*** Oleh: Isra Hayati Darman***

Ada sebuah pemandangan yang mungkin terlihat sederhana disejumlah Pondok
Pesantren di Mandailing Natal. Seorang ustadz membaca kitab berbahasa Arab yang
sebagian besar teksnya tanpa harakat. Para santri duduk menyimak dengan kitab terbuka dihadapan mereka.
Sesekali tangan mereka bergerak cepat, menuliskan harakat, arti,
keterangan, atau catatan tertentu pada bagian kitab yang sedang dibaca.
Di lingkungan pesantren, aktivitas semacam ini dikenal dengan istilah mendhobit.
Bagi orang yang tidak mengenal tradisi pesantren, mendhobit mungkin tampak
sebagai aktivitas mencatat biasa.
Namun bagi santri, ia merupakan bagian dari proses belajar yang membutuhkan konsentrasi, ketelitian, kecepatan menangkap penjelasan guru,sekaligus kemampuan memahami isi pelajaran.
Dalam pembelajaran kitab kuning, santri tidak cukup hanya mendengarkan. Mereka
dituntut mengikuti bacaan guru, memahami struktur bahasa Arab, menentukan harakat,
menangkap makna, kemudian menuliskannya.
Penelitian tentang pembelajaran kitab
kuning bahkan mencatat bahwa santri mempersiapkan materi dengan mendhobit,
meringkas, dan memahami makna sebelum pembelajaran berlangsung.
Di sinilah mendhobit menjadi menarik untuk direnungkan kembali, terutama ketika kita melihat problem pembelajaran anak-anak dan generasi muda pada zaman sekarang.
Ketika belajar semakin mudah, tetapi memahami semakin sulitKita hidup di zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh.
Hampir semua yang ingin diketahui dapat dicari melalui internet. Buku tersedia dalam bentuk digital. Materi kuliah dapat diunduh. Ceramah dapat ditonton kapan saja.
Bahkan penjelasan guru dapat direkam menggunakan telepon genggam. Secara logika, seharusnya generasi sekarang
menjadi generasi yang paling mudah belajar.
Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Salah satu persoalan pembelajaran hari ini justru adalah kemampuan berkonsentrasi yang semakin mudah terganggu.
Ketika belajar menggunakan gawai, seorang siswa atau mahasiswa dapat berpindah dari materi kuliah ke media sosial hanya dalam hitungan detik.
Dari membaca artikel berpindah ke video
pendek. Dari mencari referensi berpindah ke percakapan grup. Informasi memang
semakin banyak, tetapi perhatian manusia justru semakin terbagi.
Di sinilah kita perlu belajar dari tradisi sederhana yang dilakukan para santri: mendhobit.
Mendhobit mengajarkan bahwa ilmu tidak cukup hanya didengar. Ilmu harus
diperhatikan, dipahami, kemudian diikat melalui tulisan.
Ada proses mental yang terjadi ketika seorang santri mendhobit. Ia harus mendengarkan dengan seksama agar
tidak tertinggal bacaan ustadz. Ia harus memahami mana kata yang perlu diberi harakat.
Ia harus mengetahui makna yang disampaikan. Ia juga harus mampu menentukan bagian mana yang penting untuk dicatat.
Artinya, mendhobit sesungguhnya bukan sekadar kegiatan menulis. Ia adalah latihan konsentrasi dan pemahaman.
Tradisi mendhobit juga mengajarkan sesuatu yang semakin mahal dalam
pendidikan modern: kesabaran.
Untuk memahami kitab kuning, seorang santri tidak bisa berharap semuanya selesai dalam satu atau dua kali pertemuan.
Ia harus membaca berulang-ulang, mempelajari nahwu dan sharaf, mendengarkan penjelasan guru, mencatat,
menghafal, bertanya, dan mengulang kembali. Proses seperti ini membutuhkan waktu.
Sementara itu, budaya digital sering membuat kita terbiasa dengan sesuatu yang
serba cepat. Kita ingin jawaban dalam beberapa detik. Kita ingin video yang singkat.
Kita ingin membaca ringkasan daripada teks yang panjang. Bahkan dalam belajar, kita kadang lebih tertarik mencari “jawaban” daripada menjalani proses untuk mendapatkan pemahaman.
Padahal pendidikan bukan hanya tentang memperoleh jawaban. Pendidikan
adalah proses membentuk cara berpikir.
Tradisi pesantren melalui pembelajaran kitab kuning sesungguhnya memiliki
kekuatan pada proses tersebut.
