17 Mei, Buku Dunia Digital, Dicintai atau Terlupakan? : Refleksi Hari Buku Nasional 2020 Oleh : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd.

Tanggal 17 Mei merupakan peringatan Hari Buku Nasional di Indonesia. Hari dimana buku dianggap sebagai gudang ilmu, pengakuan bahwa buku adalah jendela dunia dan sayangnya hari ini kita juga menyaksikan kenyataan bahwa buku mulai ditinggalkan. Saya masih ingat betul cerita yang pernah saya baca dulu saat masih kecil, baik dongeng atau pun komik sederhana seperti serial dongeng “Pak Janggut”. Menurut saya saat itu membaca adalah hal yang menarik meski pada kenyataannya pada saat itu buku masih terbatas belum banyak ragam seperti sekarang dan untuk mendapatkan informasi tidaklah semudah seperti saat ini. Buku masih merupakan barang yang mewah pada saat itu.

Minat baca di Indonesia memang bisa dikatakan masih sangat rendah bila dibandingkan dengan negara – nagara lainnya di dunia. Menurut data UNESCO Indonesia merupakan urutan kedua dari bawah soal literasi dunia yang bisa diartikan minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia sesuai data UNESCO ada diangka yang memprihatinkan hanya 0, 001% yang artinya 1.000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca. (sumber : www.kominfo.go.id) Sangat memprihatinkan bukan?. Sejarahkemajuan negara-negara di dunia seperti Jepang, Amerika, Korea Selatan dan negara – negara maju laiinya berawal dari ketekunannya membaca. Mereka tidak pernah puas dengan kemajuan yang telah dicapai sehingga mendorong mereka untuk teru smenerus membaca dan membaca mencari sumber informasi untuk semakin banyak tahu tentang berbagai macam informasi. Tidak ada waktu yang tersisa untuk terbuang percuma, mereka menghabiskan waktunya untuk membca dan bekerja. Ini menunjukkan bahwa betaoa besarnya manfaat buku bagi kemajuan suatu bangsa dikarenakan bangs ayang maju adalah yang mampu menguasai dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dari membaca. Terlebih pada era globalisasi ini, telah menciptakan perubahan besar dalam mengubah tatanan kehidupan.

Bangsa yang memiliki sumber daya manusia yang unggul dapat menghasilkan barang yang kompetitif dan menerapkan teknologi tidak mungkin terjadi tanpa adanya budaya membaca untuk mendapatkan informasi . Pada nyatanya telah terbukti bahwa buku menjadi kunci perubahan dunia. Dalam hal membaca sebagai awal kemajuan bangsa mahasiswa di negara-negara maju ternyata memiliki rata-rata membaca selama delapan jam per hari. Sedangkan di negara berkembang termasuk Indonesia hanya 2 jam setiap hari (UNESCO, 2005)

Rendahnya minat baca di negeri ini sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti lingkungan sekitar, generasi serba instan, gadget, game online dan social media, serta niat dari diri sendiri. Lingkungan sekita menjadi faktor penting dalam kehidupan karena secara tidak langsung faktor lingkungan telah membentuk kebiasaan kita, jika lingkungan kita sudah sejak dini mengenalkan membaca makan benih minat membaca akan tumbuh dengan baik begitu sebaliknya. Sedangkan generasi sekarang yang sering disebut generasi Z sangat berbeda dengan generasi jaman dulu dimana semakin lama generasi sekarang semakin menginginkan sesuatu yang serba cepat, instan dan kurang menghargai proses. Padahal membaca sebuah buku itu pasti membutuhkan yang namanya proses membaca lembar demi lembar dan hal inilah yang tidak diminati oleh generasi Z. Mereka lebih cenderung hanya melihat sinopsis, review singkat di media sosial dan selanjutnya mereka hanya menerka nerka isi dan jalan cerita dari buku tersebut.

