CATATAN PEREMPUAN LEPAS (Bagian II)

Malam. Pakaian sudah kumasukkan ke dalam ransel. Siap-siap berangkat ke Medan, menunggu bus ALS di simpang jalan. Ibu kaget karena tiba-tiba aku bilang menunda hingga subuh. Tentu saja. Tak sanggup rasanya melepaskan semua yang baru saja terjadi, cinta belia yang mengharu biru. Terlalu indah semuanya. Terlalu cepat terjadi, dan begitu saja aku sadar adanya pesona yang luar biasa atas pertemuan yang empat hari ini. Aku makin percaya, cinta memang keajaiban.
Rita sudah menungguku di tepi jalan, bersiap mengantarku berangkat. Karena itu ia kaget ketika tahu aku tak jadi berangkat.
“Kok bisa,“ sapanya kaget.
“Nanti saja subuh. Gak sanggup aku berangkat.”
“Ya, sudah. Aku sih tak apa-apa.”
“Masa tak apa-apa. Bilang senang kenapa?”
“Senang sih pasti. Asal aman saja lah kuliahmu.”
“Gak papa kok. Pagi aja besok.”
“Ya, sudah.”
Aku menariknya jalan. Seperti malam-malam sebelumnya, kami bergandengan sepanjang jalan. Bulan terang. Wajahnya memerah di bawah langit. Juga matanya yang indah, seperti kejora. Pukul 12 tengah malam, aku mengantarnya hingga depan rumah. Ia memberi segala yang indah untuk mimpi malam ini.
“Subuh, bangun ya. Temani aku,” cetusku
“Iya, masa gak percaya sih,” katanya. Dan ketika ia menutup pintu, aku merasa mau menangis. Alangkah tak ingin segalanya berakhir.
mungkin cuma sepenggal lagu
apa yang bergetar saat nada itu kau petik
dan harapan menyebar sekitar
yang tercantik, seperti denting air dari daun akasia itu
kita pun berlari dari satu senja ke senja yang lain
sambil sesekali kau kirbaskan rambut
alangkah wangi segala yang mengental meleleh
* * *
Subuh bergerimis ritmis. Suara azan terdengar lamat-lamat di antara kokok ayam. Aku berdiri di pinggir jalan. Rita muncul di antara gerimis. Rambutnya mengerbas menorehkan wangi subuh yang gamis. Aku langsung menyambutnya dan menariknya dalam dekapan.
begitulah sunyi tertegur pagi itu
datang dari subuh yang bergerimis
menarikku dari lamunan yang mengental-menua
wajahmu adalah gairah itu, dari langit yang tak berhenti menunggu, hari dimana cinta akan dijodohkan
“Kukira tak datang,” cetusku senang.
“Masa sih. Gak pernah aku ingkar janji.”
“Macam judul lagu saja, Merpati tak Pernah Ingkar Janji,” sindirku.
“Lo, kan buktinya aku datang.”
Aku menarik tangannya. Ia menyembunyikan wajahnya seperti biasa. Kukira ia menangis. Belum pernah aku melihatnya sesedih itu.
Bus berhenti. Aku menjabat tangannya, berat rasanya melepas. Bus berjalan, dari jendela aku melihatnya berjalan gontai di antara gerimis. Seperti siluet, seorang bidadari berjalan di bawah gerimis dengan pendar cahaya subuh yang mistis. Dan kutulis dalam diary yang selalu kubawa:
sadly it’s beautiful
beautiful it makes sad
made of beautiful sadness
but the way I remember you
* * *
Di tempat kost. Beberapa kali praktek melukis gaya romantik, bahan untuk pameran. Lalu aku mengirim pesan, tentang bagaimana aku tak konsentrasi belajar, tentang segala kenangan yang dijalani, tentang sungai berbatu dan pelukan erat yang tak mau lepas itu. Sms terakhir aku tulis begini:
Alangkah panjangnya hari ini mendadak. Galau, hilang semangat, sesuatu menjadi amat berat menjalani. Gerangan apa tiba-tiba yang menohok tatkala waktu bergulir tanpa kamu ikut dalamnya. Alangkah panjang jarak itu, alangkah runum rindu itu, alangkah sunyi sekitarku. Nafasku adalah lenguh dari kangen yang purba, tanpa kata, karena kata juga terbelit dalam jarak itu. Sayang, perkenankan aku rapuh dalam ilalang yang dulu kita semai
Dan ia membalasnya amat singat: Hum, begitu ya, katanya.
Aku uring-uringan. Hilang semua gairah. Yang ada hanya gairah bertemu. Karena itu aku segera pulang, mendadak. Apalagi seminggu lagi masuk Ramadhan. Masa puasa pertama tak di rumah.