Santri tidak hanya berhadapan dengan isi kitab, tetapi juga dengan bahasa, struktur berpikir ulama, argumentasi, perbedaan pendapat, dan cara memahami teks.
Karena itu, kitab kuning bukan sekadar warisan masa lalu. Ia merupakan
salah satu media yang mempertahankan tradisi intelektual pesantren dari generasi ke generasi.
Pertanyaannya kemudian: apakah tradisi seperti mendhobit masih relevan di tengah
perkembangan teknologi pendidikan? Menurut saya, sangat relevan.
Namun yang perlu dipertahankan bukan semata-mata bentuk fisiknya. Kita tidak harus memaksa semuapembelajaran kembali menggunakan cara-cara lama. Teknologi tetap penting.
Gawai,internet, kecerdasan buatan, buku digital, dan berbagai platform pembelajaran dapat memberikan manfaat besar bagi pendidikan.
Yang perlu kita pertahankan adalah nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut.
Mendhobit mengajarkan perhatian, mendhobit mengajarkan ketelitian, mendhobit mengajarkan kesabaran, dan mendhobit mengajarkan bahwa memahami sesuatu membutuhkan proses.
Dan yang tidak kalah penting, mendhobit mengajarkan bahwa ketika
guru menjelaskan, seorang pelajar perlu benar-benar hadir—bukan hanya tubuhnya, tetapi juga pikirannya.
Bukankah persoalan pendidikan kita hari ini salah satunya adalah banyak pelajar
yang hadir secara fisik, tetapi pikirannya berada di tempat lain? Jangan sampai teknologimenggantikan proses belajar.
Teknologi seharusnya membantu manusia belajar, bukan menggantikan proses berpikir manusia.
Kita boleh menggunakan kamera untuk memotretpapan tulis. Kita boleh merekam penjelasan dosen.
Kita boleh menggunakan aplikasi untuk
mencari arti kata Arab. Kita bahkan boleh memanfaatkan kecerdasan buatan untuk
membantu memahami materi.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang: usaha pribadi untuk memahami. Sebab jika semua proses berpikir diserahkan kepada teknologi, kita mungkin memiliki banyak informasi tetapi kehilangan kemampuan mengolah informasi.
Santri yang mendhobit mungkin membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan orang yang cukup memotret halaman kitab dengan kamera. Tetapi ada sesuatu yang diperoleh melalui proses itu: pengalaman intelektual. Ia mendengar, berpikir, menulis,mengingat, bertanya, memahami, dan akhirnya ia memiliki ilmu yang lebih melekat dalam dirinya.
Inilah pelajaran penting dari mendhobit yang mungkin sangat relevan bagi
pendidikan kita hari ini.
Mandailing Natal memiliki tradisi pesantren yang panjang. Salah satu pusat
penting tradisi tersebut adalah Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru yang memiliki Sejarah panjang dalam pendidikan Islam di kawasan Mandailing Natal, Sumatera Utara,bahkan Indonesia.
Penelitian tentang Musthafawiyah juga menunjukkan kuatnya peran
pesantren tersebut dalam kehidupan pendidikan dan masyarakat Mandailing Natal.
Karena itu, tradisi mendhobit tidak seharusnya dilihat sebagai kebiasaan kecil yang hanya berlangsung di ruang belajar pesantren. Ia dapat dibaca sebagai bagian dari kearifan pendidikan lokal yang mengandung nilai universal.
Di tengah kegelisahan tentang menurunnya minat baca, pendeknya rentang
perhatian, ketergantungan pada gawai, budaya serba instan, dan kecenderungan sebagian pelajar mencari jawaban tanpa memahami prosesnya, tradisi mendhobit justru menawarkan sebuah pesan sederhana:“Belajarlah dengan perhatian, catatlah dengan pemahaman, dan bersabarlah dalam proses”.

Terkadang, sesuatu yang terlihat sederhana justru menyimpan pelajaran yang
sangat besar. Selembar kitab yang penuh coretan seorang santri mungkin tidak tampak istimewa bagi orang lain. Tetapi di balik setiap harakat, makna, dan catatan kecil itu, ada proses panjang seorang manusia dalam mengikat ilmu agar tidak mudah hilang.
Dan mungkin, di tengah zaman ketika informasi begitu mudah datang dan begitu cepat pergi, kita justru membutuhkan kembali semangat mendhobit itu. Bukan hanya untuk menulis ilmu. Tetapi untuk belajar benar-benar hadir ketika ilmu sedang diajarkan.( WhatsApp)
Admin : Dita Risky Saputri.SKM.