Peringatan hari buku ditingkat internasional diperingati setiap tanggal 23 April, diperingati sebagai hari buku sedunia. Peringatan ini merupakan apresiasi dari UNESCO atas budaya menulis dan upaya meningkatkannya di dunia. Mengapa tanggal 23 April diperingati sebagai hari buku dunia, hal ini erat kaitannya dengan peristiwa meninggalnya Miguel de Cervantes dan William Shakespeare tokoh yang terkenal dalam dunia kepenulisan buku.. Literasi akan muncul bila tradisi membaca dan menulis sudha menjadi budaya. Tapi tidak untuk di Indonesia, karena pada kenyataannya budaya membaca bangsa ini masih sangat rendah. Apalagi menulis dalam sebuah karya baik berupak buku fiksi ataupun non fiksi

Menurut Riset yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, riset yang diberi tajuk World’s Most Literate Nations Racked pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke – 60 dari 61 negara soal minat baca. Persis berada di bawah Thailand (59) dan diatas Bostwana (61). Padahal pada kenyataannya dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung mebaca peringkat Indonesia ada di atas negara – negara Eropa.

Secara umum, tingkat literasi di Indoensia sangat tinggi 93% dari lebih kurang 250 juta penduduk, angka yang terlihat fantastis untuk dilihat oleh para pengamat statistik. Namun hal itu tidak dibarengi dengan jumlah buku yang terbit setiap tahunnya. Dari perhitungan Ikatan Penerbit Indonesia pada tahun 2014 tercatat ada lebih dari 30.000 buku yang terbit. Sehingga bisa dikatakan perbandingan literasi ada dianatar 1:3 sampai 1”5 (satu buku dibaca hanya oleh 5 orang). Jelas berbanding terbalik. Sedangkan di negara – negara maju satu rang bisa membaca tiga hingga lima buku dengan genre yang beragam. Sedangkan genre yang dibaca oleh ornag Indonesia sangat tidak variatif, Seperti komik dengan para penggemarnya sendiri atau teenlit yang populer dikalangan anak muda. Sedangkan buku – buku dengan genre yang “serius” seperti pengetahuan umum, sastra, filsafat, sejarah, dan lainnya hanya dibeli saat dibutuhkab saja, contoh dibeli oleh mahasiswa yang memang diwajibkan untuk membeli buku – buku tersebut sesuai program studi mereka, itu pun tidak mungkin akan dibaca setiap hari, membeli hanya karena rujukan dosen untu mengerjakan tugas atau sebagai penunjang aktifitas keilmuan di kampus mereka.

Fakta yang tak kalah ironi di Indnesia adalah 60 juta penduduk negeri ini memiliki gadget, dengan urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada tahun 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia ada lebih dari 100 juta orang. Dengan begitu Indonesia menjadi negara pengguna aktif smartphone terbesar di dunia setelah China, India dan Amerika. Menurut data dari Wearesocial per Januari 2017 orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari berbanding terbalik dengan rendahnya minat membaca buku. Sehingga tidak heran bila di dunia media sosial orang Indonesia bisa dikatakan paling “cerewet” denga urutan ke lima dunia. Luar biasa bukan? Sangat miris sekali. Ilmu minimalis, malas baca buku, tapi sangat suka mnatap layar gadget berjam – jam, ditambah lagi paling cerewet di media sosial. Jadi jangan heran bila Indonesia menjadi sasaran empuk untuk info provokasi, hoax dan fitnah. Kecepatan jari untuk langsung like dan share sangat cepat bahkan melebihi kecepatan otak mereka. Padahal informasi yang didapatnya tersebut belum tentu kebenarannya, bahkan bisa saja memprovokasi dan memecah belah bangsa.

Pergeseran dunia buku terus berlangsung sehingga melahirkan dunia digital. Buku yang selama ini dicetak dikertas terus – menerus menjadi tergerus dengan adanya e-book dan sejenisnya. Hal ini menjadi tantangan dalam dunia perbukuan untuk meningkatkan kreatifitasnya. Apalagi masih banyak orang yang mengeluh beratnya membeli buku pada versi cetak karena harga tidaklah murah, sedangkan buku elektronik (e-book) ada yang bisa diunduh gratis. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam dunia penerbitan buku.

