*** Oleh: Ria Rafita Supriani***

Mandailing Natal kerap disebut sebagai salah satu daerah yang memiliki akar tradisi keislaman yang kuat di Sumatera Utara. Sebutan sebagai Kota Santri bukanlah tanpa alasan.
Di daerah ini, pesantren tumbuh dan menjadi bagian penting dari kehidupan
masyarakat. Salah satu kekuatan yang membentuk identitas tersebut adalah tradisi
pembelajaran Turats—khazanah keilmuan Islam klasik yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, keberadaan turats menjadi
menarik untuk kembali dibicarakan.
Apakah kitab-kitab klasik masih relevan bagi generasi santri hari ini..? Ataukah ia hanya menjadi simbol masa lalu yang perlahan kehilangan tempat di tengah modernisasi pendidikan?
Menurut saya, turats justru dapat menjadi salah satu alasan mengapa identitas
Mandailing Natal sebagai Kota Santri perlu dipertahankan dan diperkuat.
Turats bukan sekadar kitab lama yang ditulis dalam bahasa Arab. Di dalamnya terdapat warisan intelektual yang mencakup fikih, tafsir, hadis, akidah, tasawuf, bahasa Arab,hingga berbagai disiplin keislaman lainnya.
Membaca turats berarti memasuki ruang
dialog dengan para ulama terdahulu yang telah membangun tradisi keilmuan Islam melalui proses panjang membaca, menulis, berdiskusi, mengkritik, dan mengembangkan pemikiran.
Di Mandailing Natal, tradisi tersebut bukan sesuatu yang asing. Pesantren seperti
Musthafawiyah Purba Baru telah lama dikenal dengan tradisi pengajaran kitab-kitab klasik.
Kehadiran pesantren semacam ini menunjukkan bahwa pembelajaran turats bukan sekadar bagian dari kurikulum, melainkan telah menjadi bagian dari budaya intelektual masyarakat.
Namun, mempertahankan turats tidak berarti mempertahankan seluruh praktik
pembelajarannya tanpa perubahan.
Justru di sinilah tantangan terbesar pesantren hari ini.
Generasi santri sekarang hidup dalam lingkungan yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, video pendek, dan berbagai sumber pengetahuan yang tersedia hanya dalam hitungan detik. Mereka terbiasa memperoleh informasi secara cepat dan visual.
Sementara itu, Turats menuntut kesabaran.
Satu halaman kitab dapat membutuhkan waktu yang panjang untuk dipahami.
Santri tidak hanya dituntut mengetahui arti kata, tetapi juga memahami struktur bahasa Arab, konteks pembahasan, istilah keilmuan, serta cara ulama membangun argumentasi.
Di sinilah pembelajaran turats sebenarnya memiliki nilai pendidikan yang sangat penting.
Ia mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu dapat diperoleh secara instan.
Membaca kitab klasik melatih ketekunan, ketelitian, kemampuan berpikir kritis, dan
penghargaan terhadap proses.
Santri belajar bahwa sebuah pendapat memiliki dasar,sebuah kesimpulan memiliki argumentasi, dan sebuah teks perlu dibaca secara hati-hati sebelum ditafsirkan.
Karena itu, menurut saya, persoalan kita bukan apakah turats masih relevan. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana membuat pembelajaran turats tetap relevan bagi generasi santri hari ini?
Jawabannya bukan dengan meninggalkan kitab klasik, tetapi dengan memperbarui caravsantri berinteraksi dengannya.
Penguasaan bahasa Arab, misalnya, harus menjadi perhatian utama. Banyak kesulitan
santri dalam membaca turats sebenarnya bukan semata-mata karena isi kitabnya terlalu sulit, tetapi karena mereka belum memiliki fondasi bahasa Arab yang memadai.
Nahwu,sharaf, mufradat, dan kemampuan membaca teks Arab harus ditempatkan sebagai pintu masuk menuju khazanah turats.
Namun, pembelajaran bahasa Arab juga tidak cukup berhenti pada hafalan kaidah. Santri perlu dibimbing untuk memahami bagaimana kaidah tersebut bekerja di dalam teks nyata.
Di sinilah pesantren memiliki peluang besar untuk melakukan inovasi tanpa kehilangan
identitas.
Teknologi dapat digunakan sebagai alat bantu membaca turats. Teks kitab dapat
didigitalisasi, kosakata sulit dapat diberi penjelasan, struktur kalimat dapat
divisualisasikan, dan diskusi tentang isi kitab dapat dikembangkan melalui berbagai
platform digital.
Bahkan kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan secara terbatas sebagai
alat bantu awal untuk menemukan kosakata atau memahami struktur teks, tentu dengan tetap menempatkan guru sebagai otoritas akademik dan memastikan verifikasi terhadap sumber asli.
Dengan cara demikian, teknologi tidak menggantikan tradisi turats. Teknologi justru dapatmembantu generasi baru mendekatinya.
Lebih jauh, saya melihat turats dapat menjadi kekuatan identitas pendidikan Mandailing Natal.
Jika daerah lain memiliki ikon berupa wisata alam, kuliner, atau industri kreatif,
Mandailing Natal memiliki sesuatu yang tidak kalah berharga: tradisi intelektual
pesantren.
Akan tetapi, sebuah ikon tidak cukup hanya dikenang. Ia harus terus dihidupkan.
Karena itu, predikat Kota Santri seharusnya tidak berhenti sebagai slogan.
Ia perlu tercermin dalam budaya membaca, tradisi kajian kitab, kompetensi bahasa Arab,kemampuan santri berdiskusi, serta lahirnya generasi yang mampu meneruskan tradisi keilmuan ulama terdahulu dalam konteks kehidupan modern.
Kita tentu tidak ingin turats hanya menjadi kitab yang tersimpan rapi di rak pesantren. Kita ingin ia menjadi sumber inspirasi yang terus dibaca, dikaji, dipahami, dan dikembangkan.
Pada akhirnya, mempertahankan turats bukan berarti membawa Mandailing Natal kembali ke masa lalu. Justru sebaliknya, turats dapat menjadi akar untuk melangkah ke masa depan.
Kota Santri bukan hanya kota yang memiliki banyak pesantren. Kota Santri adalah kota
yang mampu melahirkan masyarakat yang menghargai ilmu, tradisi, dan pemikiran.

Jika tradisi pembelajaran turats mampu terus hidup, beradaptasi, dan melahirkan generasi yang menguasai khazanah klasik sekaligus mampu menjawab persoalan zaman, maka Mandailing Natal tidak hanya layak disebut sebagai Kota Santri.
Ia dapat menjadi salah satu pusat kebangkitan intelektual Islam yang berakar pada tradisi,tetapi tidak takut menghadapi masa depan.( WhatsApp).
Admin : Dita Risky Saputri.SKM.








