Seri 1 dari 5 artikel — Membaca Karya, Menemukan Visi
Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Ada umur institusi yang sekadar menunjukkan lamanya waktu. Ada pula umur yang menyimpan pengalaman, pertarungan, perubahan dan pelajaran.
Di situlah perjalanan layanan medis Permata Madina menarik dibaca.
Bukan karena ia telah melewati lebih dari seperempat abad.
Bukan pula karena kita hendak membuat daftar keberhasilan sebuah rumah sakit.
Pertanyaan yang lebih penting justru:
Apa yang bisa dipelajari dari sebuah layanan kesehatan yang mampu bertahan, tumbuh dan berubah selama 26 tahun?
Pertanyaan ini penting karena rumah sakit bukan sekadar gedung, tempat tidur
pasien, dokter, perawat atau peralatan medis.
Ia adalah organisasi yang setiap hari
berhadapan dengan perubahan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu
kedokteran, tuntutan mutu, pembiayaan, regulasi, teknologi dan—yang paling penting—kepercayaan pasien.
Karena itu, umur panjang sebuah layanan kesehatan sesungguhnya adalah
laboratorium pengalaman.
Berawal dari kebutuhanRiwayat Permata Madina memperlihatkan sesuatu yang sederhana tetapi fundamental: ia tidak langsung lahir sebagai rumah sakit besar.
Layanan ini bermula dari Rumah Sakit Bersalin pada 2000, berkembang menjadi
Rumah Sakit Ibu dan Anak pada 2002, kemudian berkembang menjadi rumah sakit umum.
Dokumen internal rumah sakit mencatat pendirian RSU Permata Madina
pada 1 Oktober 2004.
Ada pelajaran penting di sini.
Institusi besar tidak selalu dimulai dari skala besar.
Ia bisa bermula dari kebutuhan yang sangat konkret.Masyarakat membutuhkan layanan persalinan. Kebutuhan berkembang. Layanan diperluas.
Organisasi beradaptasi. Dari sana muncul bentuk kelembagaan yang
lebih besar.
Inilah barangkali salah satu hukum pertumbuhan institusi pelayanan publik: mulailah dari kebutuhan nyata, tetapi jangan berhenti pada kebutuhan awal.
Kalau kebutuhan masyarakat berubah, institusi pun harus berubah.
26 tahun bukan sekadar angka
Perjalanan 26 tahun juga menunjukkan bahwa mempertahankan sebuah rumah
sakit bukan pekerjaan sekali jadi.
Ada fase membangun fasilitas. Ada fase mencari dan mempertahankan tenaga
kesehatan. Ada fase memperluas layanan.
Ada fase menghadapi perubahan
regulasi. Ada fase berhadapan dengan teknologi baru. Ada pula fase ketika
masyarakat semakin kritis terhadap mutu pelayanan.
Artinya, umur panjang tidak otomatis berarti institusi telah selesai.
Justru sebaliknya.
Semakin panjang umur sebuah rumah sakit, semakin besar tuntutan untuk membuktikan bahwa pengalaman masa lalu mampu melahirkan kapasitas baru.
Di sinilah kita mulai bisa membaca perbedaan antara usia institusi dan kedewasaan institusi.
Usia dihitung dengan kalender.
Kedewasaan diukur dari kemampuan belajar.
Dari rumah sakit menuju ekosistem
Ada persoalan lain yang jauh lebih besar.
Permata Madina tidak hidup sendirian.
Ia berada di Panyabungan, tetapi pasien tidak mengenal batas administratif ketika
membutuhkan layanan kesehatan. Pasien dari Madina bisa datang dari kawasan
Tabagsel.
Sebaliknya, masyarakat dari kabupaten lain dapat mencari layanan di Panyabungan apabila merasa membutuhkan.
Karena itu, masa depan layanan kesehatan tidak cukup dibaca dengan pertanyaan:
“Seberapa besar rumah sakit kita?”