Bisa dikatakan perkembangan teknologi untuk di Indonesia menajdi bencana bagi budaya membaca di negeri ini. Bisa dilihat saat ini banyaknya perpustakaan yang sepi pengunjung, toko buku yang tidak buka kembali karena sepinya pembeli bahkan toko buku bekas pun saat ini sudah tak ada lagi tidak seperti dahulu.. Sebenarnya teknologi bisa menjadi sebuah kekuatan yang positif untuk perkembangan minat baca di negeri ini, tentny ajika dibarengi dengan sistem yang jelas kemanfaatannya. Hal inilah yang mulai banyak digalakkan oleh beberapa pkomunitas baca yang masih bertahan hingga sekarang. Adaptasi teknologi harusnya menjadi sebuah penunjang untuk kegiatan membaca bagi generasi saat ini.
Keberadaan yang mampu memberikan kemudahan bagi kita untuk membaca e-book dan Pdf merupakan produk teknologi digital dalam dunia literasi. Bahan bacaan berbentuk e-book dan Pdf sangat mudah untuk didapatkan, bahkan kita bisa men-download secara gratis melalui link di Google. Saat ini sudah banyak perpustakaan online yang menyediakan e-book dan Pdf secara gratis, salah satunya yang resmi di Indonesia adalah Ipusnas. Di aplikasi ini kita bisa mendapatkan ribuan koleksi e-book secara gratis dengan batasan waktu tertentu.

Teknologi menawarkan berbagai kemudahan bagi dunia baca. Jaman sekarang kita bisa mengikuti berbagai acara bedah buku dari rumah sendiri, tanpa perlu repot keluar rumah, bahkan kita bisa mengikuti sambil melakukan perkejaan lainnya.Sangat luar biasa bukan perkembangan teknologi saat ini. Hanya saja sayangnya sampai sekarang masih sedikit komunitas yang membuat program Bedah Buku Online, sangat disayangkan mengingat banyak sekali manfaat dan kemudahan dari bedah buku online ini.

Harry Tjahyono, seorang duayawan dan penulis seniro di Indonesia pernah mengatakan pada suatu acaraliterasi di Bangka Belitung, “ Membacalah dengan rasa ketidakpercayaan”. Kalimat sederhana tersebut bermakna bahwa jangan hanay sekedar membaca, tapi membacalah dengan tujuan mencari tahu, dan rasa ketidakpercayaan akan membawa kita untuk terus menggali informasi, ide dan konsep yang kita baca dari sebuah buku. Jangan hanya membaca dari satu atau dua buku saja karena kadangkala pertanyaan yang muncul pada benak kita terjawab pada buku yang lainnya. Oleh sebab itu perlunya kita menanamkan budaya menjadi pembaca yang kritis. Dengan begitu kita telah melatih diri menjadi individu yang open-minded, mampu menganalisis dan menafsirkan setiap persolan secara komprehensif dan menjadi individu yang terhindar dari bertindak secara ego-sektoral. Pentingnya membaca buku memang perlu digalakkan dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini. Bebrbagai usaha sudah mulai bermunculan, dari pemerintah melalui gerakan literasi sekolah Kementerian Pendidikan dan Kbudayaan yang mencanangkan, membangun perpustakaan mulai dari tingkat daerah sampai ke desa-desa. Dukungan dari berbagai lapisan masyarakat juga mulai bermunculan dengan beragam istilah mulai dari rumah baca, becak literasi, motor literasi, kampung literasi, donasi buku dan masih banyak lainnya.

Berbagai usaha dan semangat untuk meningkatkan budaya membaca masyarakat harus kita dukung, karena melalu budaya literasi yang kuat akan mencetak generasi bangsa yang cerdas dan tidak mudah termakan hoax atau isu yang belum jelas kebenarannya. Dalam peringatan Hari Buku Nasional ini semoga bangsa kita bisa menjadi masyarakat yang dapat menghargai buku sebagai jendela dunia, memberikan pengetahuan dan informasi sebagai alat membawa negari ini menjadi lebih maju, beradab dan berbudaya. Marilah membangun negeri ini dengan peradaban bangsa melalu literasi.

 

Admin : dina soekandar, A. Md

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.