Bullying di Usia Dini: Ketika Kekerasan Kecil Dianggap “ Lucu ”

Annisa Wahyuni, M.Pd
Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini

Banyak orang tua terkejut ketika mendengar kata bullying disandingkan dengan anak usia dini.

Bukankah anak balita dan usia TK masih terlalu kecil untuk melakukan perundungan? Sayangnya, kenyataan di lapangan berkata lain.

Bullying tidak menunggu anak tumbuh besar untuk muncul. Ia bisa lahir sejak usia tiga, empat, lima tahun, hanya saja bentuknya berbeda dari yang biasa kita bayangkan, dan karena itu sering luput dari perhatian orang dewasa.

Anak usia dini memang belum mengenal istilah “bullying”, tetapi mereka sudah bisa melakukan tindakan yang esensinya sama: mengejek nama panggilan teman, menertawakan bentuk tubuh atau warna kulit, mengucilkan satu anak dari kelompok bermain, merebut mainan dengan paksa, hingga memukul atau mencubit ketika keinginannya tidak dituruti.

Bedanya, pada anak dewasa perundungan dianggap kejahatan sosial yang serius, sementara pada anak kecil, tindakan yang sama sering dianggap “wajar”, “lucu”, atau sekadar “namanya juga anak-anak”.

Ketika Orang Dewasa Justru Melanggengkan
Persoalan bullying di usia dini sesungguhnya jarang berdiri sendiri.

Ia sering kali lahir dari cara orang dewasa di sekitar anak merespons konflik kecil sehari-hari.

Ketika seorang anak mengejek temannya lalu orang tua atau guru hanya tertawa dan berkata “namanya juga anak-anak, nanti juga baikan sendiri,” pada saat itu juga anak sedang belajar bahwa mengejek orang lain adalah hal yang bisa ditoleransi, bahkan menghibur.

Demikian pula ketika anak yang menjadi korban diminta untuk “jangan cengeng” atau “biasa saja, jangan baperan”, alih-alih divalidasi perasaannya.

Pesan yang tertanam pada anak bukan hanya soal siapa yang benar dan salah, tetapi juga soal apakah perasaannya penting untuk didengar.

Anak yang perasaannya terus-menerus diremehkan berisiko tumbuh menjadi pribadi yang menganggap wajar untuk diam saat disakiti, atau sebaliknya, menjadi pribadi yang terbiasa menyakiti karena tidak pernah diajari batasan.

Di sinilah letak kesenjangan yang sebenarnya: banyak orang tua sibuk mengajarkan anak untuk pintar, cepat membaca, hafal angka dan huruf, tetapi lupa mengajarkan hal yang jauh lebih mendasar, yaitu bagaimana memperlakukan teman dengan baik dan bagaimana bersikap ketika diperlakukan tidak baik.

Usia Dini adalah Fondasi, Bukan Ruang Kosong Banyak yang beranggapan usia dini adalah masa “polos” yang belum perlu dibebani pendidikan karakter yang serius.

Padahal justru sebaliknya. Usia dini adalah periode emas ketika nilai-nilai dasar tentang empati, menghargai perbedaan, dan mengelola emosi paling mudah tertanam dan paling menentukan pola perilaku anak di masa depan.

Anak yang sejak kecil dibiasakan meminta maaf dengan tulus, mendengarkan perasaan temannya, dan diajari bahwa mengejek itu menyakitkan, akan membawa kebiasaan itu hingga dewasa. Sebaliknya, anak yang dibiarkan tumbuh dengan pola “yang penting lucu, yang penting menang”, berisiko membawa pola yang sama ke bangku sekolah dasar, remaja, bahkan dunia kerja.

Mencegah bullying sejak usia dini bukan berarti menakut-nakuti anak dengan istilah berat yang belum mereka pahami, melainkan membiasakan hal-hal sederhana: mengajari anak mengenali dan mengungkapkan emosinya tanpa kekerasan, membiasakan mengucapkan maaf dan terima kasih dengan sungguh-sungguh, tidak menertawakan perbedaan fisik atau kemampuan temannya, serta memberi teladan langsung dari orang dewasa di sekitarnya, karena anak jauh lebih banyak meniru daripada mendengarkan nasihat.

Perundungan pada anak usia dini bukan persoalan kecil yang akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Jika dibiarkan tanpa koreksi sejak awal, ia justru berpotensi mengeras menjadi pola perilaku yang menetap.

Sudah saatnya kita berhenti menertawakan ejekan kecil di antara anak-anak dan mulai menanganinya dengan serius, sebab benih kekerasan sosial yang besar sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang dibiarkan sejak dini.(WhatsApp)

Penulis : Annisa Wahyuni, M.Pd
Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini.

Admin : Dita Risky Saputri.SKM.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Ribuan Anak Putus Sekolah, Sistem Dosisl Madina Terancam Bangkrut

    Yang bikin heboh di Madina bukan cuma karena berita viral tentang empat anak dalam satu keluarga yang putus sekolah. Ternyata, ada data yang menunjukkan, angka putus sekolah sudah mencapai 1.370…

    Read more

    Continue reading
    Resmikan Kancab Mizab Haromaen, Wabup Madina Minta Agen Travel Gunakan JHN

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution meresmikan Kantor Cabang PT Mizan Haromaen yang beralamat di Jl. Jenderal Besar Abdul Haris Nasution (Lingkar Timur), Kelurahan Dalan…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses