
Pertama kali saya menulis berita, itu terjadi di tahun pertama saya jadi mahasiswa jurnalistik di Jakarta, tahun 1991. Sebuah surat kabar yang cukup mentereng, Suara Pembaruan, memuat feature bertema kehidupan manusia (human interes). Hanya beberapa kolom, tapi itu lebih dari yang saya harapkan, dan sejak itu saya meyakini pilihan jalan hidup saya.
Ketika Suara Pembaruan masih bernama Sinar Harapan, pada dekade 1980-an, tulisan saya sudah pernah dipublikasikan media ini. Bentuknya puisi, yang dieditori, kalau saya tak salah, Poppy Donggo, istri A.D. Donggo. Tapi, saat puisi itu disiarkan Sinar Harapan, saya tak terlalu senang. Itu puisi yang tak memuaskan saya.
Saya lebih puas dengan karya jurnalistik yang muncul di Suara Pembaruan, meskipun tulisan itu bukan karya terbaik saya. Yang membuat saya puas, ternyata ada honornya, nilainya tidak lebih Rp30.000. Jumlah itu sangat banyak bagi seorang pemula, dan itu merangsang saya untuk terus menulis.
Semangat saya menggebu-gebu, semakin banyak karya jurnalistik yang saya kirimkan. Suara Pembaruan bukan satu-satunya media, masih ada majalah, tabloid, dan surat kabar lain. Saya pun jadi paham, harga satu tulisan tak selalu sama. Ada yang tinggi, tak sedikit yang nilainya rendah.
Pengetahuan saya tentang dunia jurnalistik bertambah, dan saya mengetahui, setiap institusi penerbitan media membuka diri kepada penulis dari luar institusi. Kebutuhan media-media terhadap pasokan tulisan dari eksternal bervariasi, antara 10 persen sampai 20 persen. Bentuk-bentuk tulisan yang diterima redaksi media bervariasi, mulai dari feature, opini, sastra, esai, humor, kartun, karikatur, foto, dan lain sebagainya. Maka, semua peluang itu saya coba, dan akhirnya saya lebih bersemangat untuk hidup sebagai penulis.
Sejak itu, saya habiskan waktu bersama mesin ketik. Hidup saya dipenuhi irama tuts mesin ketik. Saya belum menggunakan komputer karena tak punya. Saya belajar komputer saat SMA, di rumah seorang kawan. Sekali-sekali saya pakai komputer, biasanya saya akan ke rumah kawan yang juga mahasiswa Gunadarma. Saya mengetik sambil belajar komputer.
Di sela-sela kesibukan, saya memilih jalan-jalan, belajar dari realitas, memahami kehidupan Jakarta yang tak selalu indah. Saya mulai bergaul dengan wartawan, dan suatu hari seorang senior di kampus mengajak saya liputan untuk media di mana ia bekerja. Saya berharap dapat pelajaran, tapi saya justru menyesali keputusan mengikuti senior itu. Ia mengajak saya keliling Jakarta, menemui para pejabat dan meminta amplop. Modalnya hanya senyam-senyum, sama sekali tidak ada aroma jurnalismenya.
Malangnya, banyak wartawan yang seperti senior itu. Tapi, sejak itu, saya mengurangi bergaul dengan wartawan. Mereka selalu bicara tentang para pejabat, dan memilah-milah para pejabat ke dalam dua kategori: (1) pejabat manis dan (2)pejabat sinis. Kategorisasi itu berdasarkan apakah mereka bisa mendapat uang dari pejabat atau tidak sama sekali.
Setelah tak bergaul dengan para wartawan — dan kebiasaan itu menjadi tradisi saya sampai sekarang — saya memilih bergaul dengan para seniman yang sering nongkrong di Taman Ismail Marzuki maupun di Gelanggang Remaja Bulungan. Untuk yang terakhir ini, saya sering datang bersama seorang gadis yang belajar menari maupun berlatih bela diri. Saya, bahkan, acap nongkrong di Blok M, ngobrol dengan para pengamen, atau belajar melukis pada tukang gambar potret di pinggir jalan. Hidup begitu menyenangkan.
Bergaul dengan seniman membuat saya jadi lebih cenderung menulis karya sastra. Orang-orang yang sebelumnya hanya saya baca karyanya, kemudian menjadi kawan berbincang. Percakapan kami tidak soal sastra, tapi soal persaudaraan. Saya sering bertemu Endang Supriadi saat sedang mengambil honor tulisan di Suara Karya, saya bertemu banyak sastrawan saat sedang ke Suara Pembaruan, Jayakarta, Swadesi, dan lain sebagainya.
Dunia saya penuh tulisan, penuh liputan jurnalistik, dan akhirnya saya berpikir untuk bekerja di perusahaan media. Tahun 1997, saya masuk ke dalam manajemen perusahaan media milik konglomerat media. Keputusan itu membuat saya menyesal seumur hidup. Dalam internal media, terlalu banyak kepentingan pribadi yang harus diselamatkan, dan terlalu sedikit orang yang memikirkan kepentingan pembaca.
Perusahaan media itu bisnis belaka. Pengelolanya manusia munafik, sebagian besar. Saya tak menyukai dunia ini dan akhirnya keluar. Saya memilih membangun media yang bukan milik konglomerat. Tapi, keputusan ini pun membuat saya menyesal, karena media bagi banyak orang hanya berarti sebagai alat pengancam. Saya tak menyukainya dan akhirnya memilih karier lain, menjadi penulis buku yang mengawali aktivitas dengan penelitian.
Di dunia ini. saya bisa konsisten tanpa konglomerat, tanpa tekanan. Saya vos bagi diri saya. Dan, saya mulai masuk wilayah konsultan komunikasi, bekerja di lingkungan korporet, kementerian dan lembaga, serta institusi bisnis tanpa tekanan. Saya pun tak menekan, dan hidup saya riang gembira.
Saya mendapatkan yang saya cari, “kegembiraan yang konstanta” dan itu menyenangkan serta menggairahkan. Sampai hari ini, saya dalam rel yang saya persiapkan, dan saya menikmatinya.
Tulisan ini saya buat untuk beberapa orang yang bertanya tentang bagaimana saya menjadi penulis dan apakah pekerjaan ini bisa diandalkan untuk hidup. Saya bilang segala sesuatu tergantung pada cara hidup kita. Semoga ini menginspirasi. Kalau kau menulis, menulislah karena apa yang akan kau sampaikan lewat tulisan bermanfaat bagi orang lain. Jangan tanya berapa rupiah yang kau dapat, karena rupiah bukan orientasi utama.
Orang sering mengatakan “menulis karya sastra tak membuat orang bisa hidup”, dan simpulan semacam ini sebuah kebodohan. Sebab, untuk hidup hanya perlu menghirup oksigen, tak perlu menulis karya sastra.
Selamat Hari Buku Nasional
Sumber Facebook : Budi P.Hutasuhut
Admin : Iskandar Hasibuan.