Pertanyaan yang lebih strategis adalah:
“Seberapa baik rumah sakit kita terhubung dengan rumah sakit lain?”
Di sinilah konsep jejaring, rujukan, pertukaran keahlian, pengembangan tenaga
medis dan kolaborasi antarfasilitas kesehatan menjadi penting.
Rumah sakit yang berdiri sendiri dapat memberikan pelayanan.
Tetapi rumah sakit yang terhubung dalam sebuah ekosistem dapat membangun
sistem pelayanan kesehatan regional.
Ini penting bagi Tabagsel.
Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Padangsidimpuan, Padang Lawas dan Padang Lawas Utara bukan lima dunia kesehatan yang sepenuhnya terpisah.
Pasien, dokter, keluarga pasien, perjalanan rujukan, teknologi dan kebutuhan pelayanan bergerak melampaui batas kabupaten.
Maka, pengalaman 26 tahun sebuah rumah sakit dapat dibaca sebagai pintu masuk
untuk membicarakan sesuatu yang lebih besar:masa depan ekosistem kesehatan Tabagsel.
Lalu, siapa di balik visi itu?
Di titik ini, nama manusia mulai relevan.
Salah satu nama yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Permata Madina adalah dr.
H. Safii Siregar, SpOG.
Dokumen kelembagaan lama mencatatnya dalam posisi pimpinan yayasan, sementara dokumen perusahaan tahun 2021 menunjukkan dr.Safii Siregar sebagai Direktur Utama PT Permata Madina Berkah.
Tetapi tulisan ini tidak sedang hendak membuat biografi dr. Safii.Justru sebaliknya.
Kita ingin membaca seorang penggagas melalui karya yang ditinggalkannya.
Sebab visi yang baik tidak berhenti sebagai kalimat di dinding.
Ia harus menjelma menjadi gedung, tenaga kesehatan, sistem kerja, pelayanan,
keberanian mengambil keputusan, kemampuan bertahan dan kesediaan terus
berubah.
Dalam dokumen internal rumah sakit, sejak awal terdapat gagasan untuk
membangun rumah sakit yang modern, bermutu dan profesional serta melayani
masyarakat dari berbagai lapisan.
Maka yang menarik bukan sekadar siapa pemilik visi.Yang lebih menarik adalah:
sejauh mana visi itu berhasil diterjemahkan menjadi karya?
Dan setelah 26 tahun, pertanyaan berikutnya menjadi semakin keras:
Apakah visi lama masih cukup untuk menghadapi kebutuhan kesehatan masyarakat yang baru?
Pelajaran pertama: jangan berhenti pada pencapaian Di sinilah kita menemukan pelajaran pertama dari perjalanan panjang Permata Madina.
Sebuah institusi kesehatan tidak boleh menjadikan keberhasilan masa lalu sebagai
alasan untuk berhenti berkembang.
Justru keberhasilan masa lalu melahirkan kewajiban baru.
Ketika sebuah rumah sakit telah melewati fase membangun fondasi, tantangannya
bergeser: memperkuat sumber daya manusia, memperluas kompetensi, menjaga
mutu dan keselamatan pasien, memperkuat manajemen, membangun jejaring
rujukan, mengadopsi teknologi yang relevan dan menciptakan layanan yang benar- benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Dengan kata lain:rumah sakit besar tidak pertama-tama dibangun dari luar. Ia dibesarkan dari dalam.
Dan di situlah perjalanan 26 tahun ini memasuki babak berikutnya.
Sebab setelah sebuah institusi berhasil bertahan selama seperempat abad,
pertanyaannya bukan lagi:
“Bagaimana ia bisa sampai di sini?”
Tetapi:“Apakah fondasi di dalamnya cukup kuat untuk membawa ia ke tahap berikutnya?”
Pertanyaan itulah yang akan kita bedah pada seri berikutnya.
Seri 2 — Rumah Sakit Besar Dimulai dari Dalam ( Bersambung Terus).
Admin : Iskandar Hasibuan








