” Bom Waktu ” Di Puncak Sorik Marapi

ADA kecemasan luar biasa yang mengumbar ke permukaan. Warga mengungkapkan kekhawatiran yang amat sangat.

Ini, menyangkut nyawa manusia…! Setiap saat, mereka dirundung was -was dan ketakutan. Sampai kapan..?

Ya Allah, petaka itu pun terjadi lagi. Selasa (27/9) sore sampai menjelang tengah malam, korban terus berjatuhan karena diduga keracunan gas Hidrogen Sulfida (H2S) diduga dari sumur gas PT SMGP.

Korban mual, pusing, lemas, muntah, kemudian bergegas dibawa ke RSUD Panyabungan dan RS Permata Madina.

Tentu saja panik. Dua rumah sakit di Madina tak mampu menampung para korban untuk mendapat pertolongan. Dua tenda besar di RSUD Panyabungan “disulap” jadi ruang rawat inap.

Informasi diperoleh Rabu (28/9), 79 korban keracunan gas warga Desa Sibanggor Julu dan Sibanggor Tonga, Kec. Puncak Gunung Marapi, Kab. Mandailing Natal. Para korban berdomisili di dekat tambang.

“Inda bisa be mangkuling (tak bisa lagi [rasanya] ngomong),” ujar Mirhan Batubara, 44, dengan nada sangat lirih, saat dijumpai di RSUD Panyabungan menunggu anaknya dirawat keracunan gas.

Dia menjelaskan, Desa Sibanggor Tonga sekitarnya, yang sebelumnya adem, kini sontak berubah. “Dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, kami terus ketakutan. Ini seperti bom waktu,” ujar petani itu dengan pandangan kosong.

Sebagai petani, dia mengaku seperti dag-dig-dug mengolah lahan untuk bertani. Mereka trauma.

“Apalagi, sabanta (sawah kita) 300 meter di areal tambang,” ujar Mirhan. Dia menghela napas panjang, sambil menatap anaknya terkulai tak berdaya di rumahsakit.

“Saya dengar, beberapa orang sudah diperbolehkan pulang untuk berobat jalan,” katanya.

Kejadian serupa terulang dan terulang lagi. Sebelumnya, Jumat (16/9) malam, 9 warga desa dilarikan ke rumahsakit diduga keracunan, 24 April 2022 dikabarkan 21 warga dirawat karena muntah-muntah dan pingsan, setelah menghirup udara sekitar.

Yang paling parah 25 Januari 2021. Lima warga meninggal dunia, puluhan warga lemas tak berdaya diduga keracunan gas.

Di lain hal, sejak beroperasi 2013, SMGP melakukan eksplorasi di kawasan hutan Madina setelah mengantongi izin Kementerian ESDM 62.900 ha di 10 kecamatan dan 138 desa. Perusahaan diperkirakan menghasilkan listrik 240 megawatt.

Bupati Mandailing Natal HM Jafar Sukhairi Nasution berharap pemerintah pusat mengkaji ulang keberadaan PT SMGP.

“Pemerintah daerah hanya bisa berharap kepada pemerintah pusat, agar pihak perusahaan segera menghentikan kegiatan pengeboran,” ujar bupati.(irham h nasution)

Liputan : Irham Hagabean Nasution

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.