*** Oleh: Rani Ismil Hakim, M.Pd. (Dosen STAIN Mandailing Natal)***

Sore hari, beberapa orang duduk di sebuah lopo. Secangkir kopi tersaji di atas meja.
Ada yang baru pulang kerja, ada yang baru turun dari kebun, ada yang sengaja
mampir menemui kawan, dan ada pula yang sebenarnya tidak punya urusan apa-
apa selain ingin duduk dan berbincang.
Obrolannya bermacam-macam: harga kebutuhan sehari-hari, hasil kebun, keadaanvkampung, sepak bola, sampai kadang politik.
Bagi sebagian orang, itu hanya nongkrong di warung kopi. Tapi bagi masyarakat
Mandailing, ada istilah yang lebih tepat untuk menggambarkannya: marlopo.
Dalam Kamus Angkola-Mandailing, lopo berarti kedai, dan marlopo berarti berkedai.
Namun dalam kehidupan sosial masyarakat, marlopo tidak sesederhana definisi itu.
Marlopo bukan hanya soal kopi — marlopo adalah soal pertemuan.
Lopo sebagai Ruang Bertemu
Kalau rumah adalah ruang keluarga dan masjid adalah ruang ibadah, maka lopo
adalah ruang sosial masyarakat.
Orang datang tanpa janji, tanpa undangan, tanpavsusunan acara. Cukup datang, duduk, memesan minuman, dan percakapan berjalancsendiri — mengalir dari harga kopi, ke ekonomi, ke hasil kebun, sampai tak terasa berakhir di soal pembangunan jalan atau politik.
Masyarakat Madina sejak dulu terbiasa membahas berbagai persoalan bersama di
lopo, meski kini sebagian kebiasaan itu mulai bergeser ke media sosial dan grup
percakapan digital.
Artinya, lopo bukan sekadar tempat menghabiskan waktu,
melainkan bagian dari cara masyarakat berinteraksi.
Dari Lopo, Banyak Kabar Berjalan
Di lopo, petani bertemu petani, pedagang bertemu pedagang, orang tua berbincang
dengan anak muda.
Masing-masing membawa cerita: kabar dari pasar, dari kebun,dari kampung sebelah. Informasi berpindah dari satu orang ke orang lain, dan dalambprosesnya orang belajar, membandingkan, dan kadang menemukan jalan keluar dari
persoalan yang dihadapi — bukan karena ada ahli yang menjawab, tapi karena ada
banyak orang yang bersedia mendengar.
Di situlah nilai sosial marlopo yang sesungguhnya: ia menjadi ruang pewarisan
budaya yang berlangsung alami, lewat percakapan sehari-hari, bukan lewat buku
atau seminar.
Ketika Teknologi Masuk ke Lopo
Zaman sudah berubah. Dulu, untuk tahu kabar seseorang, kita harus bertemu.
Sekarang ada WhatsApp, Facebook, TikTok, YouTube — informasi datang nyaris
tanpa jeda. Ironisnya, kita bisa duduk satu meja tapi masing-masing sibuk dengan
telepon; berada dalam satu ruangan, tapi berbicara dengan orang yang jauh di
tempat lain.
Fenomena ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan menyentuh sesuatu yang
lebih mendasar: cara manusia berinteraksi. Lalu, apakah marlopo akan kehilangan
maknanya? Menurut saya, belum tentu.
Marlopo Tidak Harus Hilang
Budaya tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang persis sama — ia bisa
beradaptasi, asal nilainya tidak ikut hilang. Lopo boleh berubah wujud, dari warung
sederhana menjadi kedai kopi modern, dari bangku kayu menjadi kursi empuk.
Tapi jangan sampai perubahan bentuk itu menghilangkan ruh marlopo — sebab yang
membuat lopo hidup bukan meja atau kopinya, melainkan percakapan manusia di
dalamnya.
Lebih dari itu, lopo sebenarnya adalah ruang belajar masyarakat: anak muda
mendengar pengalaman orang yang lebih tua, petani bertukar pengetahuan dengan
petani lain.
Sebagian pengetahuan hidup memang lahir bukan dari ruang kelas, melainkan dari cerita ke cerita, dari pengalaman ke pengalaman.
Marlopo Juga Butuh Etika
Namun harus jujur diakui, marlopo tidak selalu menghasilkan hal positif.
Ketika banyak orang berkumpul dan bicara, informasi yang belum tentu benar juga ikut
berpindah — dugaan bisa berubah jadi kabar, kabar bisa berubah seolah jadi fakta.
Karena itu marlopo membutuhkan kedewasaan: tidak semua yang kita dengar harus diteruskan, dan tidak semua cerita tentang orang lain pantas dijadikan bahan
obrolan.
Marlopo seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran, bukan tempat merusak nama baik orang lain — tempat mencari solusi, bukan memperbesar persoalan.
Menjaga Keseimbangan di Era Digital
Masyarakat Madina sebenarnya tidak perlu memilih antara teknologi dan marlopo —
keduanya bisa berjalan beriringan.
Kita boleh aktif di media sosial, tapi jangan
sampai kehilangan kebiasaan duduk bersama; boleh berdiskusi lewat grup, tapi
jangan lupa bahwa percakapan langsung punya kehangatan yang tak selalu bisa
diberikan layar.
Teknologi seharusnya memperluas hubungan manusia, bukan
menggantikannya.
Bayangkan jika lopo tak lagi hanya tempat minum kopi, tapi juga tempat anak muda
berdiskusi soal pendidikan, warga menyampaikan aspirasi, dan generasi tua berbagivpengalaman kepada generasi muda.
Dengan begitu, marlopo bukan sekadar
kebiasaan masa lalu, melainkan budaya yang hidup di masa kini.
Penutup
Bentuk lopo mungkin akan terus berubah — lopo tradisional makin sedikit, kedai
kopi modern makin banyak, teknologi makin canggih.Itu keniscayaan yang tak bisa dihindari. Tapi perubahan tidak harus berarti kehilangan nilai yang sudah lama hidup ditengah masyarakat.

Selama masih ada orang yang mau duduk bersama, saling menyapa, berbicara, dan
mendengar, ruh marlopo akan tetap hidup. Sebab pada akhirnya, marlopo bukan
tentang kopi — ia tentang manusia, tentang pertemuan, tentang bagaimana
masyarakat Mandailing merawat hubungan sosialnya.
Maka ketika suatu hari seseorang berkata, “Marlopo ma hita” — jangan buru-buru
menganggapnya sekadar ajakan minum kopi. Bisa jadi, itu ajakan untuk menjaga
sesuatu yang jauh lebih berharga: silaturahmi dan kebersamaan(WhatsApp).
Admin : Dita Risky Saputri.SKM.








