Satu Nafas, Satu Arah dan Satu Target
Bulan Pemuda — Mengeja Puzzle Potensi Pemuda dalam Perspektif Jakarta, Bercermin pada Kasus Madina

Tiga versi KNPI, dua utusan kandidat mulai bergerak, satu Musda yang masih mungkin berubah arah. Di tengah itu, Ansor menyimpan kritik, Pemuda Pancasila memberi warna, dan Bobby Burhanuddin Nasution mulai mencuri perhatian lewat komunikasi yang lebih terbuka.
Musda KNPI Mandailing Natal mulai menarik untuk dibaca bukan hanya sebagai kontestasi pemilihan ketua, tetapi juga sebagai ujian apakah organisasi kepemudaan ini mampu keluar dari fragmentasi yang selama ini membelitnya.
Dua utusan yang mengaku datang atas perintah kandidat disebut telah merapat ke panitia. Ini memberi sinyal bahwa kontestasi mulai bergerak, meskipun belum cukup untuk menyimpulkan bahwa peta calon dan dukungan sudah terbentuk secara definitif.
Nama Bobby Burhanuddin Nasution telah muncul ke ruang publik sebagai salah satu figur yang siap maju. Sementara itu, nama Ardiansyah dari lingkungan Ansor dan Awaluddin dari lingkungan Satma Pemuda Pancasila juga masuk dalam radar pembacaan politik kepemudaan Madina. Namun, kemunculan nama dan pergerakan awal belum otomatis berarti ketiganya telah mendaftarkan diri secara resmi.
Ada informasi lain dari sumber yang dinilai cukup mengetahui perkembangan Musda: pola dan arah pelaksanaan masih mungkin berubah. Karena itu, membaca kontestasi sekarang sebagai pertandingan dengan formasi tetap tentu terlalu dini. Perkembangan jalur koordinasi, keputusan panitia, dan komunikasi antarkelompok pemuda masih bisa mengubah peta.
Ansor: Mengapa Harus Ikut?
Salah satu hal yang menarik justru datang dari lingkungan Ansor Madina. Seorang sumber di organisasi tersebut menyampaikan bahwa Ansor tidak tertarik terlibat dalam Musda KNPI, dengan alasan KNPI dinilai terlalu banyak dikendalikan pemerintah dan dalam praktiknya kesulitan bergerak tanpa dukungan APBD.
Pernyataan itu perlu dibaca sebagai kritik terhadap model kelembagaan, bukan sekadar sikap terhadap seorang kandidat.
Jika benar organisasi kepemudaan merasa KNPI terlalu bergantung pada pemerintah, persoalannya jauh lebih mendasar daripada siapa yang akan menjadi ketua. Sebab, organisasi yang seharusnya menjadi ruang artikulasi kepentingan pemuda berisiko kehilangan daya kritis ketika keberlangsungan programnya terlalu bergantung pada sumber daya pemerintah.
Tentu, sinergi dengan pemerintah bukan sesuatu yang harus ditolak. Dukungan anggaran dan fasilitas publik dapat membantu program kepemudaan berjalan. Namun, sinergi berbeda dari ketergantungan. KNPI perlu membuktikan bahwa ia sanggup menyusun agenda, menghimpun sumber daya, dan bergerak atas prakarsa organisasi sendiri.
Di sinilah pertanyaan Ansor menjadi relevan: jika dukungan APBD tidak tersedia, apakah KNPI masih mampu bekerja?
Pemuda Pancasila: Warna yang Tidak Bisa Diabaikan
Lingkungan Pemuda Pancasila juga memberi nuansa tersendiri dalam kontestasi ini. Sejumlah figur berlatar organisasi tersebut menjadi bagian dari percakapan mengenai calon dan kemungkinan formasi kepengurusan.
Walaupun peran dan hak suara masing-masing unsur harus tetap merujuk pada aturan Musda yang berlaku, pengaruh politik organisasi tidak selalu berhenti pada jumlah suara. Jejaring, kemampuan mengonsolidasikan kader, komunikasi, dan daya membangun koalisi dapat ikut membentuk suasana kontestasi.
Karena itu, PP tidak perlu diposisikan semata-mata sebagai penghitung suara. Kehadirannya dapat menjadi bagian dari dinamika yang menentukan apakah Musda bergerak menuju kompromi dan kolaborasi atau kembali terjebak dalam pertarungan blok.
Bobby dan Seni Membuka Pintu
Di antara nama yang mulai muncul, Bobby tampaknya lebih terbuka dalam komunikasi dan menunjukkan kesiapan dari sisi pembiayaan. Ini merupakan kesan awal dalam pembacaan kontestasi, bukan kesimpulan bahwa ia sudah unggul atau paling mampu memimpin.
Keterbukaan komunikasi merupakan modal penting dalam organisasi yang sedang menghadapi persoalan kepercayaan. Kandidat yang mudah ditemui, bersedia mendengar, dan terbuka membicarakan rancangan kepengurusan berpeluang membangun hubungan lebih luas dengan OKP.
Namun, keterbukaan finansial juga harus dibaca secara proporsional. Kemampuan membiayai kegiatan awal tidak sama dengan kemampuan membangun organisasi yang sehat dan berkelanjutan. Yang lebih penting ialah bagaimana kandidat menjelaskan sumber daya, mekanisme pertanggungjawaban, dan model pembiayaan program setelah Musda.
Jangan sampai Musda berhasil diselenggarakan, tetapi KNPI kembali kehilangan tenaga begitu dukungan awal berakhir.
Jangan Ulangi Musda yang Hanya Menghasilkan Pemenang
Pengalaman kontestasi sebelumnya memberi pelajaran bahwa pemilihan melalui voting dapat menjadi jalan demokratis, tetapi juga berpotensi meninggalkan luka ketika perbedaan tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, gagasan yang layak diuji ialah meminta setiap kandidat memperlihatkan rancangan formasi kepengurusan yang hendak dibangunnya sebelum pemilihan. Bukan untuk membagi-bagi jabatan secara transaksional, melainkan untuk memperlihatkan bagaimana kandidat merangkul OKP, mengakomodasi perbedaan, dan membangun kerja kolektif.
Dengan demikian, peserta Musda tidak hanya memilih nama ketua. Mereka juga dapat menilai apakah calon tersebut menawarkan jalan keluar dari fragmentasi atau sekadar menyiapkan barisan pemenang dan pihak yang kalah.
Inilah momentum untuk menggeser pusat gravitasi Musda: dari perebutan legitimasi menuju perundingan masa depan organisasi.
Satu Nafas, Satu Arah dan Satu Target
Satu nafas berarti semua unsur pemuda memiliki ruang yang setara untuk berkontribusi. Satu arah berarti ada kesepakatan mengenai agenda dan kemandirian organisasi. Satu target berarti hasil kerja dapat diukur, bukan hanya dirayakan dalam pidato pelantikan.
Musda KNPI Madina tidak harus menghapus perbedaan. Ia harus membuat perbedaan itu mampu bekerja untuk tujuan bersama.
Sebab, kemenangan terbesar bukan ketika satu kandidat mengalahkan kandidat lain, melainkan ketika setelah Musda selesai, para pemuda yang sebelumnya berada di jalur berbeda masih bersedia duduk semeja, menyusun program, dan bekerja untuk Madina.
Jangan sampai tiga versi KNPI melahirkan satu ketua, tetapi tetap gagal menghadirkan satu gerakan pemuda. (gl-mep)
Admin : Dita Risky Saputri.SKM.








