CATATAN PEREMPUAN LEPAS, (BAGIAN III)

Menjalani hari lebaran tanpa ada Rita, sungguh menjadi hal yang sulit. Gila rasanya sendiri kalau sudah terbiasa bersama. Semua terasa kosong dan kehilangan makna. Banyak makanan kesukaan yang tiba-tiba menjadi hambar, sekat di kerongkongan. Makin malas mandi. Aku jalan saja menyusuri jalan yang dilalui bersama Rita dulu.
Malam itu tak bisa tidur, mendadak teringat semua. Berbagai kenangan melintas dan menegur. Ternyata, betapa mengesankan momen yang dijalani bersama selama waktu yang singkat. Betapa menakjubkan, betapa suatu momen tertentu dalam hidup bisa mengubah kita.
Tapi ini, saat melintas di jalan, mendadak bus berhenti. Dan Rita turun dari pintu bus. Ya, Allah, aku terpana dan nyaris bersorak. Gerangan apa yang membuatnya mendadak datang begini, tanpa mengabari lagi. Kaget benar. Kukira masih seminggu lagi ia di Yogya.
“Tumben,” cetusku menghampiri, seraya menjinjing kopernya yang berat. Hum, aku membayangkan apa saja isi koper ini, baju, pakaian dalam, perangkat bedak, dan tentu CD film Korea kesukaannya.
“Napa? Gak suka? Biar aku balik lagi!” sergahnya bercanda. Cemberut begitu malah membuatnya makin manis.
“Tega banget.”
Rita tertawa. Tanpa malu-malu aku segera menariknya jalan.
Aku menunggunya sebentar, mandi katanya. Masa bau gini kita jalan, katanya. Dan sambil menunggunya, aku merapikan bunga-bunga hias di depan rumah neneknya. Ada Kembang Sepatu, Lily, dan ini: bunga Wijaya Kusuma. Hum, bunga ini mekarnya di bulan November hingga Desember. Bunga misteri. Dulu, tiap putra mahkota diwajibkan memetiknya sebelum mereka di angkat jadi raja. Mekarnya di malam hari. Karena itu, ia dijuluki “Night Queen.” Kabarnya bunga ini meredam rasa sakit, menyembuhkan luka.
Dan ketika itu kuceritakan pada Rita, jawabannya sungguh di luar dugaanku.
“Aku juga bunga kok,” katanya. “Berbunga tiap hari, tidak hanya bulan Desember. Aku juga Queen siang-malam, kamu saja yang tak petik.”
“Benar nih?”
“Ya iya lah. Coba, ngapain kamu dekatin aku.”
“Karena aku suka.”
“Itu doang?”
“Terus?”
“Kalau cuma suka, kan udah! Ngapain lagi?”
“Ya, karena mau terus.”
Ia berbalik ke arahku, memandangiku dalam-dalam. Wajahnya serius. Ia tampak dewasa dengan gaya itu, lebih dari sekedar gadis usia 18.
“Apa sih,” cetusku.
“Kenapa tak nikahi aja aku sekarang.”
“Benar? Mau?”
“Banget.”
“Serius?”
“Banget. Berani tidak?”
“Banget.”
“Ya udah, ayo.”
“Ayo.”
Aku menarik tangannya ke arah jalan raya. Angkot kustop. Tak perlu arah. Kami naik saja. Duduk bersisihan. Ia menyandarkan lengannya di pahaku, dan aku memeluknya. Tak ada ngomong sepanjang jalan. Hanya suara ban mobil yang mendersir di aspal. Entah apa yang ia pikirkan. Aku juga merasa no thing to lose saja.
Dan di stasiun terakhir, angkot berhenti. Ternyata tinggal kami berdua penumpangnya. Tak ada pilihan lain kecuali turun. Jam tangan kulirik, waw! Ternyata sudah dua jam kami di jalan.
“Lapar,” cetus Rita..
“Cari makan, yok!”
Hum, ada tukang sate. Aku membeli dua bungkus, lalu duduk di bawah Mahoni. Rita makan dengan lahap. Aku lebih banyak menikmati caranya makan. Dalam segala hal ia memang menarik.
“Terus kita kemana?” Sapanya.
“Lho, kan katanya kawin.”
“Iya kemana. Masa kawin di sini doang?”
“Iya sih.” Aku bingung juga. “Jalan aja deh, terserah kemana.”
“Ayo.”
