Bulan Pemuda
Mengeja Puzzle Potensi Pemuda Daerah dalam Perspektif Jakarta, Bercermin pada Kasus Madina
Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Ali Rahman Nasution, Ketua KNPI Tapsel dan Sekretaris PP Tapsel pada masanya, masih ingat sejumlah organisasi yang berada dalam lingkungan kepemudaan Madina saat itu. Selain Majelis Pemuda Indonesia (MPI), ada juga Cobra atau Corp Brigade Pemuda, GP Ansor, AMPI, Pemuda Pancasila, Pemuda Muhammadiyah, Gerakan Pemuda Al-Washliyah, Fatayat NU, Aisyiyah, FKPPI, dan Pemuda Panca Marga.
Daftar ini belum tentu lengkap, tetapi cukup memberi gambaran awal tentang keragaman latar organisasi yang perlu ditelusuri.
Masing-masing memiliki tradisi, jaringan, dan orientasi gerakan sendiri. Menghimpun mereka dalam KNPI berarti menghadapi pekerjaan yang tidak sederhana: membangun komunikasi, menyepakati kepemimpinan, serta menemukan agenda bersama tanpa menghapus identitas masing-masing.
Ali Rahman juga bercerita tentang kompetisi dalam dinamika organisasi. Bentuk dan konteks persaingan itu masih perlu diperjelas agar tidak disimpulkan sebagai konflik tertentu tanpa dukungan keterangan yang cukup.
Kompetisi tidak selalu menjadi masalah. Itu dapat menjadi bagian dari proses demokrasi selama berlangsung, dengan aturan yang disepakati, menghormati hasil dan tetap menjaga kepentingan bersama. Yang berbahaya adalah ketika persaingan mengalahkan tujuan organisasi dan membuat ruang berhimpun berubah menjadi arena perpecahan berkepanjangan.
Jejak PP: Jalur Kontras
Dalam ekosistem kepemudaan Madina, terdapat pula perjalanan organisasi Pemuda Pancasila (PP) yang perlu dicatat tersendiri. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, urutan ketua PP Madina dimulai dari Asman Nasution alias UN, dilanjutkan Abdurrah Nasution alias Ompung Kolol, kemudian H. Syahriwan Nasution alias Kocu, dan berikutnya Ahmad Arjun Nasution sebelum ketua defenitif saat ini Zainal Arifin Simbolon.
Urutan ini merupakan bagian dari sejarah PP Madina, bukan kronologi kepemimpinan KNPI. KNPI merupakan wadah berhimpun lintas organisasi kepemudaan, sedangkan PP adalah salah satu organisasi yang memiliki struktur dan kepemimpinan sendiri.
Meski berbeda jalur, sejarah organisasi-organisasi tersebut dapat saling menerangkan. Dari sana kita bisa menelusuri bagaimana kader dibentuk, bagaimana kepemimpinan berganti, dan bagaimana pengalaman berorganisasi menjadi bagian dari perjalanan tokoh-tokoh pemuda di daerah.
Tahun kepemimpinan setiap tokoh masih perlu dilengkapi agar urutan tersebut menjadi kronologi sejarah yang lebih utuh dan dapat dipertanggungjawabkan. Dan, pada saatnya, kita mengerti mengapa PP begitu dekat dengan KNPI?
Warisan yang Kian Menipis?
Salah satu bagian paling menarik dari kisah Ali Rahman adalah perbandingannya antara personalitas pengurus KNPI Madina pada masa awal dan kondisi dalam pada sepuluh tahun terakhir, terutama di tengah fragmentasi kepengurusan yang pernah hadir dalam tiga versi.
Dalam ingatannya, generasi awal memiliki solidaritas dan kepemimpinan yang kuat. Sebaliknya, periode belakangan dinilainya lebih rapuh dan mudah terpecah.
Perbandingan ini merupakan penilaian seorang pelaku yang mengalami langsung masa awal organisasi. Untuk memperoleh gambaran lebih utuh, kita masih perlu membandingkan pola kaderisasi, proses rekrutmen, program kerja, hubungan antarkelompok, dan rekam jejak kepengurusan dari periode ke periode.
Namun, cerita tersebut membawa kita pada pertanyaan penting: Apakah tradisi kaderisasi yang dahulu diwariskan dari KNPI Tapsel masih dipertahankan? Apakah organisasi terus melahirkan kader yang mampu memimpin, bernegosiasi, mengelola perbedaan, dan menjaga kepentingan bersama? Ataukah perhatian lebih banyak tersedot pada perebutan struktur sehingga pembinaan kader kehilangan tempatnya?
Kaderisasi bukan sekadar pelatihan, sertifikat, atau pergantian pengurus. Kaderisasi adalah proses membentuk watak organisasi: kemampuan bekerja bersama, keberanian menyampaikan pendapat, kedisiplinan menjalankan keputusan, dan kesediaan menerima hasil kompetisi yang sah.
Jika tradisi itu melemah, organisasi berisiko kehilangan daya rekatnya. Struktur mungkin tetap ada, tetapi kepercayaan dan agenda bersama bisa menyusut.
Bersambung ke Bagian 3: Dari Unsur Penting Menjadi Pelengkap?
(gl-mep)
Admin : Iskandar Hasibuan
Mantan Pengurus KNPI








