Atika, Contoh Konkret Kerja Keras

Calon Wakil Bupati Madina Atika mambayu/ Dokumen Sukhairi-Atika.

Sejak kehadiran Atika Azmi Utammi Nasution di panggung politik Mandailing Natal sampai hari ini masih terus menjadi perbincangan.

Namun, semakin ke sini perbincangan terkait Atika semakin menarik. Pada awalnya perempuan lulusan University of New South Wales, Australian ini hanya dianggap penghibur semata.

Ia dipandang sebelah mata dan dicap sebagai anak bawang dalam politik.

Bagaimana tidak, tanpa tedeng aling-aling dan tanpa sejarah politik tiba-tiba gadis muda kelahiran Kotanopan ini sudah didaulat menjadi calon wakil bupati Madina.

Padahal politik praktis seperti ini adalah hal yang asing baginya. Namun, atas dorongan dan kemauan yang kuat untuk mengubah arah perekonomian rakyat Mandailing Natal, ia memutuskan untuk terjun pada Pilkada tahun 2020 ini.

Sembari memungut bakti kepada orang tua dengan hadir di sisi mereka, ia secara pelan-pelan menapaki jalan sunyi: perempuan dalam panggung politik Madina.

Kebiasaan melihat sisi negatif yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat turut pula dirasakan putri dari H. Khoir ini.

Anggapan aji mumpung mencuat karena keberhasilan saudaranya duduk di DPRD Sumatera Utara.

Adapula yang menyebut gadis ini hanya mengandalkan kekayaan orang tua semata.

Lalu, anak ingusan adalah cap lainnya yang akrab didengar untuk menggambarkan kehadiran Atika di panggung politik. Ia dikucilkan dan dianggap tak mampu. Terpinggirkan sebelum mencoba.

Apakah Atika berhenti karena itu? Tidak. Dalam senyap ia bekerja keras sebagaimana kerasnya ia meyakinkan orang tuanya untuk memberi izin kuliah di negeri Kanguru sana.

Keinginannya melihat ekonomi maju terlalu kuat untuk dikalahkan cap dan omongan orang.

Dengan kerendahan hati dan tanpa menunjukkan arogansi ia temui satu per satu yang ia anggap potensial untuk kebangkitan ekonomi.

UMKM menjadi target utamanya. Edukasi dan gagasan terus ia sampaikan untuk meyakinkan masyarakat bahwa yang mereka kerjakan punya potensi keuntungan yang luar biasa.

Pengalamannya dalam dunia finansial ia tuangkan sebagai visi pasangan SUKA yang terangkum dalam “Mandiri, Kompetitif, Berkeadilan, Bermartabat” dengan misi “Pitu Poda Sapta Cita”.

Visi misi itu disusun dengan serasional mungkin sehingga proses pencapaiannya terarah. Bukan seperti sebuah mimpi yang tergantung di awan.

Visi misi itu dilempar kepada konstituen dalam setiap kesempatan yang ternyata cukup ampuh mendongkrak elektabilitasnya.

Ketidakmauannya melewatkan waktu dengan percuma menjadi langkah efektif berikutnya.

Dalam banyak kesempatan ia membuka sesi tanya jawab secara langsung lewat media sosial meski hanya lima menit. Sebagai ikon milenial, ia paham betul berinteraksi dengan kaum milenial. Pertanyaan, harapan, saran dan kritik ia terima sama rata.

Langkah-langkah itu membawa Atika lebih dikenal dan tentu saja elektabilitasnya semakin menjulang. Paslon mana lagi yang mau dan nyaman berinteraksi dengan pengikutnya di media sosial?

Ide dan gagasannya yang terkesan baru mendapat respon positif. Terlebih kaum perempuan yang merasa terwakili dengan kehadirannya.

Tiba-tiba ia menjadi ikon milenial dan ikon perjuangan perempuan. Emansipasi perempuan yang selama ini telah didengungkan masyarakat, tanpa diungkit oleh Atika, terasa sudah tersahuti.

Fokusnya kepada penguatan ekonomi menjadi tawaran yang menggugah harapan dan impian akan kemandirian ekonomi.

Ia tak muluk-muluk menghadirkan pembangunan yang wah. Baginya ekonomi adalah kunci.

Namanya mulai dielu-elukan. Ia menjadi fenomena, dari yang sebelumnya anak bawang. Semua itu berkat kerja keras dan abai pada suara-suara yang menjatuhkan. Lantas apakah Atika sudah bisa tenang? Tidak.

Semakin menjulang sebuah pohon semakin kencang pula angin yang menerpa. Tiba-tiba saja pribadinya diserang.

Tentu saja Calon Bupati yang jadi pasangan Atika pada Pilkada ini, H. M. Jakfar Sukhairi Nasution kena getahnya. Foto-foto mereka dari masa lalu dijadikan bahan ‘gorengan’. Busur fitnah semakin kencang.

Sementara argumen dan gagasan Atika semakin tak terbendung. Adhominem atau serangan terhadap pribadi menunjukkan Atika sudah sangat diperhitungkan.

Elektabilitasnya berbanding lurus dengan harapan yang ia bawa dan itu sudah cukup membuat lawan politiknya khawatir

Uniknya, serangan itu justru semakin meroketkan pasangan Sukhairi-Atika. Sedangkan Atika: bergeming. Ia tak peduli dengan semua itu.

Ia hanya fokus pada target yang ingin ia capai. Ia hanya peduli pada cita-cita dan impiannya: meningkatkan ekonomi masyarakat Mandailing Natal.

Atika adalah contoh konkret dari kerja keras. Tak jemawa dipuja, pun tak tumbang dikerdilkan.

Tak salah kalau kemudian namanya dielukan kaum perempuan dan menjadi ikon perubahan kaum milenial.

Panggung agora telah disiapkan KPU sebagai tempat adu gagasan pasangan calon.

Layak dinanti gagasan apalagi yang akan keluar dari perempuan yang telah menjelma menjadi Srikandi Mandailing Natal itu.

Ah, punya pemimpin daerah yang bekerja keras dengan gagasan yang orisinil rasanya adalah impian setiap masyarakat.(Facebook Sukhairi-Atika)

By Roy Dzannun

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.