*** Oleh : NUR HAMIDAH PULUNGAN, M.TH
Dosen Ilmu Hadis
STAIN Mandailing Natal ***

Ada tanggal yang kita rayakan, Ada tanggal yang kita peringati.Tetapi ada pula tanggal yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri.
1 September termasuk yang mana?
Di Indonesia, tanggal ini kerap dikaitkan dengan Hari Polisi Wanita (Polwan).
Didunia internasional, tanggal yang sama juga dikenal melalui World Letter Writing
Day dan Knowledge Day di Rusia serta sejumlah negara bekas Uni Soviet.
Jika ketiganya dibaca secara terpisah, tidak banyak yang dapat ditemukan selain fakta
bahwa masing-masing memiliki sejarah dan makna sendiri.
Tetapi jika kita melihatnya dengan kacamata profetik , 1 September dapat dibaca sebagai sebuah perjumpaan antara tiga hal yang sangat menentukan kehidupan manusia:kekuasaan, komunikasi, dan pengetahuan. Polwan berada dalam ruang
kekuasaan dan pelayanan. Surat berada dalam ruang komunikasi.
Pendidikan berada dalam ruang pengetahuan. Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar:Apa yang terjadi ketika kekuasaan, komunikasi, dan pengetahuan kehilangannilai kemanusiaan?
Dan sebaliknya:Apa yang terjadi ketika ketiganya dikelola dengan nilai-nilai kenabian?
Nabi Tidak Hanya Mengajarkan Apa yang Harus DipercayaMembaca kehidupan secara profetik berarti tidak berhenti pada pertanyaan apakah sesuatu itu boleh atau tidak boleh.
Kita juga bertanya:
Apakah ia menghadirkan keadilan?
Apakah ia menjaga martabat manusia?
Apakah ia mengurangi penderitaan?
Apakah ia membawa kemaslahatan?
Sebab Rasulullah SAW sendiri menempatkan akhlak sebagai bagian penting dari misi kerasulan. Beliau bersabda:ﻕِﻼَﺧْﻻﺍ ﺢﻟَِﺎﺻَﻢﻤَﺗَﻻ ِﺖﺜُْﻌﺑِ ُﺎﻤﻧَ ﺍ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini memberikan kunci untuk membaca kehidupan.
Agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ia juga berbicara tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya. Karena itu, kualitas keberagamaan tidak hanya tampak di tempat ibadah. Ia terlihat di kantor pelayanan.
Ia terlihat di ruang kelas. Ia terlihat ketika seseorang berbicara. Ia terlihat ketika seseorang memiliki kekuasaan.
Dan ia terlihat ketika seseorang berhadapan dengan manusia yang berada dalam posisi lebih lemah. Inilah titik berangkat pembacaan profetik terhadap 1 September.
Ketika Kekuasaan Ditanyakan oleh Nabi
Kita sering melihat kekuasaan dari sisi kewenangan. Nabi mengajarkan kita
melihatnya dari sisi pertanggungjawaban.
ﻪﺘِﻴِ ﻋﺭِ َﻦْﻋَﻝﻮٌﺌُﺴْﻣَﻢْﻜُﻠﻛﻭُ َﻉٍﺍﺭَﻢْﻜُﻠﻛُ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai
pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini membuat jabatan tidak pernah menjadi sesuatu yang netral. Semakin
besar kewenangan, semakin besar pula tanggung jawab.
Karena itu,memperingati Hari Polwan tidak semestinya hanya berhenti pada penghormatan terhadap perempuan yang bekerja di institusi kepolisian. Lebih jauh, kita perlu mengapresiasi pengabdian. Sebab masyarakat sesungguhnya tidak
membutuhkan kekuasaan yang hanya tampak kuat.
Masyarakat membutuhkan kekuasaan yang mampu membuat mereka merasa terlindungi.
Polisi yang profesional menghadirkan keamanan. Polisi yang adil menghadirkan kepercayaan.
Polisi yang humanis menghadirkan rasa dihargai. Dan ketika seorang Polwan
menjalankan tugas dengan integritas, ia tidak hanya sedang melaksanakan
kewajiban institusional.
Ia sedang menunjukkan bahwa kekuasaan dapat menjadi jalan pelayanan kepada manusia. Dalam perspektif profetik, itulah yang seharusnya terjadi.
Kekuasaan tidak boleh menjauhkan manusia dari manusia. Kekuasaan justru harus mendekatkan perlindungan kepada mereka yang membutuhkan.
