
Dosen STAIN Mandailing Natal
Ada hal-hal yang berubah begitu cepat dalam kehidupan kita. Cara bekerja berubah,cara berkomunikasi berubah, bahkan cara orang saling membantu pun perlahan mengalami perubahan.
Dulu, ketika pekerjaan di sawah cukup berat untuk dikerjakan sendiri, beberapa orang akan datang membantu.
Tidak banyak perhitungan. Hari ini
membantu tetangga, besok mungkin giliran kita yang dibantu.
Di tengah perubahan seperti itu, kita mengenal sebuah tradisi yang sebenarnya
sederhana, tetapi menyimpan makna sosial yang kuat: Marsialapari.
Marsialapari bukan sekadar kegiatan bekerja bersama. Di dalamnya ada kebiasaan untuk saling meringankan pekerjaan, menjaga hubungan dengan sesama, dan merasa bahwa persoalan satu orang tidak sepenuhnya menjadi persoalan orang itu sendiri.
Nilai seperti inilah yang membuat Marsialapari menarik untuk dibicarakan kembali,terutama ketika kehidupan masyarakat semakin modern dan hubungan sosial mulai banyak berlangsung melalui layar telepon.
Tradisi yang Tumbuh dari Kehidupan Sehari-hari Marsialapari tumbuh dari kebutuhan masyarakat. Dalam kehidupan agraris, ada pekerjaan yang memang sulit dilakukan seorang diri.
Mengolah lahan, menanam, atau
memanen membutuhkan tenaga dan waktu. Maka, bekerja bersama menjadi cara yang
masuk akal sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat.
Tetapi kalau Marsialapari hanya dipahami sebagai bantuan tenaga di sawah,
maknanya menjadi terlalu sempit.
Yang lebih penting sebenarnya adalah semangat di baliknya. Ada kesediaan untuk
hadir ketika orang lain membutuhkan. Ada rasa bahwa hidup di tengah masyarakat
berarti tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri.
Nilai semacam ini masih kita perlukan sekarang.Bahkan mungkin lebih diperlukan daripada sebelumnya.Sebab kehidupan modern memang membuat banyak pekerjaan menjadi lebih mudah,
tetapi tidak selalu membuat hubungan antarmanusia menjadi lebih dekat.
Kita bisa mengirim pesan dalam hitungan detik kepada orang yang berada jauh, tetapi terkadang tidak sempat menyapa tetangga yang tinggal beberapa rumah dari tempat kita.
Di sinilah Marsialapari menjadi menarik. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak
seharusnya membuat kita kehilangan kebiasaan untuk saling membantu.
Modernisasi Tidak Harus Menghapus TradisiSering kali tradisi dan modernisasi ditempatkan seperti dua hal yang harus dipilih.
Seolah-olah ketika masyarakat sudah modern, tradisi lama harus ditinggalkan.
Menurut saya, cara pandang seperti itu tidak selalu tepat.
Tradisi memang bisa berubah. Bentuknya bisa menyesuaikan keadaan. Cara
masyarakat bekerja sekarang tentu tidak sama dengan beberapa puluh tahun lalu.
Banyak orang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pertanian.
Anak-anak muda juga memiliki pekerjaan dan kesibukan yang berbeda.
Namun, berubah bukan berarti hilang.
Marsialapari justru bisa tetap hidup apabila kita mampu melihat nilai dasarnya, bukan
hanya bentuk lamanya.
Semangat bekerja bersama, saling membantu, dan menjaga hubungan sosial dapat diterapkan dalam situasi yang berbeda.
Teknologinya boleh berubah, tetapi kepeduliannya jangan hilang.
Karena itu, mempertahankan tradisi tidak selalu berarti mengulang persis apa yang
dilakukan orang tua dan leluhur kita.
Kadang-kadang, cara terbaik untuk merawat tradisi adalah memberinya ruang untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan
masyarakat sekarang.
Dari Sawah ke Ruang Sosial Menariknya, semangat tersebut mulai memperoleh bentuk baru. Pada Agustus 2026,
Pemerintah Kecamatan Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal, mencanangkan program Keta Marsialapari sebagai gerakan gotong royong masyarakat yang menghidupkan kembali nilai saling membantu dan bekerja bersama dalam kehidupan sosial.
Program tersebut tidak berhenti pada pekerjaan pertanian. Kegiatan gotong royong diarahkan pada lingkungan dan kepentingan bersama.
Masyarakat dari beberapa desa terlibat membersihkan lingkungan, saluran air, dan fasilitas yang digunakan bersama.
Bagi saya, perkembangan seperti ini menunjukkan bahwa sebuah tradisi tidak harus tinggal di masa lalu.
Nama Marsialapari tetap digunakan, tetapi ruang penerapannya diperluas. Dulu kita
lebih sering membayangkan orang-orang bekerja bersama di sawah.
Sekarang semangat yang sama dapat ditemukan ketika masyarakat membersihkan lingkungan, membantu kegiatan sosial, atau menyelesaikan persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.
Di situlah proses penerimaan dan akomodasi terhadap tradisi lokal sebenarnya terjadi secara alami.
Masyarakat tidak sedang memaksakan masa lalu untuk kembali.Mereka mengambil nilai yang masih relevan, lalu memberinya bentuk yang sesuai
dengan kebutuhan hari ini.
