Elite Politik Setelah Bercerai, Rujuklah Kembali Di Hari Yang Fitri

Wahyu Hidayat

Hadirin sidang pembaca yang mulia, kita telah memasuki hari kemengan, hari dimana kita bahagia dan penuh cinta sesama umat manusia–namanya Idul Fitri.

Takbir yang sendu dan mengharukan membuat batin kita penuh dengan kelembutan dan kesejukan. batin kita bagaikan ebun suci yang lembut.

Tetapi kejernihan suasana batin kita itu masih dinodai oleh polusi konflik kepentingan politik pemilu pada 17/April/2019 lalu, elite politik terpecah belah sampai hari ini, bangsa menjadi bercerai-berai anatara pendukung loyalis capres Jokowi-Ma’aruf Amin dengan capres Prabowo-Sandi.

Ketegangan di media sosial antar pendukung masih menguap dan membakar. Hari yang fitri kali ini masih dalam keadaan yang tercemar.

Ada beberapa persoalan yang harus menjadi perhatian kita; pertama, terjadinya pembelahan kekusaan (dualisme) kepemimpinan di negara Indonesia pasca pemilu.

 Kedua, pertanggung jawaban negara terhadap korban KPPS yang meninggal sebagai pelaksana pemilu, dan Ketiga, transparansi informasi oleh aparat kepolisian terhadap pelaku penembakan massa aksi pada 21-22 Mei 2019.

Itu lah persoalan yang sedang mencemari ruang publik negara saat ini. ketercemaran yang masih berlanjut ini, membuat kita seakan mengingkari fitrah kemanusian yang seharusnya perbedaan pendapat dapat diselesaikan dengan kebijaksanaan antar elite politik yang masih bersitegang atas perebutan kepentingan yang menjadi sengketa, yang merusak ruang publik kenegaraan menjadi ruang yang mengjengkelkan dan menodai kesucian hari raya Idul Fitri.

 Padahal inilah momen kita untuk mengerti bahwa perbedaan itu adalah fitrah dari kehidupan kita yang fundamental: suku, agama, ras dan golongan sosial tidak akan pernah satu, kesatuan itu hadir manakala kita mengerti dalam memaknai bahwa hakikat kehidupan adalah perbedaan itu sendiri.

Semoga di hari yang penuh cinta ini, elit politik yang berkepentingan dapat saling memaafkan. Idul Fitri Momen Saling Memaafkan Setelah perjalanan konflik politik yang dialami oleh bangsa Indonesia bebarapa tahun kebalakangan ini, yang membuat bangsa ini bercerai hingga menjadi bangsa buruk rupa.

 Alangkah bijaksananya jika ada terpercik dalam jiwa setiap elite politi baik secara ucapan maupun secara tindakan dapat saling memaafkan demi bangsa dan negara Indonesia. Hari yang penuh cinta, dan kebahagian inilah momennya untuk saling memaafkan.

Jika kita kembali ke masa lalu, kita akan mengerti betapa cintanya para pendiri bangsa ini kepada kita yang saat ini menikmati kemerdekaan, persatuan, dan kesatuan yang menjadi kekayaan bangsa ini. Pada waktu itu, para pendiri bangsa mempersiapakan kemerdekaan, pera pendiri bangsa saling bertanya, “apa yang kita inginkan?”.

 Bung Hatta menjawab: “Aku ingin membangun negara di mana semua orang merasa bahagia didalamnya”. Lantas mereka menyatakan, “tidak ada kebahagian tanpa kemerdekaan; tidak ada kemerdekaan tanpa pemerintahan sendiri; tak ada pemerintahan sendiri tanpa konstitusi; dan akhirnya tak ada konstitusi tanpa moral”.

 Itulah kebijaksanaan para pendahulu bangsa, tanggung jawab beban moril yang dimiliki oleh pendiri bangsa untuk memerdekakan dan mempersatukan bangsa Indonesia sepatutnya ditauladani oleh para elite politik saat ini.

Memaafkan adalah tugas moril yang harus dimiliki oleh semua yang berkehendak untuk menjadi pemimpin yang bijaksana. Memang banyak pemimpin saat ini terlihat bertukar haluan, karena penghidupan, popularitas, dan proyek pencitraan diri. Pemimpin yang bijak sana senantiasa akan terjauh dari godaan iblis itu.

 Kata Bung Hatta kembali bahwa “ketetapan hati dan keteguhan iman adalah satu conditio sine gua non (syarat yang terutama) untuk menjadi pemimpin.

Kalau elite politik tidak memiliki beban moril yang kuat, ia tak akan dapat memenuhi kewajibannya untuk menjaga persatuan dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Beban moril untuk memaafkan memang merupakan suatu pengalaman; pengalaman perpindahan dari suatu peristiwa yang tidak mengenakkan beralih menjadi peristiwa yang membebaskan.

 Karena itu, memaafkan berarti membebaskan. Artinya, dengan memaafkan, sang pemberi maaf melepaskan seluruh kekecewaan, kegelisahan, benci, sakit hati, dan dendam di dalam dirinya sendiri.

Memaafkan juga menjadi suatu pemebelajaran berharga bagi pemberi maaf. Karena memaafkan menuntut kerendahan hati, dan keterbukaan diri bagi orang lain.

Adanya prinsip keterbukaan untuk saling memaafkan antara para elite politik bangsa ini, akan memberikan arti yang begitu dalam bagi bangsa yang telah dinodai ini. Pengakuan kesalahan dan kekhilafan itu, merupakan refleksi dari keinginan untuk tidak akan melakukan hal yang sama pada kesempatan lain.

 Oleh karena itu harus dimaafkan. Pada akhirnya kita sebagai bangsa Indonesia akan berkata “We forgive, but not to forget”.

 Maka sikap itulah yang di harapkan oleh seluruh rakyat bangsa Indonesia dari para elite politik yang berseteru saat ini. Agar kita hidup penuh cinta dan kebahagian.

Dimomen hari raya Idul Fitri ini, agar pula kita mejadi golongan bangsa yang kembali sebagai pemenang (minal ‘aidin wal faizin) dan semoga tercerainya elite politik saat ini dapat kembali rujuk di hari yang fitri ini.

Penulis : Wahyu Hidayat Lubis(Foto )  Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam—Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan

 Admin : Dina Sukandar Hasibuan

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.