Destinasi Madina: Meracik Gemerlap dan “Gelap”

Kripis Pariwisata || Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Wisata dapat mengawinkan daya tarik objek rekreatif yang gemerlap (glamor) dan gelap suluk (kedalaman spiritual). Dampaknya menjangkau untuk nilai ekonomi berlapis.

Pariwisata tidak lagi semata-mata tentang tempat yang indah untuk dikunjungi. Dalam perkembangannya, wisatawan mencari pengalaman yang semakin beragam. Ada yang berburu panorama, petualangan, kenyamanan, kuliner, dan hiburan. Ada pula yang mencari ketenangan, refleksi, pengetahuan, bahkan pengalaman spiritual.

Dua kebutuhan ini sering ditempatkan dalam kategori pariwisata yang berbeda. Padahal, keduanya menyimpan peluang untuk dipertemukan dalam satu ekosistem destinasi.

Di sinilah Mandailing Natal (Madina) memiliki peluang menawarkan perspektif baru dalam pengembangan pariwisata: mempertemukan glamoritas dan spiritualitas sebagai dua kekuatan yang dapat menghasilkan nilai ekonomi berlipat ganda.

Glamoritas Menjadi Pasar

Tidak bisa dimungkiri, daya tarik visual dan kenyamanan merupakan pintu masuk penting bagi industri pariwisata modern.

Keindahan pantai, pegunungan, sungai, panorama pedesaan, kuliner khas, fasilitas rekreasi, hingga pengalaman petualangan merupakan modal untuk menarik pasar wisatawan.

Madina memiliki sejumlah potensi alam dan kebudayaan yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik rekreatif. Pantai Barat, lanskap pegunungan, kawasan sungai, serta kekayaan tradisi Mandailing dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang kompetitif.

Namun, daya tarik visual saja belum tentu cukup. Banyak destinasi memiliki pemandangan indah. Persaingan pariwisata membutuhkan diferensiasi, pengalaman yang khas, dan alasan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama.

Di sinilah spiritualitas dapat memberikan dimensi pembeda.

Spiritualitas: Kekayaan Yang Tertutup

Madina bukan hanya memiliki kekayaan alam dan budaya. Daerah ini juga menyimpan tradisi keislaman, sejarah ulama, lembaga pendidikan agama, pesantren, rumah suluk, dan kehidupan tarekat yang berkembang di tengah masyarakat.

Artikel Tazkiyah Media tentang Rumah Suluk Darul Falah Huta Puli memberikan salah satu pintu masuk untuk membaca potensi tersebut.

Jamaah datang dari berbagai daerah untuk mengikuti proses pembinaan spiritual. Ada yang berasal dari kawasan sekitar Mandailing, Padangsidimpuan, Tapanuli Tengah, hingga luar Sumatera Utara.

Fenomena ini mengandung dua informasi penting. Pertama, terdapat jaringan sosial dan spiritual yang melampaui batas administratif Madina. Kedua, ada daya tarik pengalaman spiritual yang membuat orang bersedia melakukan perjalanan jauh.

Namun, Huta Puli ternyata bukan satu-satunya simpul persulukan yang layak ditelusuri.

Menelusuri Jejak Suluk

Eksplorasi awal menemukan beberapa lokasi dan kawasan yang memberikan gambaran lebih luas mengenai kekayaan tradisi tasawuf Mandailing Natal.

1. Rumah Suluk Darul Falah, Huta Puli, Siabu

Rumah Ibadah Suluk Darul Falah merupakan salah satu simpul persulukan yang terdokumentasi melalui pemberitaan mengenai aktivitas jamaah dan perkembangan organisasi tarekat.

Kegiatan suluk di tempat ini berkaitan dengan Naqsyabandiyah Al-Kholidiyah Jalaliyah. Pemberitaan tahun 2025 juga mencatat pembentukan kepengurusan Majelis Mursyidin tingkat cabang Madina periode 2025–2029.

Hal menariknya adalah jaringan jamaah yang datang dari luar daerah. Ini menjadi petunjuk awal bahwa Huta Puli memiliki hubungan spiritual lintas wilayah.

2. Persulukan Babul Falah, Simaninggir, Siabu

Keberadaan Persulukan Babul Falah memperoleh penguatan dari penelitian akademik Nur Atikah Hasibuan tahun 2024 berjudul Meningkatkan Kualitas Akhlak Jama’ah dalam Tarekat Naqsyabandiyah di Persulukan Babul Falah Simaninggir Kabupaten Madina.

Penelitian tersebut membahas pembinaan akhlak melalui bimbingan mursyid, zikir, uzlah, dan khalwat.

