyarakat.

Perjalanan itu memberinya kesempatan melihat bagaimana persoalan warga berhubungan dengan kerja politik. Juga belajar beradaptasi melalui interaksi langsung dengan masyarakat di rumah warga, lopo kopi, dan berbagai ruang perjumpaan sosial.

Di luar pengalaman tersebut, Indah pun mengikuti pendidikan kepemimpinan politisi muda di Golkar Institute.

Rangkaian itu penting dibaca secara proporsional. Dukungan keluarga dapat membuka akses terhadap lingkungan politik, tetapi tidak dengan sendirinya menjamin kemampuan memimpin. Pendidikan juga tidak otomatis melahirkan kematangan. Keduanya baru menjadi bekal ketika seseorang mampu mengolah pengalaman, mengambil tanggung jawab, dan menunjukkan hasil kerja.

Kini, ketika namanya masuk dalam dinamika pencalonan Ketua DPD Golkar Madina pada Musda 2026, tantangan kepemimpinannya semakin kompleks. Pertanyaannya bukan hanya apakah ia siap menerima tanggung jawab tambahan, melainkan bagaimana dia membangun kapasitas, memperoleh kepercayaan, dan menghadapi perbedaan di dalam organisasi.

Dalam konteks itu, pertanyaan “Mengapa harus saya?” — sebagaimana dilansir Malintang Pos, makin menarik. Bukan sebagai keraguan yang harus ditutupi, tetapi sebagai pintu refleksi tentang bekal, tanggung jawab, dan alasan seseorang bersedia memimpin.

Miftahul Falah: Konsistensi Modal Bertumbuh

Miftahul Falah Nasution, politisi muda Partai Kebangkitan Bangsa, kini mendapat amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Madina. Jejak organisasi yang terlihat dalam catatan yang tersedia terutama berada di lingkungan PKB dan organisasi sayapnya, Gerakan Pemuda Kebangkitan Bangsa (Garda Bangsa).

Anggota dewan dua periode ini menempuh proses kepartaian dari tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) hingga Dewan Pengurus Cabang (DPC). Dalam berbagai momentum politik, termasuk pemilihan legislatif dan pilkada, ia terlibat dalam banyak aktivitas partai sebelum kemudian memperoleh kepercayaan menduduki posisi Pimpinan DPRD.

Di sisi lain, putra asli Panyabungan Julu ini tergolong ulet dalam bisnis. Selain sempat membangun usaha swalayan yang berawal dari warung sembako rumahan, Miftah Nasution juga banyak mengerjakan proyek pembangunan.

Dari kegiatan usaha itu, dia juga punya ketertarikan untuk memasuki organisasi pengusaha. Namun, kita belum menemukan jejaknya di Gapensi, Gapeknas atau Apindo.

Perjalanan dua warna tersebut memperlihatkan arti penting konsistensi. Dalam organisasi, seseorang tidak hanya belajar menyampaikan gagasan, tetapi juga mengenal mekanisme kerja, membangun hubungan, memahami keputusan kolektif, dan menghadapi dinamika internal.

Konsistensi tentu bukan jaminan otomatis bagi kematangan kepemimpinan. Seseorang yang lama berada di dalam organisasi tetap harus membuktikan kemampuannya membaca persoalan di luar organisasi itu sendiri.

Namun, proses bertahap memberi kesempatan untuk mengenali lingkungan, memahami tanggung jawab, dan memperluas pengalaman. Inilah modal yang dapat dikembangkan Miftahul Falah dalam menjalankan tugasnya di lembaga legislatif.

Sebagai pimpinan DPRD, tantangannya tidak lagi sebatas menjaga konsistensi terhadap partai. Ia juga harus ikut memastikan bahwa fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan berjalan untuk kepentingan masyarakat luas.

Di titik inilah kaderisasi diuji: apakah loyalitas organisasi dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab kepada publik?

Merangkai Ekosistem Kaderisasi

Miftahul Falah dan Indah Annisa tidak perlu dibandingkan untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Keduanya memperlihatkan jalur belajar yang berbeda: konsistensi dalam organisasi dan partai di satu sisi, serta pengembangan kapasitas melalui pendidikan, pengalaman profesional, pendampingan kerja politik, dan adaptasi sosial di sisi lain.

Dari dua perjalanan ini, kita bisa kembali kepada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah organisasi politik di Madina sudah berfungsi sebagai sekolah kepemimpinan? Apakah kader muda memperoleh ruang untuk belajar sebelum menerima jabatan? Apakah mereka dibiasakan berdialog dengan masyarakat, memahami persoalan kebijakan, dan mempertanggungjawabkan keputusan?

Pertanyaan itu tidak hanya berlaku bagi PKB dan Golkar. Semua organisasi politik, organisasi kepemudaan, lembaga pendidikan, dan komunitas masyarakat perlu mengujinya pada diri masing-masing.

Dalam perspektif teori kepemimpinan, regenerasi yang sehat tidak berhenti pada penyiapan orang untuk menggantikan pemimpin lama. Regenerasi juga menuntut transfer pengetahuan, pembagian pengalaman, kesempatan menguji kemampuan, serta ruang bagi generasi baru untuk mengembangkan cara kerja yang lebih baik.

Kita tidak sedang menyusun peringkat berdasarkan jabatan, gelar, atau popularitas. Kita sedang berusaha memahami bagaimana seseorang dibentuk dan bagaimana organisasi memberi kesempatan untuk bertumbuh.

Pada akhirnya, keberhasilan kaderisasi bukan hanya soal berapa banyak kader yang berhasil duduk di kursi strategis. Ukuran yang lebih penting ialah seberapa baik mereka menjalankan amanah dan seberapa banyak orang lain yang berhasil mereka siapkan untuk meneruskan pekerjaan.

Lima sosok yang kita telusuri dalam dua seri ini bukan akhir cerita kepemudaan Madina. Mereka adalah pintu masuk untuk membaca proses yang telah berlangsung, mengenali kekuatan dan keterbatasan pola kaderisasi, serta memikirkan masa depan kepemimpinan daerah.

Madina tidak cukup membutuhkan pemimpin muda. Madina membutuhkan sistem yang terus melahirkan pemimpin, menguji kapasitasnya, dan memastikan bahwa regenerasi tidak berhenti pada pergantian nama di kursi kekuasaan. (*)

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    TP PKK Madina Gelar Rapat Evaluasi dan Tindak Lanjut Program

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online):Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menggelar rapat evaluasi dan rencana tindak lanjut program pada tahun 2027. Rapat tersebut berlangsung di Pendopo Rumah…

    Read more

    Continue reading
    Pemkab Madina dan PT SMGP Kolaborasi Bangun Fasilitas Air Bersih di Sipapaga

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online):Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) dan PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) berkolaborasi membangun fasilitas air bersih di Desa Sipapaga, Kecamatan Panyabunyan. Kolaborasi itu berupa pembuatan sumur bor…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses