3 Tahun Malintang Pos : Membumi dan Menajamkan Visi ( bagian 2- selesai) Oleh : MOECHTAR NASUTION (Penerima Award Malintang Pos Kategori Sosial)

MOECHTAR NASUTION

REKAM SEJARAH                       

MP memang surat kabar yang fenomenal sekaligus juga punya nilai tersendiri. Kenapa? Paling tidak ada dua alasan yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur. Pertama, MP telah mengukir sejarah baru dunia media cetak lokal di Madina yang bisa menepati janjinya untuk setia hadir setiap hari senin setiap minggu tanpa ada halangan. Bertahan sampai edisi yang sekarang, saya pikir bukanlah perkara yang mudah namun tentunya butuh perjuangan konon lagi kita ketahui secara kasat mata begitu banyak pihak yang “alergi” dengan pemberitaan-pemberitaanya.

Disinilah letak prestasi MP terlihat terang benderang. Ketika terbit pertama sekali diawal tahun 2014, banyak pihak yang berasumsi dan mengambil hipotesis bahwa MP paling lama hanya berusia seumur jagung. Kendatipun ini sinisme tentunya sangat beralasan untuk  mengatakan hal ini mengingat “realitas history” begitu banyak media cetak lokal terbitan  Madina yang akhirnya harus “meregang nyawa” untuk dan demi sesuatu alasan yang tidak pernah dipublis kepublik.

Namun hipotesis dan asumsi ini menjadi tidak layak didialektikakan ketika MP  secara professional mampu  menepati janjinya terbit setiap hari senin. Ini fakta yang tidak terbantahkan bahkan ketika MP mengalami “disharmonisasi” dengan pemerintah, bukan tidak banyak lahir kajian dan telaahan yang premature bahwa MP akan mengalami “kiamat”. Lagi-lagi MP berhasil melewati ujian ini dengan kematangan dan kearifan jajaran redaksinya hingga akhirnya bisa sampai diusia tiga tahun. Saya pikir ini bukanlah “by design” namun tentunya ada spirit dan semangat yang menjadi alasan untuk bisa “survive” dalam kondisi apapun. “Hanya mati yang belum pernah saya alami” sering  bang Iskandar Hasibuan, SE mengatakan ini kepada saya dan kalimat ini kembali diucapkannya pada saat puncak acara HUT Ke-3 MP belum lama ini.

Bagi saya, kalimat ini mempersonifikasikan kegigihan, keuletan, kesungguhan dan keseriusan dalam mengelola managemen MP. Dan saya tidak bisa menemukan type kepemimpinan seperti ini didalam buku-buku ilmu management dan dibangku perkuliahan. Mungkin inilah hidayah terbesar yang dianugerahkan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa kepada beliau. Ditengah banyaknya keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki, nyatanya ada kekuatan yang amat sangat dashat dari sosok yang suka ceplas ceplos, pemberani, berdedikasi, punya integritas dan sedikit urakan ini.

Saya tidak berpretensi untuk mengkultuskan beliau, namun dari perjalanan yang sering saya alami bersamanya baik di ”lopo” dan dikantor redaksi, saya memang menemukan semangat yang tidak pernah padam darinya ketika kami membahas MP.

Keunikan management beliau ini semakin kokoh dan lengkap karena dilengkapi dengan sosok-sosok sederhana, visioner dan memiliki kapabilitas dan integritas yang menjadi penjaga gawang redaksi. Hanya manusia “kuper” yang tidak mengenal Dahlan Batubara- yang betah didepan notebook berjam-jam hanya ditemani segelas kopi dan sebungkus rongkok. Begitu juga dengan Ludfan Nasution- pria pendiam namun ketika diskusi hampir semua ilmu pengetahuannya keluar. Dan juga Maradotang Pulungan, jurnalis yang rambutnya “botak manis”.

Mereka adalah perpaduan yang saling melengkapi dan inilah yang menghebatkan MP karena  kepuasan jurnalis bagi mereka bukanlah segepok materi dan tepuk tangan yang riuh tapi kepuasan itu tercipta ketika berita dapat dihadirkan tepat waktu. Konsistensi bagi mereka adalah harga mati dan bagi saya ini sungguh luar biasa. Sering saya terlibat dialog dan diskusi dengan mereka, diam-diam saya mengagumi kinerja mereka yang tidak kenal lelah mengabdi bagi pemenuhan informasi masyarakat.