Menariknya, penelitian etnografis Romaito Daulay, Zainal Arifin, dan Maskota Delfi yang terbit pada 2025, berjudul Antara Spiritualitas Tarekat dan Tradisi Mandailing: Identitas Khas Parsulukan Babul Falah, mengungkap identitas khas persulukan tersebut.

Penelitian itu menyoroti perpaduan tradisi Naqsyabandiyah dan Sammaniyah, sejarah keilmuan, peran mursyid, serta interaksi tarekat dengan tradisi Mandailing.

Temuan ini memperlihatkan bahwa persulukan bukan sekadar tempat pelaksanaan ritual, melainkan juga ruang pembinaan karakter, pewarisan pengetahuan, dan pemeliharaan identitas budaya.

3. Rumah Suluk di Jambur Padang Matinggi, Panyabungan Utara

Penelusuran direktori menemukan nama Rumah Suluak Tuanku H. Syekh Aspan Kareeem dan Rumah Suluk Samman dan Naqsyabandi Tuanku H. Syekh Aspan Kareeem II.

Keduanya tercatat di kawasan Jambur Padang Matinggi.
Informasi awal menyebut adanya kegiatan pengajian, zikir, dan pembinaan spiritual. Namun, status operasional, hubungan kelembagaan, dan silsilah tarekat masing-masing masih memerlukan verifikasi langsung.

Lokasi ini menjadi kandidat penting untuk memperluas pemetaan persulukan di luar Kecamatan Siabu.

4. Warisan Persulukan Syekh Sulaiman Lubis al-Kholidy, Huta Pungkut, Kotanopan

Ini salah satu temuan historis paling menarik.

Penelitian Sakdiah, Hasan Sazali, dan Franindya Purwaningtyas yang diterbitkan dalam jurnal Warisan: Journal of History and Cultural Heritage tahun 2021 mengangkat Pondok Persulukan Syekh Sulaiman Lubis al-Kholidy di Huta Pungkut, Kecamatan Kotanopan.

Pondok persulukan tersebut diperkirakan telah ada sejak pertengahan abad ke-19.
Syekh Sulaiman Lubis al-Kholidy memiliki perjalanan keilmuan tarekat hingga Besilam, Langkat, dan Makkah. Setelah kembali ke kampung halaman, beliau menyebarkan ajaran Naqsyabandiyah.

Lebih menarik lagi, penelitian tersebut tidak hanya membahas perkembangan tarekat, tetapi juga kaitannya dengan pembentukan semangat nasionalisme.

Dengan demikian, Huta Pungkut bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga menyimpan warisan sejarah intelektual dan sosial Islam Mandailing.

5. Persulukan di Desa Purba Baru

Penelitian Vina Talia tahun 2025 dari UIN Imam Bonjol Padang mengangkat praktik zikir melalui suluk Tarekat Naqsyabandiyah di Desa Purba Baru, Mandailing Natal.

Penelitian lapangan tersebut melibatkan seorang mursyid dan 14 jamaah. Salah satu temuan menariknya adalah pengalaman jamaah yang merasakan perubahan dalam pengendalian emosi, ketenangan hati, kesabaran, dan motivasi berbuat baik setelah mengikuti suluk.

Penelitian ini juga mencatat bahwa tradisi suluk di Purba Baru dikenal masyarakat dan menarik banyak pengunjung yang mengikuti proses persulukan.

Ini menambah dimensi baru dalam peta potensi wisata spiritual Madina: bukan hanya sejarah tarekat, tetapi juga pengalaman pembinaan rohani yang masih berlangsung.

6. Tabuyung, Sordang, dan Kampung Melayu

Penelitian mengenai eksistensi Tarekat Naqsyabandiyah di Tapanuli Bagian Selatan yang tersimpan di repositori UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan juga menyebut sejumlah pusat persulukan di Madina, yakni Persulukan Tabuyung, Desa Sordang, dan Desa Kampung Melayu.

Informasi ini penting karena memperlihatkan bahwa persebaran persulukan tidak hanya terkonsentrasi di kawasan Siabu dan Kotanopan.

Ketiga nama tersebut perlu ditindaklanjuti melalui penelusuran pengelola, lokasi, aktivitas, sejarah, dan hubungan kelembagaannya.

Dengan tambahan temuan Purba Baru serta Tabuyung, Sordang, dan Kampung Melayu, peta awal persulukan Madina menjadi lebih luas.

Namun, seluruh lokasi tersebut belum dapat langsung diklaim sebagai destinasi wisata spiritual aktif. Data ini merupakan inventarisasi awal berdasarkan penelitian akademik, dokumentasi media, dan direktori. Verifikasi lapangan tetap diperlukan.