* * *
Minggu pagi aku sampai di rumah, mandi, lalu segera bertemu Rita. Ia senyum malu-malu menyambutku. Dan seperti biasa, ia tak pernah menolak untuk menjalani hari bergerimis ini.
Kami di sebuah padang rumput yang luas, di tengah-tengahnya ada telaga yang tak pernah kering airnya sepanjang tahun. Beberapa pokok kelapa berjejer rapi. Juga kerbau, lenguhnya menimbulkan sunyi.
….. berjalan di antara ilalang
aku menuntunmu, tanpa gaun, karena segala aib telah dibuang
manakala cinta itu tlah disematkan
hutan yang gamis dan sepi
adalah gaun bagi kakimu yang indah
langkah gontaimu di antara bunga, memekik burung karena derapmu yang tohor….
Kami berdua duduk bersisihan di bawah pohon Nangka. Gerimis yang jatuh di telaga menimbulkan kesan yang amat magis. Rita menekuk lutu sambil bertopang dagu. Tatapannya dalam ke arah telaga. Aku memandangi wajahnya yang merona. Ia hanya memandangku dengan sudut matanya.
Tak sabar, aku segera menariknya bangkit.
“Gak kangen, ya,” cetusku sambil membimbingnya melewati sisi telaga. Rita senyum. Tampak matanya berbinar.
“Kita kemana?” Ia melirikku sekilas.
“Kemana aja. Asal jalan.”
“Emang ke mana yang bisa jalan?”
“Kemana kaki saja.”
“Nyasar dong.”
“Biarin.”
“Mati dong.”
“Biarin.”
“Masa mati muda sih.”
“Biarin.”
Dan kami kembali berjalan ke rumpun bambu di tepi sungai itu. Melepas kangen yang bergejolak. Ia berlari-lari di antara bebatuan sambil tak henti bernyanyi. Itu mengingatkanku pada gadis di film “Sound of Music”, bernyanyi di antara padang rumbut sambil bersenandung: Edelweis….Edelweis….
…engkau berbisik di antara angin yang menggelepar
“sayang, seribu tahun tak cukup untukku lelap di cakarmu.”
“seribu bunga tak cukup untuk matamu yang indah.”
kita berjalan berlari melintasi ranum itu.
“Petikkan sebuah tanda untukku,” katamu.
dan lalu aku mendekapmu di antara ilalang yang lembut….
* * *
Begitulah kami bertemu dan menjalani hari. Sepanjang pagi hingga malam. Semua membuat takjub. Berjalan di bawah hujan, bajunya basah. Tatapan mataku yang nakal segera ia lumerkan dengan satu dua pelukan singkat. Tak perlu payung, karena hujan adalah taburan pesona. Tak butuh jas hujan, karena pekikan kecil itu telah menghangatkan.
Bercinta di antara hutan jati, melintasi seribu gunung, meniti lengkung pelangi, menyeberang dari satu warna ke warna yang lain. Sawah, jalan setapak, tegalan, dan kebun sayur. Kita adalah tamu para pemimpi.
… satu dua bidadari turun dari langit
di tanah yang basah berlumut tak bertuan tak termiliki
seseorang akan disapa
“wahai hati yang terasing, di lubuk mana riuh akan disemai.”
Begitulah dengan baju basah kami terus berjalan di senja berhujan itu. Cinta memang harus basah. Tak bisa setengah-setengah. Sesekali tawanya lepas. Sesekali pelukan itu lepas. Tapi hati kita akan tetap dijodohkan di langit hingga berabad-abad lamanya.
“Yakin berabad-abad,” cetusnya.
“Iya.”
“Tahu apa kamu tentang waktu.”
“Karena kamu keajaiban.”
“Gombal norak, tahu gak?”
“Dan kamu suka.”
“Kata siapa?”
“Kan kita jalan tiap hari. Ngapain semua.”
“Karena kamu ajak.”
“Kenapa mau.”
“Karena mau aja. Kan kamu pengen akunya mau?”
“Tega banget.”
“Tapi kamu suka.”
Aku kesal. Dan ketika ia menggayutkan lengannya di bahuku, tak bisa kusembunyikan rasa senang yang aneh itu. Hingga malam-malam berikutnya, dan hari-hari berikutnya.
* * *
Terlalu banyak yang dijalani selama empat hari sebelum aku akhirnya kembali ke Medan. Kita seakan terlempar ke ruang yang kusam dan tak berpengharapan. Hopeless. Kangen itu perih, menerka wajahmu seketika melegakan hati, dan aku bisa tertawa sendiri. Tapi menahan rindu yang padu, serasa terajam.
Mendadak aku suka puisi “Etsa” Toto Sudarti Bakhtiar:
suara kasih dalam hati malam
kian lincah, tapi kemudian membeku
tanpa bulan, karena bulan beradu
dan hatiku sendiri kian terbenam……..