Ukuran Kesalehan Ada pada Rasa Aman Orang Lain Ada satu hadis Nabi yang sangat menarik untuk diletakkan dalam konteks ini.
ﻦُﻣﺆِﻳْ ُﻻَ ِﺍﻭَ،ﻦُﻣﺆِﻳْ ُﻻَ ِﺍﻭَ،ﻦُﻣﺆِﻳْ ُﻻَ ِﺍﻭَ
Para sahabat bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
ﻪُﻘﺋَِﺍﻮﺑَ َﻩﺭُُﺎﺟَﻦُﻣَﻳ َﻻَﻱﺬﻟِ ﺍ
“Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut mengubah cara kita memandang keberagamaan.
Kesalehan tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah seseorang. Ada manusia yang mungkin sangat rajin beribadah, tetapi orang-orang di sekitarnya tidak merasa aman.
Ada pula orang yang banyak berbicara tentang moral, tetapi perilakunya membuat
orang lain tertekan.
Dalam perspektif profetik, keadaan seperti ini adalah sebuah kontradiksi. Karena itu, ukuran sederhana kehidupan sosial adalah:
Apakah orang lain merasa aman karena kehadiran kita?
Pertanyaan ini berlaku bagi polisi, pejabat, guru, dosen, pemimpin, bahkan
masyarakat biasa.
Ketika Sebuah Kata Dapat Menjadi Luka
Dari persoalan kekuasaan, kita berpindah ke sesuatu yang tampaknya jauh lebih
sederhana: kata-kata .
1 September juga menjadi momentum untuk mengingat kembali tradisi menulis
surat. Surat memiliki sesuatu yang mulai hilang dalam kehidupan digital: waktu
untuk berpikir. Hari ini, kita dapat mengirim pesan tanpa sempat
mempertimbangkan akibatnya. Semuanya dapat bergerak jauh lebih cepat
daripada kemampuan kita untuk menariknya kembali.
Padahal Nabi telah memberikan prinsip yang sangat sederhana:
ﺖﻤُْﺼﻴْﻟَ ِﻭْ ﺍﺮﻴًْﺧَﻞْﻘﻴَُﻠْﻓَﺮِﺧِﻵﺍ ﻡﻮِﻴْﻟَْﺍﻭَ ِﺎﺑِﻦُﻣﺆِﻳْ ُﻥَﺎﻛَﻦْﻣَ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau
diam.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kalimat ini semakin relevan pada zaman ketika manusia memiliki kemampuan
berbicara yang tidak terbatas.
Persoalannya bukan lagi apakah kita dapat
berbicara. Kita semua dapat berbicara. Persoalannya adalah:
Apakah kita tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam?
Jari-Jari Kita Juga Memiliki Pertanggungjawaban
Nabi juga bersabda:
ﻩِﺪﻳِﻭَ َﻪﻧِِﺎﺴﻟَ ِﻦْﻣِﻥﻮَﻤُﻠِﺴﻤْﻟُْﺍ ﻢَﻠِﺳَﻦْﻣَﻢُﻠِﺴﻤْﻟُْﺍ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya
HR. al-Bukhari dan Muslim).
Di masa lalu, lisan dan tangan memiliki bentuk yang sangat konkret.
Hari ini, keduanya telah memasuki dunia digital.
Tangan kita dapat mengetik komentar.
Tangan kita dapat membagikan berita.
Tangan kita dapat menyebarkan tuduhan.
Tangan kita dapat mengangkat martabat seseorang, tetapi juga dapat
menghancurkannya.
Karena itu, etika profetik harus masuk ke dalam ruang digital.
Sebelum menekan tombol kirim, mungkin kita perlu bertanya:
Apakah ini benar?
Apakah ini perlu?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah ada manusia yang akan terluka karenanya?
Jika jawabannya tidak jelas, mungkin diam adalah pilihan yang lebih bermartabat.
Dari Surat Kita Belajar Mendengarkan
Surat bukan hanya persoalan menulis.
Ia juga persoalan mendengarkan, meskipun dilakukan melalui tulisan.
Di tengah masyarakat yang semakin bising, kemampuan mendengarkan justru
menjadi semakin mahal.Semua orang ingin berbicara.
Sedikit yang bersedia memahami.
Padahal dakwah yang profetik tidak dibangun hanya dengan kemampuan
menyampaikan pesan. Ia membutuhkan kemampuan memahami manusia yang
menerima pesan.
Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan kelembutan dalam hubungan sosial:
ﻢْﺣﺮَﻳْ ُﻻَﻢْﺣﺮَﻳْ َﻻَﻦْﻣَ
“Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kasih sayang bukan kelemahan.
