Penutupan PETI Berarti Menambah Panjang Daftar Angka Pengangguran dan Kemiskinan (1).

Dokumen Ist

” Pertambangan Tanpa Izin (PETI) identik dengan kehidupan masyarakat kelas bawah,” Ucapan itu hampir setiap hari terdengar di tengah – tengah masyarakat Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara.

Karena itu, Sejumlah Aktivis, Mahasiswa, Penambang dan Warga selama hampir 1 Minggu, berdiskusi dengan berpindah – pindah tempat Diskusi yg Fokus dengan Persoalan Tambang Emas Tanpa Izin( PETI) khususnya di 12 Kecamatan sesuai dengan surat Bupati Mandailing Natal, kepada 12 Camat dari 23 Kecamatan di Bumi Gordang Sambilan.

” Penutupan kegiatan usaha PETI, berarti menambah panjang daftar angka pengangguran dan kemiskinan di Bumi Godang Sambilan,” itulah judul Tulisan ini dibuat, sekalipun mungkin yg baca akan tersenyum dibuatnya.

Kenapa..? Bupati/Wakil Bupati, 40 Anggota DPRD dan Kapolres Mandailing Natal, pasti mengatakan Stop PETI, sebab banyak faktor yang mempengaruhinya, lingkungan rusak dan yg jelas kerugian negara benar – benar banyak akibat adanya PETI.

Untuk kita ketahui dan pahami bersama – sama, bahwa Undang-undang yang mengatur tentang pertambangan emas ilegal di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba).

Dan Secara khusus, Pasal 158 UU Minerba ini mengatur sanksi pidana bagi setiap orang yang melakukan penambangan tanpa izin, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp 100 miliar. 

Pertanyaannya, kenapa Polisi sebagai Aparat Penegak Hukum( APH) yg paling berkompoten Menertibkan PETI, tidak melakukan Penertiban, karena Penegakan Hukum Paling Tepat Untuk Menutup/ Menertibkan PETI, tentu itu adalah Tugas Polisi yang kalau di Mandailing Natal adalah Kapolres.

Mungkin Kapolres Tidak ada menerima Laporan Tentang PETI di Mandailing Natal..? nggak mungkin, sebab Kapolres Madina AKBP.Arie Sofandi Paloh.SH.S.IK, Pernah Mengamankan belasan Ekscavator dari wilayah Kotanopan, hanya saja kasusnya tidak sampai ke Pengadilan.

” Penutupan PETI Berarti Menambah Panjang Daftar Angka Pengangguran dan Kemiskinan,” ucapan tersebut banyak terucap dari Warga diwilayah Kecamatan Hutabargot dan daerah lainnya di Kabupaten Mandailing Natal.

PETI kan Ilegal…?  Jelas dan semua warga sudah mengetahuinya, kecuali warga yang Buta Huruf, mungkin tidak mengerti apa itu yg disebut dengan PETI.( Bersambung Terus).

 

Admin : Iskandar Hasibuan.

 

 

 

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    SERI 12A DARI 12 — SORIKMAS MINING DI UJUNG TANDUK: EVALUASI BERUJUNG SANKSI KERAS

    “Sisa Konsesi 23 Tahun: Masih Menggantung Juga?” Kripis Tuntas || Gugus Literasi Mandailing Epicentrum Hampir tiga dekade Sorikmas Mining (SMM) berada di Mandailing Natal. Namun, tambang emas Sihayo-Sambung belum juga…

    Read more

    Continue reading
    Viral di Medsos, Tambang Diduga Ilegal di Perbatasan Sumbar – Sumut Disorot, Satma AMPI Desak Polisi Usut Dugaan Keterlibatan Oknum Anggota DPRD

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Aktivitas pertambangan yang diduga ilegal di kawasan perbatasan Provinsi Sumatera Barat dan Sumatera Utara tepatnya di Kabupaten Mandailing Natal (Madina),di wilayah Desa Banjar Maga, Kecamatan Ranto Baek, menjadi sorotan…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses