FILOSOFI DURIAN

DURIAN

Bagi orang Mandailing, musim durian memiliki banyak makna. Dulu, masa ketika masih hidup falsafah “Sa Anak Sa Boru”, biasanya keluarga yang “saparompuan” punya ladang durian milik bersama, yang dijaga secara bergantian (siang dan malam) antara satu keluarga dengan keluarga lain (dalam beberapa keluarga batih yang satu nenek). Atau kadang kita mengundang keluarga yang tinggal di luar kampung, lalu diajak “manjago tarutung”. Selama menunggui durian jatuh, keluarga berkumpul di pondok sambil memasak “sipulut” atau lemang. Dan sebagian yang jatuh dimakan bersama, sisanya untuk “silua” tamu yang “mangulangi” tadi. Durinya digunduli, dimasukkan ke karung, lalu dijadikan oleh-oleh. Karena itu, dalam satu petak sawah, selain ditanami padi, selalu disisihkan beberapa “lupak” untuk “Sipulut”. Gunanya, selain untuk membuat “alame” atau “lomang”, juga untuk membuat “kotan” (campuran pulut dengan kelapa kukur yang belum terlalu tua). Atau subuh-subuh, selalu ada yang menjual “kotan” untuk sarapan pagi, atau untuk dibawa ke ladang duren tadi.

Tidak semua suku tahu bahwa di Mandailing, dulu, orang bangun saat subuh, lalu ke mesjid, lalu ke kedai kopi sebentar, lalu yang laki-laki berangkat “mangguris”. Ibu-ibu saat subuh langsung masak nasi. Jadi, begitu azan subuh, semua dapur mulai “markacak”: terdengar suara panci, piring kaleng, suara kelapa dikukur pakai tangan, suara “manggiling lasiak”, bersamaan dengan suara ayam di kandang rumah berjenjang yang “marsipogesan” karena berebut keluar pintu. (Dan ketika itu saya angkat dalam cerpen “Salju dan Naluri” Taufik Ismail langsung memanggil saya, karena itu sangat indah bagi sastrawan seperti dia).
Saat yang sama, para anak gadis menjinjing “barigit”, sambil sholat di surau, sambil membawa air dalam sebilah bambu.
Dan tidak semua tahu, banyak orang tua di Mandailing yang suka menjadikan durian sebagai kawan nasi. Cuma durian tok dengan nasi putih. Selain itu durian juga dijadikan falsafah “ulang songon ambasang, limus di luar marjabut di bagasan, tagenan do songon tarutung, marduri pe di luar lambok ibagasan.” Dan dalam cerita-cerita disebutkan bahwa melalui buah durian manusia dan harimau bisa saling berbagi. Puluhan kali ada cerita manusia dimangsa harimau, tapi belum pernah saya dengar harimau memangsa manusia saat berebut durian jatuh. Artinya, di bawah pohon durian, ada etika.(Askolani Nasution).
Admin : Dina Sukandar A.Md

Komentar

Komentar Anda

Related Posts

Segudang Masalah di Kabupaten Mandailing Natal (1)

Masyarakat Kabupaten Mandailing Natal, selama kurun waktu Tahun 2023 – akhir Tahun 2025 ini, meresa heran dengan sikap Bupati/Wakil Bupati, Kapolres, Kejaksaan Negeri dan 40 anggota DPRD, yang tidak mampu…

Read more

Continue reading
Tambang Untuk Rakyat, Rakyat Yang Mana..?

PERATURAN Pemerintah Nomor 39 Tahun 2025 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batu bara (minerba) disambut dengan tepuk tangan oleh banyak kalangan. Di atas kertas, aturan ini menjanjikan desentralisasi…

Read more

Continue reading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses