Belajar Dari 26 Tahun Layanan Medis di RSU Permata Madina(4)

Seri 4 dari 5 Artikel — The Next Level Permata Madina

Ada satu cara lain mengukur vitalitas sebuah rumah sakit. Kaca mata ini membuat organisasi medis ini tampak di level yang lebih tinggi.

Bukan hanya dari gedung yang semakin besar, jumlah dokter yang bertambah, atau
layanan medis yang semakin lengkap. Tetapi dari pertanyaan yang lebih sederhana:

seberapa jauh energi sebuah institusi ikut hidup di tengah masyarakat?
Di sinilah ada jejak Permata Madina yang menarik dibaca.

Pada satu masa, Permata Madina ikut membantu peningkatan kesejahteraan guru-guru madrasah di Panyabungan dan sekitarnya.

Kesaksian ini bukan cerita yang
saya dapat dari brosur atau laporan tahunan.

Saya mengetahuinya dari pengalaman
sendiri sebagai guru sekaligus pengurus pada masa itu.

Program tersebut kemudian berhenti, setidaknya setelah Rumah Tahfidz Permata
Madina berdiri.

Rumah Tahfidz itu sendiri bukan sekadar cerita lisan. Dalam pemberitaan 2015, dr.
H. Safii Siregar disebut sebagai pelindung Rumah Tahfidz Permata Madina.

Dua jejak ini penting bukan karena besar-kecilnya nominal bantuan atau bentuk
kegiatannya. Yang lebih menarik adalah arah energi institusinya.

Rumah sakit memang bertugas menyembuhkan orang sakit. Tetapi institusi yang sehat biasanya mempunyai energi yang melampaui fungsi pokoknya.

Ia ikut memperkuat lingkungan sosial tempat ia tumbuh.Vitalitas Hingga Keluar PagarGuru madrasah adalah bagian penting dari ekosistem sosial-keagamaan Mandailing Natal. Mereka tidak hanya mengajar pengetahuan agama.

Di banyak tempat,mereka ikut membentuk karakter anak, menjaga tradisi keagamaan dan menjadi simpul sosial masyarakat.

Karena itu, kedekatan sebuah institusi kesehatan dengan guru madrasah
sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.
Apalagi dr. Safii Siregar juga dikenal aktif dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

Penulis : Ludfan Nasution – Koordinator Mandailing Epicentrum

Jejak Rumah Tahfidz memperlihatkan bahwa hubungan antara dunia kesehatan,
pendidikan dan keagamaan pernah menemukan ruangnya.

Yang menarik justru pertanyaan berikutnya:Mengapa kedekatan semacam itu tidak dijaga sebagai sebuah ekosistem sosial yang terus tumbuh?

Bukan berarti rumah sakit harus berubah menjadi lembaga pendidikan agama.
Bukan pula setiap kegiatan sosial harus dibebankan kepada Permata Madina.

Tetapi hubungan dengan guru-guru madrasah dapat menjadi salah satu pintu
masuk bagi program kesehatan masyarakat: edukasi kesehatan anak, kesehatan
reproduksi remaja, gizi, kesehatan keluarga, pertolongan pertama, hingga literasi
kesehatan masyarakat.

Guru madrasah memiliki ruang perjumpaan yang luas dengan keluarga dan generasi muda.

Rumah sakit memiliki pengetahuan dan tenaga profesional. Keduanya
memiliki modal yang berbeda.

Justru karena berbeda, keduanya dapat saling menguatkan.Di situlah vitalitas mulai berubah menjadi gagasan.

Dari CSR ke Social Capital
Setelah 26 tahun, Permata Madina sebenarnya tidak hanya memiliki gedung, dokter,peralatan dan pengalaman mengelola rumah sakit.

Ia juga memiliki modal sosial: hubungan dengan masyarakat, jaringan tenaga
kesehatan, pengalaman kelembagaan dan pengetahuan tentang kebutuhan pasien.

Modal seperti ini jangan hanya dipakai untuk mempertahankan bisnis pelayanan
kesehatan.Ia dapat dikembangkan menjadi kekuatan baru.

Misalnya, hubungan dengan madrasah tidak berhenti pada bantuan honor guru.
Rumah sakit dapat membangun jejaring Madrasah Sehat.

Guru-guru diberi literasi kesehatan dasar. Anak-anak mendapat edukasi kesehatan yang benar. Orang tua memperoleh pengetahuan tentang pencegahan penyakit.

Tenaga medis mendapatkan kanal baru untuk menjangkau masyarakat.

Begitu pula Rumah Tahfidz tidak harus dipandang sebagai kegiatan sosial yang
berdiri sendiri.

Ia dapat menjadi salah satu simpul dari gagasan yang lebih besar:membangun manusia yang sehat tubuhnya, kuat pengetahuannya dan baik nilai hidupnya.

Di titik ini, kita mulai masuk ke makna The Next Level.Level Selanjutnya , Sebuah InsinuasiPermata Madina sudah melewati fase membangun rumah sakit.

Seri pertama telah melihat bagaimana sebuah karya dapat memperlihatkan visi. Seri kedua membaca pentingnya membangun kekuatan dari dalam.

Seri ketiga melihat bagaimana institusi mulai bergerak menuju kolaborasi dan jejaring.

Maka seri ini membawa pertanyaan berikutnya:Setelah rumah sakit berdiri dan institusi semakin kuat, apa yang bisa diciptakannya?Next level tidak selalu berarti gedung baru.

Bisa berarti pusat pengetahuan kesehatan masyarakat. Bisa berupa jejaring
kesehatan madrasah. Bisa berupa pendidikan kesehatan berbasis komunitas.

Bisa berupa digital health yang menghubungkan dokter, pasien dan fasilitas kesehatan.

Bisa pula berupa pusat layanan unggulan yang menjawab kebutuhan kawasan.
Yang paling penting, inovasi itu harus lahir dari pengalaman 26 tahun, bukan
sekadar mengikuti tren.

Sebab umur panjang sebuah institusi baru benar-benar bernilai ketika pengalaman
yang dikumpulkannya mampu melahirkan kemampuan baru.

Dan mungkin di sinilah Permata Madina perlu melihat kembali jejak masa lalunya
sendiri.

Program membantu guru madrasah pernah ada. Rumah Tahfidz pernah dibangun.
Hubungan sosial-keagamaan pernah tumbuh.

Mungkin yang dibutuhkan sekarang bukan mengulang masa lalu, melainkan
menghidupkan kembali kedekatan itu dalam bentuk yang lebih terukur, lebih luas dan lebih berkelanjutan.

Sebab rumah sakit yang besar bukan hanya yang mampu mengobati lebih banyak
pasien.

Yang lebih besar adalah rumah sakit yang mampu membuat masyarakat di sekitarnya
menjadi lebih sehat.

Dan kalau energi itu kemudian terhubung dengan sekolah, madrasah, pesantren,
organisasi masyarakat, fasilitas kesehatan dan komunitas, Permata Madina tidak
lagi sekadar memiliki jaringan.

Ia mulai memiliki ekosistem yang makin tangguh.Dari sinilah pertanyaan terakhir seri ini menjadi semakin menarik:
Bisakah pengalaman 26 tahun sebuah rumah sakit menjadi salah satu batu pijakan bagi lahirnya ekosistem kesehatan Tabagsel yang lebih utuh dan tangguh?
(Gugus Literasi Mandailing Epicentrum )

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Reses III Zubaidah Nasution di Gedung SD Swasta 007 Sibaruang, Ini Aspirasi Warga Sibaruang dan Sihepeng Raya

    SIBARUANG(Malintangpos Online): Ratusan warga Desa Sibaruang dan Desa Sihepeng Raya Kecamatan Siabu, mengikuti Reses III Tahun 2026, anggota DPRD Madina dari Fraksi Golkar, Zubaidah Nasution di Gedung SD Swasta 007…

    Read more

    Continue reading
    Camat : Gotroy Masih Kental, Syukuran Warga Kel.Siabu Dirangkai Dengan Menyantuni Anak Yatim

    SIABU(Malintangpos Online): Usai panen raya, warga Kelurahan Siabu, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal menggelar syukuran dan santunan anak yatim, sebagai  rasa syukur atas melimpahnya hasil panen Tahun ini. ” Kegiatan…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses