Ayah Mukmin Hasihuan, In Memorial

Orang menyebutnya Ayah Mukmin, orang yang hampir menghabiskan seluruh usianya sebagai guru. Mulai dari guru Ibtidaiyah di kampung kami, imam di musholla Polsek Siabu, imam di musholla Polres Madina, hingga guru di Ponpes Purba Baru. Ulama besar Mandailing.

Saya melihatnya dari sisi yang lain. Setiap Senin sore, beliau turun dari angkot seraya menjinjing tas berisi pakaian, pulang mengajar dari Purba. Rabu pagi, beliau berangkat lagi naik angkot ke Purba. Selain dengan tas berisi pakaian, juga bungkusan sayur dan beras untuk kebutuhan seminggu. Macam kebutuhan anak kos.

Saya tanya suatu ketika, karena beliau selalu lewat depan rumah saya. “Mengapa tidak makan di warung saja?”. Kata beliau, kalau kamu bisa mengerjakan sendiri mengapa harus mengharap orang lain mengerjakannya?

“Jadi abang masak sendiri?”
“Iya.”
Saya geleng-geleng kepala. Saya bayangkan, di usia 80 lebih, beliau harus bangun subuh, menghidupkan tungku, menjarang nasi, lalu merebus daun ubi. Segera setelah itu, di pondoknya yang kecil, beliau harus siap siap masuk kelas lagi.

Saya tanya lagi, “Bang, apa tak capek abang mengajar?”
Kami berjalan bersisihan ke arah jalan, sekitar 300 meter jauhnya. Tahu apa jawab beliau?
“Selama kamu bernafas, kamu wajib membagikan ilmu yang kamu miliki,” kata beliau.
“Iya, usia abang sudah berapa? Kapan lagi abang bisa istirahat?” bantah saya.

Tentu saja. Saya melihat beliau sejak saya punya ingatan. Sawah kami berdampingan. Jadi sejak kecil, tiap saya ke sawah mamuro, pasti lewat pondoknya.

Saya melihat beliau sebelum terbit matahari sudah berangkat ke sawah, mengerjakan semua hal sebagai layaknya petani. Sore sore beliau membawa gendongan daun ubi untuk dijual di pasar pasar tradisional. Itu jauh sebelum beliau mengajar di Purba.

Bagi kami penduduk kampung, beliau adalah contoh segala kebaikan dan kesuksesan hidup yang bersahaja. Anak anaknya semua berhasil untuk ukuran kampung. Kami menyebutnya hasil dari daun ubi yang setiap subuh beliau dorong naik sepeda angin ke pasar. Beliau menjadi streotipe orang tua yang berhasil dengan cara bertani sederhana.

Selain itu, beda dengan ulama lain yang cenderung di menara gading saat namanya membesar. Beliau tidak berubah dari dulu. Tetap lebih dulu menegur orang, mengajak berbicara setiap berpapasan dengan orang, mendatangi hajatan dan kemalangan orang sebagai warga kampung, dan berbagai kebersahajaan lain. Saya bahkan, dulu sekali, tidak sekali dua kali membangunkan beliau tengah malam ketika saya butuh bantuannya. Dan beliau selalu tulus membantu orang kapan saja.

Beliau, dengan ilmu agamnya yang luas, tetap bisa menjadi orang yang biasa. Bahkan terlaku bersahaja untuk ukuran keulamaan beliau. Karena itu, kita tidak hanya kehilangan ulama besar Mandailing, tapi kehilangan orang yang selalu bersahaja dan rendah hati. Dalam soal itu saya belum melihat ada yang mengimbangi H. Mukmin Hasibuan. Tapi tapi di kampung kami menyebutnya namanya Faqih Sutan, sesuai gelar adatnya.

Tapi hari ini beliau telah meninggalkan kita. Innalillahi wa inna ilaihi roziun. Semoga beliau ditempatkan di tempat yang paling dimuliakan Allah.(Askolani)

Penulis : Askolani Nasution

Admin.  : Iskandar hasibuan

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.