BaCalon Bupati Harus Prioritaskan Pendidikan di Mandailing Natal

Penulis dan Pemerhati Pendidikan di Mandailing Natal Iskandar Hasibuan

Selama 25 April – 17 Mei 2024, Wartawan Media PT.Malintang Pos Group, melakukan Investigasi dan Dialog, baik dengan Orangtua siswa, Guru, Komite Sekolah dan Kepala Sekolah, untuk melihat secara ril dan akurat keadaan Pendidikan dan Budaya di Kabupaten Mandailing Natal,sejak di tinggal oleh H.Amru Daulay.SH yang menjadi Bupati pertama.

H.Ivan Iskandar Batubara

Penulis yang juga Pemerhati Pendidikan dan Aktif di Media Online dan Koran,juga melihat secara langsung kondisi Pendidikan di Mandailing Natal, sebagai kritik dan saran kepada BaCalon Bupati Mandailing Natal dan secara khusus kepada Bupati/Wakil Bupati Terpilih nantinya, agar lebih peduli dengan Pendidikan.

Berbicara Pendidikan Mandailing Natal, mesti menjadi prioritas BaCalon Bupati yang akan datang. Tidak bisa dianggap sepele, karena kondisinya Rumit dan Terpuruk.

Selama puluhan tahun pendidikan kita benar-benar jalan di tempat. Bahkan cenderung mundur.

Tidak pernah ada konsep yang terencana dan terukur bagaimana perlakuan kita terhadap masa depan pendidikan kita.

H.Fahrizal Efendi.Nasution.SH

Sekolah sibuk hanya mengelola dana Bos. Tragisnya, dana Bos itu juga mewariskan masalah setiap tahun.

Tidak semata-mata salah tata kelola. Tapi sejak adanya dana Bos, anggaran besar itu selalu menjadi banjakan berbagai pihak.

Bentuknya bermacam-macam. Mulai dari pemaksaan kegiatan yang tidak relevan dengan kebutuhan sekolah, pengadaan buku yang tidak signifikan, pengadaan sarana yang tidak urgen, pelatihan, dan banyak ragam.

Ir.Endar Sutan.Lubis

Berbagai orang mengejar Dana Bos untuk ladang penghasilan. Ada personal, ada institusional, goverment, maupun non-goverment. Sialnya, kebanyakan tidak relevan dengan pemajuan sekolah.

Ketika akhirnya berbagai program itu menuai masalah, Kepala Sekolah juga yang menanggung resikonya.

Drs.H.Dahlan Hasan.Nasution

Mulai dari berhadapan dengan Inspektorat hingga BPKP, mulai dari aparat Kepolisian, hingga Kejaksaan.

Belum lagi oknum LSM dan Oknum Jurnalis yang hidupnya mengejar kesalahan tata kelola Dana Bos.

Oknum-oknum itu berkeliaran dari satu sekolah ke sekolah lain, berharap dapat limpahan dana dari Kepala Sekolah yang memang tak berdaya dengan tata kelola dana Bos.

Atika Azmi Utammi Nasution

Akibatnya panjang sekali. Kepala Sekolah pikirannya hanya bagaimana tidak bertemu dengan Oknum LSM dan Oknun Jurnalis.

Mereka banyak yang tak betah di sekolah. Konon lagi untuk membuat program-program yang visioner bagi kemajuan sekolah.

Sepanjang sejarahnya, belum pernah sekolah diberi kewenangan penuh untuk mengelola sendiri APBS-nya.

Dana Bos berbanding terbalik dengan tujuannya untuk memajukan pendidikan, malah akhirnya menjadi beban pemajuan pendidikan. Dana Bos benar-benar menjadi petaka dunia Pendidikan di Mandailing Natal.

Dinas Pendidikan tampak gamang. Seolah-olah mereka hanya mengurusi Dana Bos. Tidak pernah ada program yang komprehensif bagaimana memajukan Pendidikan di Mandailing Natal.

Semua kegiatan hanya rutinitas belaka, mulai dari perencanaan ARKAS, pembuatan SPJ, hingga bagaimana menghadapi pemeriksaan Dana Bos.

Kurikulum hanya kesemestian saja. Ukurannya hanya bagaikan sekolah telah menerapkan kurikulum baru, penyesuaian beban mengajar, rapor, dan tetek bengek kurikulum.

Tidak pernah ada program yang benar-benar signifikan dengan peningkatan kompetensi guru.

Misalnya pendayagunaan KKG, peningkatan wawasan akademik guru, peningkatan penguasaan metode pembelajaran, dan hal yang relevan dengan profesionalisme guru. Seolah-olah urusan peningkatan kompetensi guru bukan tanggung jawab Pemerintah Daerah( Bersambung Terus)

Penulis : Iskandar Hasibuan.

Admin : Dita Risky Saputri.SKM……….

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.