Kami jalan kaki ke arah belakang stasiun, melintasi tegalan, sawah, dan beberapa petak lahan sayuran. Gerimis turun. Aku menarik lengannya ke pondok di bawah pohon Jambu. Nafasnya ngos-ngosan. Rambutnya yang ditimpa gerimis seperti pendar gugusan bintang “Cassiopeia”. Rasi bintang yang mengingatkanku pada mitologi Yunani, seorang ratu yang karena kecantikannya melebihi peri, ia lalu dihukum dewa laut dengan dikat di langit. Dan ketika hal itu kuceritakan pada Rita, ia tertawa terbahak-bahak.
“Emang aku cantik?” sapanya.
“Banget.”
“Apanya, coba.”
“Bibirnya.”
“Ih, emang kenapa?”
“Aristokrat.”
“Emang perlu?”
“Banget.”
“Norak.”
“Biar.”
“Sok tahu.”
“Biar.”
Sepi melintas. Rita mengeluarkan foto dari dompetnya. Potret laki-laki setengah baya. Warnanya tampak buram.
“Siapa?” Sapaku penasaran.
“Mendiang Ayah.”
“Oya?” Aku kaget. Aku kira keluarganya masih lengkap.
“Tahu gak apa yang bekesan dari ayah? Waktu kecil, Ayah membawaku menonton sirkus. Ketika pas adegan wanita meloncat dari tali ke tali yang lain, dan nyaris jatuh, katanya begini: jangan dikira itu tak sakit, tapi ia berusaha membuat kita merasa bahagia.” Lalu ia menyanyikan lagu Luther Vandross – Dance With My Father:
If I could get another chance
Another walk, another dance with him
I’d play a song that would never ever end
How I’d love love love to dance with my father again
Dan Rita menangis. Karena itu aku mendekapnya seperti mendekap anak kecil yang takut suara petir.
* * *
Tengah malam terjaga. Kaget karena kami ketiduran di pondok tengah sawah. Aku panik, karena membayangkan keluarga Rita ribut. Lebih kaget lagi karena bisa ketiduran di sini begitu lama, banyak nyamuk lagi. Ini di luar perkiraanku. Dan melihat Rita tidur meringkuk, sungguh membuatku merasa iba. Dan kuingat kembali cerita Ayahnya, betapa orang kadang-kadang harus menahan sakit untuk membuat orang lain bahagia.
Aku segera mengumpulkan serabut kelapa di bawah pondok, lalu menghidupkan api. Tapi malah membuat Rita terbatuk-batuk karena penuh asap. Ia segera duduk. Aku kira ia akan panik karena tersadar di tengah sawah. Tapi malah ia tenang saja.
“Sudah malam ternyata,” gumamnya. “Lama ya aku tidur.”
“Nyesal ya?”
“Gak, ah. Ngapain?”
“Lho.” Aku memang kaget, bahkan paling cemas.
“Kan udah janji kita nikah.”
“Iya sih.”
Aku diam. Rita menyandarkan kepala di bahuku.
“Misalnya,” katanya, “Misalnya ya, aku yang lebih dulu mati….”
“Jangan ngomong gitu napa.”
“Kan misalnya, andai.” Ia diam sebentar. “Gak tau ya kalau aku penyakitan.”
“Penyakit apa.”
“Gak, ah.”
“Lho, katanya ada.”
Diam selintas. Suara hutan menimbulkan rasa sunyi.
“Tapi misalnya, misalnya lho, aku mati, kamu mau kan ziarahi aku?”
“Jangan cerita itu napa.”
“Kan misalnya. Apa salahnya.”
“Iya, masa aku tak datang,” kataku kesal.
“Ziarah lho, bukan melayat.”
“Iya, pastilah. Bawa sapu, menyiram.”
“Hum… aku tenanglah kalau gitu.”
“Sinting.”
“Lho, emang iya. Kalau cuma cinta selagi bernyawa, itu sih udah jamaknya.”
“Emang kamu juga datang.”
“Ya, iyalah. Tiap hari malah. Aku mau kita dikubur di bawah bambu itu. Dan tiap angin berhembus, suara daun bambu macam musik yang indah.” Ia diam selintas. Terdengar suara-suara malam seperti musik yang duka.
“Bang,” cetusnya.
“Hum…”
Ia lalu bercerita tentang bagaimana inginnya ia sejak dulu ke Lembah Mandalawangi, memetik Edelweis yang masih segar, menyimpannya dalam pot bambu, dan memajangnya di meja kamarnya. Lalu ia bernyanyi…
Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet meSmall and white,
clean and brightYou look happy to meet me
Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss,
Edelweiss
Bless my homeland forever
Kaget juga aku bagaimana ia bisa hapal lagu klasik itu. Dan jawabannya membuat aku tertawa. “Mungkin aku pacarmu yang paling jelek, tapi aku yang paling berkelas,” katanya.
Ia segera kupeluk, hingga subuh.(Askolani Nasution).
* * *
Admin : Dina Sukandar A.Md

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.