*** Oleh : Iskandar Hasibuan,SE ***
Mantan Guru SMK Willem Iskander Panyabungan, Wartawan Waspada.Id Medan, Wartawan Berita Sore Medan & PImpinan Umum/Penanggungjawab Media PT.Malintang Pos Group.

Makin banyak terjadi pelaporan terhadap lembaga pendidikan, baik terhadap guru maupun kepala sekolah, hanya karena hal-hal yang mestinya bagian dari usaha mendidik anak.
Orang tua berpikir, anaknya seperti bunga yang tidak boleh disentuh, tidak boleh ditegur, tidak boleh dimarahi, tidak boleh dihukum, dan seterusnya.
Padahal hukuman itu sama kedudukannya dengan hadiah dan pujian. Harus berbarengan. Kalau anak benar, baik dalam sikap maupun capaian pembelajaran, anak wajib dipuji. Nilai yang baik itu bagian dari pujian. Atau sekurang-kurangnya guru mengatakan, “Kamu bagus.”
Kalau anak salah juga harus dihukum. Tidak boleh tidak dihukum. Tujuannya agar anak tahu bahwa dia salah. Setidaknya dengan mengatakan, “Kamu salah.” Atau dengan memberi nilai yang rendah.
Ada lagi hukuman lain? Banyak. Tergantung kepada tingkat kesalahan anak. Mulai dari panggilan orang tua. Kalau ada panggilan orang tua, memang harus dihadiri.
Agar orang tua juga tahu perkembangan anaknya. Karena sekolah bukan tempat penitipan barang, seperti menitipkan sendal saat kita masuk ke mesjid.
Anak itu bukan benda, ia manusia. Orang tua harus tahu perkembangan anak, dipanggil atau tidak dipanggil oleh sekolah.
Malah semestinya orang tua yang datang secara berkala ke sekolah. Tanya bagaimana perkembangan anak. Tanya apa kesulitan belajar anak, tanya apa yang mesti dilakukan orang tua sebagai pendidik utama yang paling bertanggung jawab. Jangan panggilan orang tua disikapi sebagai perendahan martabat. Bodoh benar cara berpikir seperti itu. Jangan malah diminta datang, eh tidak mau datang.
Bolehkah hukuman fisik? Boleh, sepanjang tidak bentuk kekerasan seperti memukuli yang menimbulkan luka atau cacat. Lari-lari keliling lapangan juga hukuman fisik. Di pramuka banyak sekali bentuk hukuman fisik yang oleh anggota pramuka diterima sebagai pembentukan sikap mental dan disiplin. Tidak ada yang meributkannya. Anak masuk pramuka sudah diyakini bersedia ikut sistemnya.
Tapi begitu terjadi di sekolah sedikit saja perlakuan yang “menyentuh” anak, semua ribut. Takut sekali “kelopak bunga” anaknya copot. Padahal orang tuanya dulu di sekolah lebih dari itu menerima hukuman dari guru. Dan dia tidak mati pun atau cacat mental karena itu. Malah baik hidupnya.
Oh, zaman sudah berubah, kata kita. Zaman apa? Siapa yang membuat zaman berubah menjadi lebih konyol seperti ini? Siapa yang bikin undang-undang yang konyol itu? Kita juga.
Kita rasakan dampaknya sekarang:
1) IQ rata-rata anak Indonesia hanya 78,8. Padahal IQ untuk layak normal saja mestinya minimal 80. Kenapa IQ anak Indonesia melorot? Karena kurang gizi? Orang yang makan tidak makan saja dulu IQ nya di atas itu. Yang membuat melorot itu karena ekosistem sekolah salah. Dan kita semua ikut membentuk ekosistem belajar yang salah itu. Seolah-olah kita paling benar.
2) Narkoba ada di setiap kampung. Karena anak-anak yang gagal tumbuh hanya melihat narkoba sebagai cara keluar dari kebuntuan hidup. Karena anak-anak kita gagal berpikir mencari solusi dengan hidupnya sendiri.