Jaringan Sunyi Peradaban

Jika temuan-temuan tersebut dibaca secara bersamaan, kita mulai menemukan tiga lapisan kekayaan.

Pertama, spiritual heritage: jejak ulama, sejarah persulukan, sanad keilmuan, dan perkembangan tarekat.

Kedua, spiritual network: hubungan mursyid, khalifah, jamaah, serta komunitas lintas kabupaten dan provinsi.

Ketiga, spiritual experience: pembelajaran tasawuf, pengenalan sejarah Islam, refleksi kehidupan, dan pendidikan akhlak.

Ketiga lapisan ini memiliki nilai yang berbeda dari sekadar objek wisata konvensional.

Bayangkan wisatawan datang ke Madina bukan hanya untuk menikmati panorama alam. Mereka juga dapat mengenal sejarah ulama, menelusuri jejak perkembangan tarekat, berdialog tentang tradisi keilmuan Islam, dan memperoleh pengalaman edukatif mengenai kebudayaan spiritual Mandailing.

Tentu, rumah suluk bukan objek tontonan. Praktik zikir dan ibadah tidak boleh direduksi menjadi atraksi komersial. Pengembangan wisata spiritual harus menghormati otoritas keagamaan, privasi jamaah, kesakralan tempat, dan tujuan utama pembinaan rohani.
Ruang edukasi dan kunjungan harus dibangun berdasarkan persetujuan pengelola dan masyarakat setempat.

Justru penghormatan terhadap nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi autentisitas wisata spiritual.

Racikan Kecil Berdampak Ekosistem

Gagasan kita bukan membangun dua jalur pariwisata yang berjalan sendiri-sendiri. Bukan pula sekadar menambahkan kunjungan ke rumah suluk dalam paket perjalanan wisata alam.

Yang ingin dibangun adalah keterhubungan pengalaman.
Bayangkan seorang wisatawan datang ke Madina untuk menikmati panorama alam, menginap di penginapan lokal, mencicipi kuliner Mandailing, mengenal sejarah dan kebudayaan masyarakat, kemudian memperoleh kesempatan mengikuti program pengenalan sejarah tasawuf, berdialog tentang tradisi keilmuan Islam, atau mengikuti kegiatan reflektif yang secara khusus disediakan dan disetujui pengelola.

Satu perjalanan Menghadirkan Beragam Pengalaman.

Wisatawan mendapatkan nilai rekreatif sekaligus edukatif dan spiritual. Pelaku usaha lokal mendapatkan pasar yang lebih luas. Destinasi memperoleh identitas yang lebih kuat.

Di sinilah glamoritas dan spiritualitas bertemu bukan hanya sebagai dua jenis daya tarik, melainkan sebagai satu kesatuan produk dan pengalaman wisata.

Efek Ganda

Dalam teori ekonomi pariwisata dikenal konsep tourism multiplier effect. Belanja wisatawan tidak berhenti pada tiket masuk atau biaya penginapan. Pengeluaran tersebut mengalir ke berbagai sektor ekonomi yang saling terhubung.

Ketika wisatawan tinggal lebih lama, mengonsumsi lebih banyak produk lokal, menggunakan jasa transportasi, membeli kerajinan, dan mengikuti kegiatan edukatif, semakin banyak pelaku ekonomi yang berpotensi memperoleh manfaat.

Integrasi wisata rekreatif dan spiritual dapat memperluas rantai nilai tersebut.

Ada Setidaknya Lima Peluang:

1. Peningkatan lama tinggal (length of stay). Ragam pengalaman memberikan alasan bagi wisatawan untuk memperpanjang kunjungan.

2. Peningkatan belanja wisatawan. Aktivitas ekonomi tidak hanya terpusat pada satu objek, tetapi menyebar ke penginapan, kuliner, transportasi, dan produk lokal.

3. Diversifikasi usaha. Muncul peluang bagi UMKM, homestay, pemandu budaya, jasa perjalanan, dan penyedia layanan pendukung.

4. Penguatan identitas destinasi. Madina memiliki diferensiasi yang tidak hanya bertumpu pada keindahan alam.

5. Perluasan pasar. Wisatawan rekreatif, komunitas keagamaan, peneliti, mahasiswa, dan wisatawan minat khusus dapat menjadi segmen yang saling melengkapi.

Tentu, efek pengganda tersebut tidak terjadi otomatis. Dibutuhkan konektivitas destinasi, kualitas pelayanan, aksesibilitas, promosi, kelembagaan, dan keterlibatan masyarakat.

Jaringan jamaah yang telah terbentuk dapat menjadi salah satu pintu untuk mengenalkan Madina kepada komunitas lintas daerah. Namun, jamaah tetap harus dipandang sebagai komunitas keagamaan, bukan semata-mata target pemasaran.

