(Bagian I dari III Tulisan)
Seri 23 | Mengeja Puzzle Potensi Pemuda Daerah dalam Perspektif Jakarta, Bercermin pada Kasus Madina
Kripis Bulan Pemuda | Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Lahirnya Kabupaten Mandailing Natal pada 1999 bukan hanya melahirkan pemerintahan baru. Ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting: membangun ruang berhimpun bagi pemuda, menata jaringan organisasi, dan mempertemukan berbagai kelompok yang sebelumnya berada dalam satu bentang administratif Tapanuli Selatan.
Bagaimana proses itu berlangsung di tubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)? Apa yang diwariskan dari KNPI Tapanuli Selatan? Siapa saja tokoh yang membangun fondasi awalnya?
Percakapan dengan Ali Rahman Nasution, SH, salah seorang sesepuh KNPI Madina dan mantan Ketua KNPI Tapanuli Selatan yang kemudian menjadi Anggota DPRD Madina pada periode persiapan, mulai membuka kepingan sejarah yang belum banyak terungkap dalam dokumentasi publik.
Dari ingatannya, kita tidak hanya menemukan nama dan jaringan organisasi, tetapi juga cerita tentang kaderisasi, kepemimpinan, solidaritas, dan perubahan posisi organisasi pemuda dalam kehidupan publik daerah.
Dari Tapsel ke Madina
Menurut Ali Rahman, kaderisasi KNPI Tapanuli Selatan pada masanya berlangsung sangat kental. Tradisi itulah yang kemudian ditransformasikan ke KNPI Madina ketika kabupaten ini terbentuk.
Artinya, KNPI Madina tidak memulai semuanya dari ruang kosong. Ia memiliki warisan pengalaman berorganisasi, jaringan personal, pola pembinaan, dan kultur kepemimpinan yang telah tumbuh sebelumnya.
Pemekaran wilayah memang melahirkan struktur pemerintahan baru, tetapi kekuatan organisasi tidak otomatis muncul bersama pembentukan kabupaten.
Kekuatan itu harus dibangun melalui kader yang teruji, kepemimpinan yang dipercaya, dan kebiasaan bekerja bersama lintas kelompok.
Ali Rahman juga mengungkapkan, sejumlah simpul organisasi yang menghubungkan Tapanuli Selatan dengan Madina, antara lain KNPI Tapsel, Majelis Pemuda Indonesia (MPI), dan KNPI Panyabungan.
Dalam catatannya muncul nama Ansor Nasution, yang kemudian pernah menjabat Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Madina, serta Jafar Rangkuti selaku Sekretaris KNPI Panyabungan yang kemudian jadi Anggota DPRD Madina periode 2004–2009.
Pemekaran tidak berarti seluruh jaringan lama terputus.
Sebagian mungkin berlanjut, sebagian mengalami penataan ulang, dan sebagian lainnya membentuk konfigurasi baru. Di sinilah sejarah lisan menjadi pintu masuk untuk menemukan dokumen dan kesaksian tambahan.
Siapa yang Membangun Rumah Pertama?
Dalam catatan Ali Rahman, Ahmad Husein Nasution, yang dikenal dengan panggilan Sein, disebut sebagai ketua pertama KNPI Madina. Nama Miswar juga tercatat sebagai salah seorang pengurus KNPI pada masa itu.
Ada pula catatan mengenai 17 OKP yang punyaandil.salam Musda I KNPI Madina. Saat itu, Madina baru punya tujuh kecamatan.
Angka-angka ini memberi petunjuk tentang cakupan awal jaringan organisasi yang terlibat. Namun, komposisi dan periodenya masih perlu dicocokkan dengan dokumen Musda, daftar peserta, dan susunan kepengurusan pada masa pembentukan.
Kita perlu menelusuri bukan hanya siapa ketua pertamanya, tetapi juga siapa yang membangun struktur, bagaimana OKP berhimpun, dan bagaimana jaringan organisasi tingkat kecamatan terhubung dengan kepemimpinan kabupaten.
Sebab, sebuah organisasi tidak berdiri hanya karena memiliki ketua. Di belakangnya ada orang-orang yang mengorganisasi, menghubungkan, menyusun kesepakatan, dan menjaga agar berbagai kepentingan bisa berada dalam satu rumah.
Pemuda di Luar OKP
Ada satu pemahaman menarik yang disampaikan Ali Rahman. Menurutnya, di masanya, KNPI memandang kelompok usia 17–40 tahun sebagai pemuda yang menjadi bagian integral dari KNPI.
Pandangan ini memperlihatkan bahwa gagasan kepemudaan tidak berhenti pada struktur organisasi. OKP memang menjadi unsur penting dalam KNPI, tetapi kelompok pemuda yang lebih luas juga merupakan bagian dari lingkungan sosial yang menjadi perhatian organisasi tersebut.
Dengan pemahaman seperti itu, keberhasilan KNPI tidak cukup diukur dari jumlah OKP yang bergabung atau siapa yang menduduki kursi ketua. Ukurannya, juga terletak pada seberapa jauh organisasi mampu membuka ruang partisipasi, mengembangkan kapasitas, dan memperjuangkan kepentingan pemuda secara lebih luas.
Rumah besar kepemudaan seharusnya tidak hanya ramai ketika pemilihan pengurus. Ia harus hidup dalam kegiatan pembinaan, pertukaran gagasan, pengembangan keterampilan, dan perjuangan terhadap persoalan yang dihadapi generasi muda.
Bersambung ke Bagian 2 Seri 23 Bulan Pemuda ini: “Rumah Besar yang Punya Banyak Kepentingan”(*)
Admin : Iskandar Hasibuan
Mantan Pengurus KNPI