Kepercayaan (trust) menjadi harga mati bagi jajaran redaksi MP. Oleh  karena  itu semua berita diramu sedemikian rupa untuk menjadi berita yang padat dan lengkap. Ini tentunya dimaksudkan untuk tidak hanya menampilkan berita yang hanya sekedar berita namun berita yang berbobot dan berkualitas. Kredibilitas yang tinggi jelas merupakan pilar yang menjadi kekuatan untuk bertahan. Bagi MP, kredibilitas mereka terletak dititik ini.

APRESIASI PEMERINTAH

Saya terkejut dan sama sekali tidak menyangka akan hadir dua kepala daerah pada saat HUT MP yang dilaksanakan di aula Hotel Rindang, Panyabungan. Selain Bupati Madina yang didampingi mesra oleh Ketua Tim Penggerak PKK Madina, juga terlihat Bupati Labuhan Batu bersama Ketua Tim Penggerak PKK Labuhan Batu. Saya menilai ini adalah prestasi yang memang perlu untuk diketahui publik. Kehadiran dua kepala daerah ini membuktikan bahwa MP bukanlah koran biasa dan bukanlah koran “abal-abal”. Justru kehadiran dua kepala daerah ini membuktikan bahwa eksistensi MP tidak bisa dinilai sebelah mata karena memang MP adalah asset yang sangat diperlukan untuk pembangunan Madina pada khususnya dan Sumut pada umumnya.

Meskipun ditempatkan sebagai sebuah koran baru, namun bila dilihat dari posisinya sebagai wahana bagi isu-isu ke-Madina-an,maka  kehadiran MP tidak dapat dikatakan baru sama sekali. Bagaimanapun, keberadaan MP dalam   pemikiran merupakan sesuatu yang berharga dalam turut mendukung pembangunan yang dilaksanakan pemerintah. Bupati Madina sendiri mengakui hal ini dalam sambutannya bahwa pemerintah punya kepentingan dengan MP bahkan sempat menitipkan pesan yang mungkin terasa sangat heroik “saya menitipkan Mandailing Natal ini kepada Malintang Pos”. Pengakuan dari kepala daerah ini sesungguhnya harus dapat dimaknai bahwa pemerintah dalam menjalankan kewajibannya terhadap masyarakat merasa penting untuk bermitra dengan pers.

Kehadiran Bupati Madina dalam acara HUT MP ke-3 menurut saya jangan disalah artikan bahwa MP akan menjadi media “juru bicara pemerintah”. MP menurut saya harus tetap setia dengan mottonya yakni “Berani dan Tangguh Membela Kepentingan Rakyat” karena Bupati Madina sendiri juga mengakui bahwa setiap lembaga manapun baik pemerintah, kepolisian, TNI dan yang lainnya membutuhkan kritikan konstruktif. Saya ingin menyebut bahwa MP bagi masyarakat adalah kepercayaan dan harapan. Karena itu, menjaga mutu dan kualitas menjadi wajib dilaksanakan agar kepercayaan pembaca tidak tergerus sedikitpun.

Saya tidak ingin mempersoalkan tagline yang telah dipilih MP. Namun yang mesti dipersoalkan, bagaimana MP menurunkan tagline tersebut ke dalam substansi pemberitaan. Sejauh ini, MP menurut saya masih sangat setia dengan tagline tersebut. Saya tidak berharap kedepan pemberitaan MP lebih banyak dimonopoli oleh berita pemerintah misalnya berita tentang peresmian ini itu atau berita kunjungan ini itu. Walaupun ini sebenarnya penting dan memiliki nilai strategis dalam pembangunan namun jajaran redaksi MP harus tetap mengupayakan agar berita tentang pemerintahan tidak mendominasi. Iya.. artinya MP harus tetap berani menampilkan sesuatu yang berbeda karena memang disinilah karakater MP berada.

Ciri khas MP adalah mengambil posisi yang jelas untuk selalu berdampingan dengan publik. Dan ini sudah menjadi trade mark MP selama ini. Dengan taglinenya, saya pikir MP memiliki tugas yang jauh lebih berat dan bermartabat untuk istiqomah dan konsisten menyuarakan aspirasi masyarakat. Akan menjadi sangat menggelikan, jika kemudian pemberitaan MP didominasi dengan berita-berita pemerintah. Saya tidak membayangkan ini akan terjadi…!!

MASA DEPAN MP

Sebagai koran baru yang lahir tiga tahun silam, MP memang hadir dengan semangat dan spirit baru tentunya. Apresiasi terbesar yang pantas diberikan adalah terbukanya kesempatan berkarir bagi banyak generasi muda dalam dunia media. Dalam posisi itu, MP memberi ruang dan kesempatan besar kepada anak-anak muda daerah ini untuk menjadi wartawan, koresponden, dan berbagai bentuk pekerjaan lain di dunia media cetak.