Dalam perspektif profetik, kasih sayang justru merupakan kekuatan sosial.
Ia membuat komunikasi menjadi manusiawi.
Ia membuat pendidikan menjadi menyenangkan.Ia membuat pelayanan menjadi bermartabat.Dan ia membuat dakwah tidak terasa sebagai penghakiman.
Pendidikan: Membentuk Manusia, Bukan Sekadar Mengisi Kepala
Kemudian kita sampai pada Knowledge Day.
Ada satu hal yang menarik dari pendidikan: manusia dapat menjadi semakin pintar
tanpa menjadi semakin bijaksana.
Ia dapat memiliki gelar tinggi, tetapi tidak memiliki empati.
Ia dapat menguasai teknologi, tetapi menggunakannya untuk merugikan orang
lain.
Ia dapat memiliki pengetahuan yang luas, tetapi tidak mengetahui bagaimana
menghormati manusia.
Karena itu, Nabi mengajarkan pentingnya pemahaman:
ﻦﻳِﺪﻟﺍ ﻲﻓِﻪُﻬْﻘﻔﻳَ ُﺍﺮﻴًْﺧَﻪﺑِ ِ ُﺍ ﺩﺮِﻳِ ُﻦْﻣَ
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan
memahamkannya dalam agama.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Perhatikan kata yang digunakan: yufaqqihhu—memberikan pemahaman.
Pendidikan bukan sekadar membuat manusia tahu.Pendidikan seharusnya membuat manusia memahami.
Memahami dirinya.
Memahami orang lain.
Memahami lingkungan.
Memahami tanggung jawab.
Dan akhirnya memahami hubungan dirinya dengan Tuhan.
Jangan Sampai Ilmu Kehilangan Arah
Nabi bahkan mengajarkan agar manusia berlindung dari ilmu yang tidak
bermanfaat:
ﻊُﻔﻨَﻳْ َﻻَﻢٍﻠْﻋِﻦْﻣِﻚﺑَ ِﺫﻮُﻋُ ﻲﻧﺍ ﻢﻬُﻠﻟﺍ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
(HR. Muslim)
Hadis ini seharusnya menjadi bahan renungan bagi dunia pendidikan.
Untuk apa ilmu jika tidak menyelesaikan persoalan?
Untuk apa penelitian jika tidak memberikan manfaat? Untuk apa gelar jika tidak membuat pemiliknya semakin bertanggung jawab?
Untuk apa kecerdasan jika tidak disertai kebijaksanaan?
Dalam kacamata profetik, ilmu harus bergerak dari pengetahuan menuju
kemanfaatan.
Sebab ilmu yang hanya berhenti sebagai prestise dapat kehilangan misi
kemanusiaannya.
Perempuan Bukan Sekadar yang Dilindungi
Kembali kepada Hari Polwan, ada satu hal yang juga penting untuk direnungkan.
Perempuan tidak semestinya selalu ditempatkan hanya sebagai pihak yang harus dilindungi.
Perempuan juga memiliki kemampuan untuk melindungi, memimpin, mendidik,
dan mengabdi.
Nabi bersabda:
ﻝِﺎﺟﺮَﻟﺍ ﻖﺋُِﺎﻘَﺷَﺀُﺎﺴﻨَﻟﺍ ﺎﻤﻧَ ﺍ
“Sesungguhnya perempuan adalah saudara/mitra bagi laki-laki.”
(HR. Abu Dawud, al-Tirmidzi, dan Ahmad)
Pesan tersebut dapat menjadi dasar untuk melihat perempuan sebagai bagian dari
kekuatan sosial.
Karena itu, kehadiran Polwan bukan semata-mata tentang jumlah perempuan
dalam institusi kepolisian.
Yang jauh lebih penting adalah kontribusi perempuan dalam menghadirkan
keamanan dan pelayanan yang manusiawi.
Begitu pula dalam pendidikan, dakwah, pemerintahan, dan berbagai bidang
kehidupan lainnya.
Perempuan bukan hanya penerima perubahan.
Perempuan juga dapat menjadi penggerak perubahan.
Sebaik-baik Manusia adalah yang Memberi Manfaat
Pada akhirnya, seluruh pembicaraan ini dapat ditarik kepada sebuah prinsip
sederhana:
ﺱِﺎﻨﻠﻟِﻢْﻬُﻌُﻔﻧَْ ﺱِﺎﻨﻟﺍ ﺮﻴُْﺧَ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Hadis ini populer sebagai prinsip etika sosial dalam Islam.
Jika demikian, maka ukuran keberhasilan kita sesungguhnya sederhana.
Bukan hanya seberapa tinggi jabatan kita.
Bukan hanya seberapa banyak gelar yang kita miliki.
Bukan pula seberapa banyak pengikut kita di media sosial.
Pertanyaannya adalah:
Berapa banyak manfaat yang lahir dari keberadaan kita?
Seorang Polwan dapat memberikan manfaat melalui pelayanan.
Seorang guru melalui pendidikan.
Seorang penulis melalui kata-kata.
Seorang dosen melalui ilmu.
Seorang pemimpin melalui kebijakan yang adil.
Dan masyarakat biasa pun dapat memberikan manfaat melalui tindakan-tindakan
kecil yang sering kali tidak tercatat dalam sejarah.
Nabi bahkan mengingatkan:
ﺎﺌﻴًْﺷَﻑﻭِﺮُﻌﻤْﻟَْﺍ ﻦَﻣِﻥﺮَﻘِﺤﺗْ َﻻَ
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun.”
(HR. Muslim)
Tidak ada kebaikan yang terlalu kecil jika ia dilakukan dengan ketulusan.
Profetik Bukan Sekadar Wacana
Di sinilah 1 September dapat menjadi lebih dari sekadar peringatan.
Ia dapat menjadi cermin.
Hari Polwan bertanya kepada kita tentang bagaimana kekuasaan digunakan.
World Letter Writing Day bertanya tentang bagaimana kata-kata diperlakukan .
Knowledge Day bertanya tentang untuk apa ilmu dikembangkan.
Dan hadis-hadis Nabi membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah semua itu membuat manusia menjadi lebih baik?
Rasulullah SAW bersabda:
ﺍﻭﺮُﻔﻨﺗَ ُﻻﻭَ َﺍﻭﺮُﺸﺑﻭَ َ،ﺍﻭﺮُﺴﻌﺗَ ُﻻﻭَ َﺍﻭﺮُﺴﻳَ
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit; berilah kabar gembira dan jangan
membuat orang menjauh.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Inilah salah satu prinsip paling sederhana dalam membaca kehidupan secara
profetik.
Jangan menjadi sumber kesulitan bagi manusia.
Jangan menjadikan jabatan sebagai alat menekan.
Jangan menjadikan ilmu sebagai alat menyombongkan diri.
Jangan menjadikan agama sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Jangan menjadikan kata-kata sebagai senjata untuk melukai.
Sebaliknya, jadilah manusia yang membuat kehidupan sedikit lebih mudah bagi
orang lain.
1 September: Sebuah Pertanyaan untuk Kita
Mungkin pada akhirnya kita tidak perlu terlalu sibuk mencari tahu berapa banyak
peringatan yang terdapat pada tanggal 1 September.
Yang lebih penting adalah apa yang kita lakukan setelah mengetahuinya.
Sebab tanggal hanya akan menjadi tanggal jika tidak melahirkan refleksi.
Hari Polwan akan menjadi seremoni jika kita tidak belajar tentang amanah dan
pelayanan.
Hari Menulis Surat akan menjadi nostalgia jika kita tidak belajar menjaga kata-
kata.
Knowledge Day akan menjadi pembukaan tahun ajaran jika pendidikan tidak
melahirkan manusia yang berilmu sekaligus beradab.
Dan dakwah akan kehilangan ruhnya jika hanya pandai berbicara tentang
kebaikan tetapi tidak menghadirkannya dalam kehidupan.
Maka, melalui kacamata profetik, 1 September sesungguhnya dapat dibaca
sebagai sebuah ajakan:
Gunakan kekuasaan untuk melindungi.
Gunakan kata-kata untuk menyembuhkan.
Gunakan ilmu untuk mencerdaskan.
Gunakan profesi untuk mengabdi.
Gunakan kehidupan untuk memberi manfaat.

Sebab warisan kenabian bukan hanya berupa kata-kata yang kita hafalkan.
Ia adalah nilai yang harus kita hidupkan.
Dan barangkali, itulah cara terbaik memperingati 1 September:bukan sekadar mengingat sebuah tanggal,
tetapi memastikan bahwa kehadiran kita membuat kehidupan manusia lain
menjadi sedikit lebih aman, lebih berilmu, lebih dihargai, dan lebih bermartabat( WhatsApp)
Admin : Dita Risky Saputri.SKM.