Anak Muda Tidak Harus Menjadi Petani untuk Memahami Marsialapari
Ada anggapan bahwa tradisi akan hilang karena generasi muda semakin jauh dari
kehidupan masa lalu. Anggapan itu ada benarnya jika tradisi hanya dikenalkan sebagai cerita.
Anak muda tentu memiliki dunia yang berbeda. Mereka hidup dengan internet, media sosial, pekerjaan yang beragam, dan cara berkomunikasi yang serba cepat.
Tetapi justru di situlah peluangnya.
Nilai Marsialapari dapat diperkenalkan dengan cara yang dekat dengan kehidupan
mereka.
Kegiatan gotong royong dapat dikoordinasikan melalui WhatsApp.
Dokumentasi kegiatan dapat dibagikan melalui media sosial.
Cerita tentang Marsialapari dapat dikemas dalam video pendek, tulisan, atau konten digital yang mudah dipahami generasi sekarang.
Dengan begitu, anak muda tidak harus menjadi petani terlebih dahulu untuk
memahami apa arti Marsialapari.
Mereka cukup memahami satu hal: ketika ada pekerjaan atau persoalan yang terlalu
berat jika ditanggung sendiri, kita tidak selalu harus menunggu orang lain meminta
bantuan.
Kita bisa datang lebih dulu. Jangan Sampai Gotong Royong Hanya Menjadi Slogan
Hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai Marsialapari hanya menjadi nama
kegiatan atau slogan yang terdengar bagus.
Tradisi akan tetap hidup kalau dipraktikkan.
Gotong royong juga tidak harus selalu berupa kegiatan besar. Membantu
membersihkan lingkungan, datang ketika ada tetangga yang sedang mengalami
kesulitan, membantu kegiatan desa, atau sekadar meluangkan waktu untuk
kepentingan bersama merupakan bentuk sederhana dari nilai yang sama.
Di tengah kehidupan yang semakin individual, kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu justru memiliki arti.
Tidak semua bantuan harus dihitung dengan uang. Tidak semua kebaikan harus
menghasilkan keuntungan.
Ada hubungan sosial yang memang dibangun karena kita hidup bersama dan saling membutuhkan.
Marsialapari mengajarkan hal tersebut dengan cara yang sangat sederhana. Merawat Tradisi Bukan Berarti MembekukannyaKita tidak bisa meminta masyarakat hari ini hidup persis seperti masyarakat masa lalu.
Itu tidak realistis. Karena itu, menjaga tradisi seharusnya bukan berarti
membekukan tradisi dalam bentuk tertentu. Yang perlu dijaga adalah nilai yang
membuat tradisi tersebut bermakna.
Kalau dulu Marsialapari banyak berlangsungvdalam pekerjaan pertanian, sekarang semangatnya bisa hadir dalam kegiatan sosial dan lingkungan.
Kalau dahulu orang berkumpul dan menyampaikan informasi secara
langsung, sekarang koordinasi bisa dilakukan melalui teknologi.
Bentuknya berbeda, tetapi semangatnya tetap sama.Justru tradisi yang mampu beradaptasi seperti itulah yang memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Masyarakat tidak harus memilih antara menjadi modern atau tetap memegang budayalokal.
Keduanya bisa berjalan bersama. Kita bisa menggunakan teknologi tanpa kehilangan kepedulian.
Kita bisa bekerja secara profesional tanpa menjadi terlalu individual. Kita bisa hidup di tengah perubahan tanpa melupakan cara masyarakat kita membangun kebersamaan sejak dahulu.
Marsialapari dan Masa Depan Kebersamaan Pada akhirnya, Marsialapari bukan hanya cerita tentang bagaimana orang-orang dahulu bekerja di sawah.
Ia adalah bagian dari cara masyarakat memahami kehidupan bersama.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan apakah Marsialapari masih sama
seperti dulu, melainkan apakah nilai yang ada di dalamnya masih kita butuhkan.
Jawabannya tentu saja iya.
Kita masih membutuhkan masyarakat yang mau saling membantu. Kita masih
membutuhkan lingkungan yang warganya peduli.
Kita masih membutuhkan generasi
muda yang tidak hanya sibuk dengan urusan masing-masing, tetapi juga bersedia
mengambil bagian dalam kehidupan sosial.
Marsialapari tidak perlu dipertahankan dengan cara lama agar tetap bermakna. Yang perlu dipertahankan adalah semangat kebersamaannya, sementara bentuk
pelaksanaannya dapat menyesuaikan dengan zaman.

Sebab budaya akan bertahan ketika ia dipraktikkan dan diberi ruang untuk hidup.
Mungkin itulah cara yang paling masuk akal untuk merawat Marsialapari hari ini:
bukan dengan memaksanya tetap sama, tetapi dengan membiarkan nilai baik di
dalamnya terus menemukan bentuk baru.
Bentuknya boleh berubah. Zamannya boleh berganti. Tetapi semangat untuk saling
membantu jangan sampai kehilangan tempat dalam kehidupan kita.( WhatsApp)
Penulis : J U R E I D
Dosen STAIN Mandailing Natal
Admin : Dita Risky Saputri.SKM.