Tidak hanya sebagai pekerja media, MP-pun memberi ruang munculnya pemikir muda dalam berbagai bidang ilmu untuk menghiasi berbagai rubrik yang tersedia. Dengan ruang itu, misalnya, muncullah sejumlah pengamat sosial, politik, dan hukum baru dari di daerah ini. Dalam banyak peristiwa, MP menjadikan mereka sebagai narasumber untuk merespon perkembangan yang terjadi. Bahkan, begitu seringnya mereka muncul menanggapi perkembangan yang terjadi, di antara mereka berkembang menjadi “intelektual selebriti”.

Lebih jauh dari sekadar pengamat, MP juga memberi ruang bagi generasi muda “berceloteh” melalui rubrik   “Opini”  untuk menyumbangkan berbagai keresahan, keinginan, dan juga pemikiran dan kritik terhadap berbagai persolan yang muncul. Melalui rubrik ini, misalnya muncul nama- seperti Askolani yang juga mendapatkan Award untuk kategori Budayawan dan juga sejumlah nama mahasiswa dan tokoh-tokoh organisasi baik organisasi kepemudaan, kemahasiswaan dan juga oganisasi sosial politik semisal Al-Hasan Nasution-Ketua Karang Taruna Madina yang didaulat untuk menyerahkan Award MP saat itu.

Kedepan, menjadi harapan saya dan ini juga sudah pernah saya usulkan dalam bentuk artikel ketika MP melaksanakan syukuran edisi ke-100, agar MP melakukan terobosan-terobosan sehingga partipasi masyarakat dari lintas profesi ini bisa hadir dalam bentuk tulisan/artikel sehingga bisa menambah perbendaharaan khazanah pemikiran masyrakat. Bukankah MP juga mengharapkan agar jangan ada “tirani mayoritas” dalam soal penyikapan masyarakat terhadap isu kekinian.

Saya pikir hal ini  bagus untuk menciptakan pergulatan pemikiran baik yang pro maupun yang kontra terhadap satu persoalan kekinian sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang mengambil kesimpulan. Tidak ada upaya untuk menggiring opini dan persepsi publik. Semua berjalan dengan alamiah dan tanpa rekayasa walaupun tentu saja ini dimaksudkan bukan sebagai bagian untuk membuat polarisasi ditengah masyarakat. Dengan adanya kajian ilmiah tersebut yang dibarengi dengan akuntabilitas penulis maka informasi yang disajikan akan lebih berwarna lagi.

Tentu saja untuk menciptakan hal ini, MP  harus memiliki stok penulis yang cukup. Untuk memiliki stok yang cukup, maka MP juga harus berani memberi penghargaan yang layak. Selanjutnya, MP harus mulai merangkul nara-sumber dari berbagai disiplin ilmu dengan keahlian yang spesifik. Dengan membangun relasi yang baik, mereka dapat dijadikan sebagai narasumber tetap MP dalam merespon dan menyikapi berbagai perkembangan yang terjadi di tengah masyarakat. Tulisan yang dihasilkan akan bisa menjadi acuan bagi pembaca untuk mendalami persoalan secara objektif, akuntabilitas, akurat dan memiliki validitas yang tinggi.Dengan orang yang memiliki keahlian khusus tentunya selain memberikan ulasan/tulisan/kajian, mereka dapat juga dijadikan sebagai narasumber untuk diskusi internal MP.

Saya percaya, semakin kredibel narasumber yang bicara akan semakin kredibel pula sebuah koran di mata pelanggan. Jika memang ada keinginan ke arah ini, merangkul narasumber dengan kategori pakar tidak memerlukan biaya mahal.

Prinsip “take and give” mungkin bisa mengatasi hal ini. Dengan posisi seperti ini, MP akan  menjadi media yang memberi ruang munculnya generasi baru. Generasi baru yang memilih jalur baru untuk berkembang dengan bantuan media cetak, terbangun hubungan yang saling membutuhkan.

Catatan berikutnya, saya belum melihat MP menentukan secara tajam apa yang sesungguhnya menjadi rubrik andalan koran ini. Sejauh yang saya ketahui, betapapun kuat dan berpengaruhnya sebuah media (termasuk koran), pasti tidak akan mampu menjadikan semua rubrik sebagai andalan. Koran sebesar dan sekuat Kompas dan Republika,  misalnya, tetap saja memilih rubrik tertentu sebagai andalan.  Selain itu, untuk mempertahankan kesetian dan image pelanggan, pada hari-hari tertentu mereka muncul dengan rubrik dan halaman tambahan.