Berbagai kesibukan kampus tak bisa membuat betah. Acap kali melamun. Kenangan bertubi dan masuk ke hati. Tiba-tiba semua menjadi romantis. Dan aku melukis, beberapa lukisan tidak sempurna. Aku menerka wajahnya berkali-kali.
…… bumi meniarap tanpa gaduh lalu detik pun jatuh
sayang, aku tulis kisah ini ketika kenangan kita tertinggal di air yang mengalir itu
dekapmu adalah gemuruh daun jati terjepit senja
lenguhmu adalah denting bunga ilalang terkepak angin
“Perkenanan mata kita berpandangan selamanya,” katamu.
lalu kita berlari dari sepi ke sepi
aku terpuruk dari sunyi ke sunyi
Aku kembali mengirim pesan. Kuceritakan tentang segala yang mendadak kosong setelah ia tak ada. Kukira itu amat romantis dan membuat haru. Rita membalas apa adanya karena harus dibalas, bukan karena rindu yang setara. Tapi kenangan yang mengental itu tak cukup kuat untuk melupakannya. Karena itu, aku kembali pulang.
Di dalam bus, pikiranku tak lekang dari Rita. Semua kejadian berkelabat berebut ingatan.
“Aku ingin punya anak darimu,” kataku dulu suatu hari, di tempat biasa kami bertemu, di bawah pohon nangka, di dekat telaga, di sisi Kerbau yang tak berhenti mengunyah.
Rita hanya diam. Tak bergeming, kecuali hentakan nafas dekat telingaku. Itu menjadi saat-saat terindah kukira. Nafasnya wangi, mengingatkan pada suatu yang khas, yang hingga tahun-tahun berikutnya menjadi hal yang amat penting.
“Kan aku baru 18,” jawabnya kemudian.
“Kan kubilang cuma ingin.”
“Kan aku juga gak ada bilang gak pengen.”
“Iya sih. Jadi mau nih, benar?”
“Mau, nanti tapi.”
“Kapan.”
“Ya nanti, setelah kita kawin.”
Aku diam waktu itu. Tak mau membicarakannya lagi. Karena tiap hari hanya memikirkan bagaimana bisa bersamanya tiap detik.
* * *
Masih dalam bus, aku menelepon Rita subuh itu. Beberapa kali baru diangkatnya. Kalau sudah tidur, katanya, ia paling sulit bangun. Kadang-kadang mesti ditarik katanya baru terjaga.
“Sudah sampai, ya?” katanya bangun dari tidur. Suaranya serak.
“Belum. Dua jam lagi mungkin.”
“Hum, iya sih, masih subuh ya.”
“Kenapa? Masih ngantuk? Tidur aja deh, gak papa kok.”
“Gak papa kan?” Balasnya menyapa. Ya kan? Masa aku larang, meskipun kangen banget cerita-cerita. Aku memang selalu tak bisa tidur dalam bus.
“Tidur deh!”
“Tapi aku kangen.”
“Kangen tapi tidur.”
“Kan gak mesti.”
“Iya sih.”
“Ngantuk soalnya.”
“Iya.”
“Gak sabar sih mau cepat ketemu.”
“Kamu ngantuk atau kangen.”
“Dua-duanya. Kan boleh.”
“Kalau aku mana bisa tidur kalau kangen.”
“Kalau aku makin kangen makin ngantuk. Karena serasa kamu peluk.”
“Gombal norak,” cetusku senang.
“Norak tapi jujur. Kamu mau aku bohong?”
“Gak sih. Tidur deh.”
“Ya? Gak papa ya? Hum… aku kangen, Sayang.”
Aku bergeming. Suara bus membelah subuh. Pohonan seperti siluet, gelap dan abu-abu, sedikit putih warna langit. Hum… kenapa aku tak berdoa saja ya dalam khusuk begini. Lalu aku memejamkan mata. “Tuhan, kalau dengan dia aku bisa bahagia, dekatkanlah kami. Atau legakan aku menjauhinya.” Hanya itu, doa yang singkat. Tapi begitu selesai berdoa, ia kembali menelepon.
“Kangen banget,” katanya. Aku tertawa saja.
* * *
Pulang sekolah, aku menunggu Rita di halte sekolah. Ia datang sambil mendekap buku. Dari jauh ia sudah senyum tersipu, tampak malu-malu. Tentu, sudah dua minggu kami tak bertemu.
“Sudah lama?” sergahnya. Temannya cekikikan. Rita cuek.
“Lima menit juga terasa lama kok.”
“Masa sih.”
“Kan kangen.”
“Ya deh. Makanya aku jalan buru-buru. Ntar ngambek lagi situnya.”