Karena dia diperlakukan layaknya bunga, tidak boleh ditegur, tidak boleh dimarahi, tidak boleh mendengar kata tidak, tidak boleh dibantah, dan seterusnya. Ia mengira dirinya raja yang harus dipenuhi semua keinginannya.
3) Pengangguran menumpuk. Karena lulusan tidak mampu berpikir inovasi. Otaknya mandul. Dia biasa diberi nilai bagus, biasa ditolong untuk naik kelas, dan seterusnya. Setelah tamat sekolah siapa yang menolongnya? Tidak ada. Kecuali orang tua punya duit, lalu bayar untuk bisa bekerja.
4) Berbagai kejahatan lain berkembang. Mulai kejahatan seksual sampai maling.
5) Lebih parah lagi ketika selama hidup anak selalu menjadi beban orang tua. Mulai menanggung beban ekonominya sampai beban tingkah lakunya.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan tahu benar bagaimana mendidik anak. Ada guru, ada kepala sekolah, ada bimbingan konseling, ada berbagai program yang tujuannya untuk memastikan anak berkembang dengan baik. Ada kurikulum, ada sistem penilaian. Mereka semua memperoleh itu dari perguruan tinggi asal mereka.
Tetapi ada juga peraturan sekolah. Ada aturan disiplin. Ketika orang tua memasukkan anaknya ke sekolah, mereka tahu tentang itu. Tidak ada sekolah yang tidak punya aturan.
Dan aturan harus ditegakkan. Karena itu memastikan ekosistem sekolah kondusif untuk pengembangan kecakapan anak. Tidak pilih kasih siapapun orang tuanya. Sekali pilih kasih, maka hancurlah ekosistem sekolah yang dibangun bertahun-tahun.
Pers seharusnya juga tahu tentang itu. Dunia sekolah itu ada ekosistem belajar yang dibangun. Mereka lebih tahu tentang itu. Karena itu semestinya semua mendukung manajemen sekolah agar lulusannya dapat mandiri dan mencapai pertumbuhan kedewasaan yang benar. Mereka dilatih untuk itu.
Karena itu, alangkah baiknya semua pihak memberi dukungan pada institusi sekolah, agar pendidikan berdampak baik bagi pendidikan keluarga kita.
Alumni SD Negeri 8 ( Sekarang SDN 081) Tahun 1974.
Sedikit bercerita ketika di SDN yang waktu itu Kelas 4, 5 dan 6, guru Kelas Kami selama tiga tahun itu seorang Bapak, Pelajaran yang membuat saya selalu kena Hukum adalah Pintar Berhitung.
Setiap Pelajaran Pintar Berhitung, maka saya dengan sejumlah murid pasti Kena Hukum dengan Pukulan Rol Panjang terbuat dari kayu berkali – kali, sampai Rol tersebut hancur.
Lapor ke Ayah atau Ibu, tau jawabnya, justuru kita yang dihukum oleh Ayah dan Ibu dengan pakai pukul dari Rotan yang disiapkan, bukan ujuk – ujuk Ayah dan Ibu ke Sekolah marahi guru, seperti kejadian sekarang diberbagai SD, SMP dan SMA sederajat.
Hasilnya, akibat kita sering dihukum di SD, masuk SMP dan SMEA saya, silakan tanyak kawan – kawan seangkatan Penulis, baik Alumni SMEP dan SMEA, ketika belajar Aljabar,Ilmu Ukur dan Statistik di SMEA, Penulis paling jago. Nilai STTB /Ijasah juga rata – rata Delapan(8).
Itulah sekilas ketika kita masih Siswa, akibat dari di Siplin yang diterapkan Guru, kita makin Giat dan Matang Belajar sehingga cita- cita kita tercapai( Bersambung Terus)
Admin : Dita Risky Saputri.SKM.