Untuk menjadi lebih “bergigi”, sudah saatnya MP menentukan secara jelas apa yang menjadi rubrik andalan koran ini. Tentu saja, MP tidak perlu menyampaikannya kepada pelanggan bahwa rubrik tertentu adalah rubrik andalan. Publik akan mencerna sendiri. Salah satu alasan mendasar menentukan rubrik andalan adalah untuk menentukan siapa orang yang bertanggung jawab yang menangani rubrik tersebut. Secara logis, kalau koran sudah menentukan rubrik andalan, maka koran tersebut akan menempatkan orang-orang dengan kualifikasi tertentu sebagai penjaga gawang rubrik tersebut. Hingga hari ini, saya masih samar dan belum begitu paham mana sebenarnya rubrik andalan koran MP.

Usulan lain untuk menjadikan MP untuk  lebih tajam, MP  harus mampu dan berani melakukan pemilihan terhadap para narasumber ketika mengangkat satu persoalan. Bagi saya, narasumber yang tepat itu adalah sesuai dengan keahlian, keilmuwanan, kompentensi ataupun jabatannya terhadap persoalan yang muncul. Tidak harus selalu NGO yang menjadi narasumber dan pribadi. Bukankah masih banyak lagi yang lainnya? Menjadi tanda tanya hampir dalam setiap pemberitaan MP sering saya menemukan yang menjadi narasumber untuk menanggapi permasalahan lebih didominasi oleh NGO? Bukankah ada komponen masyarakat lainnya misalnya akademisi atau praktisi?

Satu hal yang sering membuat saya merasa risau adalah munculnya statemen dengan narasumber yang namanya tidak dapat disebutkan. Tentu saja hal ini dibenarkan karena memang Undang Undang Pers membolehkan hal ini namun menurut saya hal ini akan mengurangi bobot pemberitaan. Kendatipun dibenarkan akan tetapi statement tersebut jauh lebih memiliki integritas, kapabilitas dan juga akuntabilitas jika dibarengi dengan penyebutan nama narasumber disertai nama jabatannya sehingga pembacapun lebih merasa haqqul yakin. Ini juga berguna untuk menghindari adanya kesan bahwa bahasa yang tertulis tersebut adalah bahasa redaksi ataupun bahasa titipan dari kelompok kepentingan (vested intrest).

PENUTUP    

 

Apapun yang anda baca dalam surat kabar MP merupakan produk jurnalistik yang harus melewati serangkaian proses dan ini membutuhkan akuntabilitas yang tinggi sekaligus juga selalu mengedepankan profesionalisme sehingga kemudian menjadi “santapan” yang layak dipercaya. Jurnalisme itu adalah sebuah proses yang berurutan mulai dari pengumpulan bahan berita yang lengkap dan faktual, pengolahan, pengecekan dan pengecekan ulang, pengeditan dan penyuntingan hingga sebuah berita atau tulisan menjadi layak diterbitkan atau fit to print.

Media cetak yang tetap istiqomah dengan mottonya dan selalu menjaga prinsip jurnalismenya tidak akan pernah ditinggalkan publik karena media cetak yang seperti ini akan tetap menjadi kekuatan masyarakat sipil (civil society). Dan ini sungguh tidak akan lekang oleh waktu karena mutu tentunya menggambarkan kesungguhan, keseriusan dan keteguhan dalam bersikap.

MP telah membuktikan dirinya mampu membangun harapan baru, membangun asa, dan membangun impian yang bukan hanya untuk dirinya semata namun lebih dari itu membangun harapan bagi masyarakat melalui kerja jurnalisnya. Keteguhan, dan konsistensi MP selama ini untuk tetap selalu berada dalam rel mottonya menjadikan MP bukan hanya sekedar surat kabar biasa dimata masyarakat akan tetapi surat kabar yang mampu mendengarkan, memahami, dan menjembatani aspirasi mereka.

Kini, MP telah membumi dan saatnya kini menajakan visi supaya tagline “berani dan tangguh membela kepentingan rakyat”  benar-benar dapat teraplikasi.

Jayalah Selalu.. Malintang Pos. Selamat dan Sukses untuk kelahiran Malintang Pos Online. Jadikanlah ribuan mata yang membacamu sebagai api yang tidak akan pernah padam karena api adalah sumber cahaya yang bisa menerangi dan kehangatan yang abadi. DIRGAHAYU….!!!

Wallaho Aqlam …

Admin : Dina Sukandar A.Md

 

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.