Destinasi: Ekosistem Koneksi

Persoalan mendasar pengembangan pariwisata daerah sering kali bukan ketiadaan objek wisata, melainkan belum terbangunnya keterhubungan antarpotensi.
Pantai berjalan sendiri, wisata alam berjalan sendiri, kuliner belum terintegrasi, sementara warisan sejarah dan spiritualitas belum terbaca sebagai bagian dari identitas pariwisata daerah.
Karena itu, Madina perlu mulai berpikir melampaui promosi objek wisata. Yang dibutuhkan adalah arsitektur ekosistem pariwisata.

Konsep Mandailing Spiritual Journey dapat menjadi salah satu gagasan pengembangan. Bukan sebagai produk tunggal yang menggantikan wisata alam, tetapi sebagai bagian dari pengalaman wisata yang menghubungkan sejarah Islam, tradisi tasawuf, pendidikan, kebudayaan, dan lanskap alam Mandailing.

Pemerintah daerah dapat memulainya melalui pemetaan potensi, inventarisasi rumah suluk dan situs sejarah, dialog dengan tokoh agama, penelitian pasar, serta identifikasi rantai usaha masyarakat yang dapat terlibat.

Pendataan juga perlu menjangkau seluruh 23 kecamatan untuk mengetahui persebaran rumah suluk, pesantren, masjid bersejarah, makam ulama, serta lembaga pendidikan keagamaan yang mempunyai nilai historis.

Dengan cara ini, pengembangan pariwisata tidak dimulai dari membuat slogan, melainkan menemukan keunggulan autentik daerah dan menghubungkannya dengan kebutuhan pasar.

Berpikir Lebih Jauh

Mempertemukan glamoritas dan spiritualitas merupakan tawaran untuk membaca ulang kekayaan pariwisata Mandailing Natal.

Kita tidak sedang menciptakan kekayaan dari sesuatu yang tidak ada. Kita sedang mencari cara menghubungkan potensi yang telah hidup, tetapi mungkin belum terintegrasi dalam satu desain ekonomi pariwisata.

Glamoritas mendatangkan pasar. Spiritualitas memberikan kedalaman dan diferensiasi. Integrasi keduanya membuka peluang penciptaan nilai ekonomi yang lebih besar.

Madina bahkan memiliki modal yang lebih luas daripada sekadar bangunan rumah suluk. Ada sejarah panjang persulukan, jejak ulama, tradisi keilmuan, dan jaringan jamaah lintas daerah yang layak ditelusuri lebih jauh.

Madina tidak cukup hanya menjadi tempat yang indah untuk dikunjungi. Madina perlu menjadi destinasi yang menawarkan pengalaman berlapis, menghasilkan manfaat ekonomi, dan meninggalkan makna bagi kehidupan.

Inilah peluang untuk membangun pariwisata yang bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi kuat nilai tambahnya dan luas manfaatnya.

Horizon Tauhid

Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata tidak cukup diukur dari jumlah kunjungan, tingkat hunian hotel, atau besarnya transaksi.

Ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah pertumbuhan pariwisata memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat?
Dalam perspektif Horizon Tauhid, glamoritas dan spiritualitas bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Keindahan alam merupakan anugerah yang harus dijaga. Aktivitas ekonomi merupakan ikhtiar untuk meningkatkan kesejahteraan. Sementara spiritualitas memberikan orientasi moral agar manusia tidak kehilangan tujuan dalam mengejar kemakmuran.

Pariwisata harus menjaga lingkungan, menghormati tradisi, melindungi martabat praktik keagamaan, dan mendistribusikan manfaat ekonomi secara adil.
Dengan demikian, spiritualitas bukan sekadar produk tambahan untuk meningkatkan daya jual destinasi. Ia menjadi nilai yang mengarahkan bagaimana pariwisata dikembangkan. [gl-mep]

 

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Lagi, 5 PK Golkar Dukung Indah di Kontestasi Musda VII

    PANYABUNGAN(Malintangpoa Online): Langkah Indah Annisa,SE.MM, menuju Musda VII Golkar Madina, makin mantap. Setelah mengantongi dukungan dari tujuh PK (Pimpinan Kecamatan) Dapil Madina 2, kini menyusul lima PK lagi. Kader Golkar…

    Read more

    Continue reading
    Hadiri Sidang Senat Terbuka STAIN Madina, Aswin Parinduri Terima Piagam Penghargaan

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): H Aswin Parinduri memenuhi undangan untuk hadir dalam Sidang Senat Terbuka Sekolah Tinggi Islam Negeri Mandailing Natal (STAIN Madina) Program Sarjana 2026 pada Sabtu (31/10/2026). Dalam kesempatan pengukuhan…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses