
Jangan Hanya Mencari Ketua, Siapkan Pemimpin Berikutnya! Jika kedekatan dengan rakyat harus dibuktikan melalui kerja, pertanyaan berikutnya adalah: siapa yang memastikan kerja itu terus berlangsung..?
Sebuah partai tidak mungkin menggantungkan seluruh geraknya pada satu figur. Ia membutuhkan organisasi yang hidup, kader yang tumbuh, dan sistem yang tetap bekerja ketika kepemimpinan berganti.
Di sinilah gagasan Indah Annisa tentang konsolidasi struktur dan Sekolah Kader Madina menemukan tantangan sesungguhnya.
Menghidupkan kepengurusan hingga desa dan kecamatan merupakan langkah awal. Namun, struktur yang lengkap belum tentu menjadi organisasi yang kuat.
Ukurannya bukan sekadar berapa banyak pengurus tercatat, melainkan seberapa aktif mereka bekerja dan seberapa besar kemampuan mereka menjawab persoalan masyarakat.
Begitu pula kaderisasi. Pendidikan politik tidak cukup menghasilkan kader yang memahami ideologi partai atau mahir berkomunikasi.
Kader harus diberi kesempatan mengelola program, memecahkan persoalan, memimpin tim, dan mempertanggungjawabkan hasilnya.
Dari proses itulah pengalaman berubah menjadi kapasitas.
Karena itu, gagasan kaderisasi berjenjang perlu diikuti ukuran yang jelas: siapa yang sudah berkembang, kemampuan apa yang telah dikuasai, dan tanggung jawab apa yang layak diberikan berikutnya.
Prestasi tidak cukup dinilai dari kedekatan dengan pimpinan atau keaktifan dalam acara seremonial. Ia perlu terlihat dalam kerja dan integritas.
Di sisi lain, membuka ruang bagi generasi muda dan perempuan juga harus melampaui keterwakilan dalam struktur. Mereka memerlukan kesempatan nyata untuk mengambil keputusan dan memimpin kegiatan.
Regenerasi bukan sekadar mengganti orang lama dengan orang baru, melainkan memperluas kemampuan organisasi tanpa membuang pengalaman yang sudah dimiliki.
Di sinilah Musda memiliki arti lebih besar daripada memilih ketua. Ia menjadi kesempatan untuk menilai bukan hanya siapa yang siap memimpin hari ini, tetapi juga bagaimana kepemimpinan berikutnya dipersiapkan. Ketua terpilih perlu membangun tim, membagi tanggung jawab, dan memberi ruang bagi kader lain untuk berkembang.
Tentu, semua itu tidak bisa dibebankan kepada seorang calon. Ia membutuhkan komitmen kolektif pengurus dan kader.
Namun, arah kepemimpinan akan menentukan apakah kaderisasi menjadi agenda organisasi yang berkelanjutan atau sekadar janji dalam berkas pencalonan.
Maka, ukuran keberhasilan Musda bukan hanya siapa yang memperoleh mandat. Pertanyaan yang tak kalah penting ialah apakah setelah Musda Golkar Madina memiliki lebih banyak kader yang siap bekerja, lebih banyak pemimpin yang teruji, dan organisasi yang tidak bergantung pada satu nama.
Sebab, partai yang kuat bukan hanya mampu melahirkan seorang ketua. Ia harus mampu menyiapkan pemimpin berikutnya.
(Bersambung ke seri 5)
Admin : Iskandar Hasibuan.SE.