Ia segera menggamit lenganku. Aku kaget juga. Karena temannya masih ramai tentu. Lagian, biasanya ia yang ogah-ogahan.
“Kenapa? Malu?” Sergahnya.
“Gak sih.”
“Trus?”
“Ya terus. Kita terus…”
“Kemana?”
“Emang harus kemana?” Aku menariknya jalan. Kami masih berpegangan.
“Lho kan situ yang ngajak?”
“Lho kan belum kuajak. Cuma nunggu, terus kamu datang.”
“Lho kan kamu tarik aku.”
“Kan kamu datang.”
“Kan kamu tunggu, masa aku gak datang.”
“Iya sih.”
Beberapa angkot melintas, beberapa melambai ke arah Rita. Rita cuek.
Kembali ke sungai berbatu dan membimbingnya turun. Rita langsung duduk di batu, juga aku di sisi yang lain. Aku pakai celana jeans hitam, baju putih lurik berbunga halus. Dan rambutnya sekali ini dibiarkan tergerai lebat, sedikit gelombang. Bukan rambut Sunsilk pastinya. Tapi ia tetap cantik. Mata kami bertatapan, tapi hanya sekilas, karena segera Rita memalingkan wajah.
Lama terdiam. Pikiranku berkecamuk. Tentu. Katanya, selesai Ujian Nasional, ia harus pulang ke Jogya. Karena hanya selama SMA ia tinggal di sini bersama Opungnya. Apalagi tiga hari lagi sudah lebaran. Ia katanya harus juga lebaran di Yogya. Masa lebaran tak bersama keluarga, katanya.
“Kapan berangkat,” cetusku memulai. Ini tentu topik yang berat, karena membayangkan beberapa hari tak melihatnya.
Tapi kutanya begitu, malah Tika diam. Kukira dia memang tak mau membahasnya. Ia selalu menghindari pertanyaan yang serius. Itu sifatnya. Mungkin besok, mungkin nanti setelah pulang. Buat dia nyaris tak ada yang direncanakan. Banyak hal yang tetap menjadi pertanyaan hingga sekarang.
Kukira kami tak banyak bicara hari itu. Kami lebih sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya saat pulang saja ia berkali-kali menyandarkan kepalanya di bahuku, dan aku mendekapnya.
“Coba,” katanya. “Kenapa sih kamu tak datang tiga tahun yang lalu? Jangan mau lulus begini baru datang.”
“Baru 15 lho kamu berarti.”
“Terus?”
“Masa aku pacaran dengan gadis lima belasan?”
“Siapa bilang kita pacaran? Kan gak mesti pacaran.”
“Jadi ngapain aku datang?”
“Emang sekarang ngapain kamu datang?”
“Kan pacaran? Emang ngapain kita?”
“Ya begini.”
Aku menghentikan langkah, lalu menatap manik matanya.
“Waras gak sih kamu?” Sergahku menahan marah. Dan di luar dugaanku, Rita malah menangis. Tak bersuara. Hanya air matanya saja mengalir seperti pancuran air di aquarium. Panik aku jadinya, Ia segara kutarik dalam dekapan.
Senja tampak memerah di balik bukit. Beberapa Kalong pulang ke sarang bergerobol. Ini memang musim duren.
* * *
Dua hari menjelang lebaran, dua hari tanpa Rita. Aku puasa, dan malam sholat tarawih. Pulang tarawih, kami sms-an. Ia bercerita tentang Malioboro yang ramai jajanan pada sore hari, juga keinginannya agar suatu waktu kami bisa buka puasa bersama di sini.
“Bayangkan, kita duduk lesehan, lalu datang pengamen, lalu kita nyanyi bareng.”
“Gak ah,” sanggahku.
“Masa nyanyi di situ. Di Parangtritis dong.”
“Iya ya. Di bawah cemara, laut, pasir putih…”
“Kita duduk di pasir.”
“Dan kamu memeluk aku kan?”
“Dan kamu memeluk aku.” Pikiranku melayang.
“Ya, aku memelukmu.”
Hening selintas.
“Aku kangen,” katanya.
“Iya sih.”
“Bang!”
“Ya.”
“Gak jadi, ah.”
“Lho.”
“Gak ah.”
“Lho.”
“Emang.”
“Katanya kangen,” aku meledek.
“Boleh kan?”
“Sama.”
“Sama apa?”
“Kangen juga.”
“Iya sih.”
“Kok iya sih,” sergahku.
“Ya emang kangen. Kangen saja kan sudah cukup?”
“Mana cukup.”
“Terus?”
“Datang deh.”
“Kan lebaran masih.”
“Iya sih.” Lemas rasanya. Ketika semua orang bergembira menyambut lebaran, aku malah sedih karena harus kehilangan.
Admin : Dina Sukandar

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.