ADAKAH KEJUTAN “KUDA HITAM” DI LUAR RADAR (NALAR?) MUSDA KNPI MADINA 2026?

Kripis Lepas || Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Musda VII KNPI Mandailing Natal (Madina) mulai memasuki babak yang menarik.** Enam orang telah mengambil formulir bakal calon ketua. Batas pengembalian formulir dijadwalkan 5 November 2026, sementara Musda direncanakan berlangsung 8 November di Hotel Rindang, Panyabungan.

Di atas kertas, kontestasi ini tampak seperti pemilihan ketua organisasi kepemudaan biasa. Tetapi di baliknya ada persoalan yang jauh lebih besar: sejarah dualisme, fragmentasi kepemimpinan, dan versi-versi yang belum sepenuhnya menemukan titik temu.

Karena itu, pertanyaan menariknya bukan hanya siapa yang paling berpeluang menang. Melainkan: adakah kuda hitam yang akan mengejutkan, atau kuda pemersatu yang mampu mengakhiri cerita tentang KNPI yang terbelah?

Kejutan di Luar Radar (Nalar?)

Dalam setiap kontestasi, kuda hitam tidak selalu datang dari nama yang paling sering disebut. Ia bisa muncul dari jaringan yang selama ini bekerja senyap, dukungan lintas-OKP, atau kemampuan membangun komunikasi dengan kelompok yang berbeda.

Dengan daftar pemilih sementara sebanyak 33 suara, kekuatan kandidat tidak cukup diukur dari popularitas atau banyaknya pernyataan dukungan di ruang publik. Yang menentukan adalah kemampuan mengonsolidasikan suara organisasi yang memiliki hak dalam Musda.

Nama Bobby Burhansyah Nasution, Mulya Arisandi, Pajar Rahman atau Ade Batubara, misalnya, sudah lebih dahulu tampil membawa gagasan “KNPI Satu Nafas, Satu Arah”. Mereka menawarkan Musda sebagai ruang manajemen konflik, bukan arena memperpanjang persaingan antarkubu.

Sementara itu, beberapa nama lain sempat muncul dalam percakapan awal menuju Musda. Namun, nama-nama yang beredar di ruang publik tidak otomatis merupakan enam orang yang telah mengambil formulir. Karena itu, terlalu dini menetapkan siapa kuda hitam sebelum daftar kandidat resmi diumumkan.

Dan, kita mulai sedikit terkejut dengan kemunculan sosok Awaluddin yang ternyata sudah ambil formulir dan menyatakan dapat restu dari pimpinan ormasnya. Diskusi di jauh-jauh hari dengan kader Sapma Pemuda Pancasila Madina ini, visinya sama: KNPI Satu Nafas, Satu Arah.

Mungkin saja ada yang muncul dari luar radar. Bahkan, bisa saja, ada yang mulai merangkai bisik-bisik jadi alur cerita bercabang (plot twist) dan membawa cerita hingga ke luar nalar.

Pemuda memang punya sejarah Sumpah. Tapi KNPI, hingga hari ini, masih butuh pembuktian — mampu menepis gesekan-gesekan perpecahan dari dirinya. Sumbernya, bisa saja kepentingan sempit dari pihak eksternal. Organ sejenis KNPI memang kerap jadi sansak empuk untuk target-target politik kekuasaan.

Walau kolam “beriak tanda tak dalam, namun arus sungai tenang bisa menghanyutkan. Peribahasa berpesan, yang beriak atau berisik itu biasanya dangkal, ilmunya mungkin cetek. Tapi, Musda yang diam/tenang itu justru bisa dalam, dan kalau bergerak, bisa menghanyutkan.

Bahkan, AI (artificial intelligent) bisa membaca versi yang lebih nampol: “Jangan remehkan air yang tenang, sekali dia bergerak, yang berteriak pun tenggelam.”

Kuda hitam sesungguhnya adalah kandidat yang mampu mengubah peta dukungan ketika kontestasi mulai mengerucut.

Pemersatu: Bukan Sekadar Pemenang

Tetapi Madina membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada kejutan elektoral.

Kuda pemersatu adalah figur yang tidak hanya mampu mengumpulkan suara, tetapi juga diterima oleh kelompok yang selama ini berbeda jalan. Dia tidak menjadikan kemenangan sebagai legitimasi untuk menguasai organisasi, melainkan sebagai mandat untuk merajut kembali kepercayaan.

Inilah ujian yang lebih berat.

Sebab, persoalan KNPI Madina bukan semata-mata siapa ketuanya. Ada sejarah konflik yang berlapis, mulai dari dinamika kepemimpinan nasional, pertarungan di tingkat Sumatera Utara, hingga pergantian kepemimpinan di Madina.

Kita pernah menyaksikan bagaimana perbedaan forum dan legitimasi dapat melahirkan kepemimpinan yang saling berhadapan. Jika Musda VII hanya menghasilkan satu ketua baru tanpa rekonsiliasi, konflik lama berpotensi menemukan panggung baru.

Maka, figur pemersatu harus memiliki tiga modal: legitimasi organisasi, kemampuan menjembatani perbedaan, dan keberanian membangun kepengurusan yang inklusif.

Versi Hilang, KNPI Menang

Sampai 4 November, pemberitaan publik belum menunjukkan adanya versi lain yang secara terbuka mengumumkan jadwal, panitia, daftar peserta, atau kandidat untuk menyelenggarakan Musda tandingan. Namun, ketiadaan informasi tersebut bukan jaminan bahwa seluruh persoalan dualisme sudah selesai.

Setidaknya ada tiga kemungkinan.

Pertama, seluruh kelompok menerima Musda VII sebagai momentum penyatuan. Ini skenario terbaik, sekaligus paling membutuhkan kedewasaan politik organisasi.

Kedua, Musda berlangsung, tetapi sebagian kelompok tidak ikut atau belum menerima hasilnya. Secara administratif mungkin ada ketua terpilih, tetapi legitimasi sosial-organisasinya masih harus diperjuangkan.

Ketiga, muncul forum atau Musda versi lain. Jika ini terjadi, Madina kembali berhadapan dengan persoalan lama: organisasi yang seharusnya menyatukan pemuda justru menjadi cermin perpecahan.

Karena itu, panitia, peserta, dan para kandidat memikul tanggung jawab yang sama: memastikan Musda tidak sekadar sah menurut prosedur, tetapi juga kuat dalam penerimaan dan rekonsiliasi.

Memenangkan Masa Depan

Kita tidak sedang mencari kuda yang paling kencang berlari menuju kursi ketua. Kita sedang mencari figur yang mampu membawa seluruh gerbong kepemudaan menuju satu arah.

Kuda hitam boleh membuat kejutan. Tetapi kuda pemersatu dapat meredam bisik-bisik anyir — apalagi yang berbau titipan eksternal pemuda, jauh lebih dibutuhkan.

Sebab, kemenangan seorang kandidat hanya berlangsung dalam satu periode kepengurusan. Sementara keberhasilan menyatukan KNPI dapat menjadi warisan bagi generasi pemuda berikutnya.

Di sinilah Musda VII harus melampaui urusan perebutan jabatan. Ia mesti menjadi ruang rekonstruksi sejarah, rekonsiliasi organisasi, dan perumusan agenda masa depan pemuda Madina.

Jangan sampai Musda memenangkan ketua, tetapi ketua gagal mewujudkan persatuan.

Dalam horizon tauhid, kekuasaan organisasi bukanlah kehormatan untuk diperebutkan tanpa batas. Ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan melalui kemaslahatan. Maka, pemimpin yang paling layak bukan semata-mata yang berhasil mengalahkan lawan, melainkan yang sanggup mengubah perbedaan menjadi kekuatan bersama.

Kuda hitam bisa memberi kejutan. KNPI butuh pemersatu. Masa depan milik Pemuda yang sudah memenangkan sejarah. [gl-mep]

Admin : Iskandar Hasibuan.SE.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Giat Ops.Patuh Toba 2026 Polres Madina Datangi Warga Pidoli Lombang, Sekolah Namira Husada dan Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Operasi Patuh Toba 2026 yang digelar Polres Mandailing Natal( Madina) berlangsung mulai 26 Oktober – 08 November 2026.Operasi ini mengusung slogan “Polisi Bersama Masyarakat Mewujudkan Lalu Lintas Aman,…

    Read more

    Continue reading
    Ka.PDAM Tirta Madina : Sudah Dilaporkan Warga, Besi WF Pipa PDAM Tirta Madina Jatuh di Aek Mata, Pemukiman Warga Terancam Banjir

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Konstruksi penopang pipa transmisi PDAM Tirta Madina di Aek Mata Kota Panyabungan, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Jatuh dan jika dibiarkan berpotensi akan terjadi Banjir. ” Kalau…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses