Gelar Tertinggi, Senapas Obsesi Ayahanda

Bagian 3 dari 4 berjudul: “Pesan Ayah tak Boleh Ditawar, Spirit Ivan tak Terbendung”

H.Ivan Iskandar Batubara

Dalam penghayatannya, sekalipun tidak sempat memberi perintah langsung, Sang Ayah amat berharap agar anak-anaknya tidak lepas tangan dan terus mendorong Mandailing Natal agar menggeliat inovatif, kreatif, produktif serta kompetitif. Madina harus maju jauh ke depan. Agar masyarakatnya bisa makmur dan masyhur.

“Bagaimana caranya?” begitulah luahan pikiran Ivan saat itu.

Pertanyaan yang terus-menerus mendominasi pikirannya. Untuk konteks seperti saat ini, bagaimana cara mendorong agar Madina maju pesat dan melejit.

Beberapa saat sebelum wafat pun, topik itu terlontar dalam bincang-bincang dengan Ayahanda. Artinya, buat Ayahanda, Madina itu masih jadi sejenis PR (pekerjaan rumah) yang belum selesai dan pada akhirnya harus dibawa ke sekolah.

Makanya, lanjut Ivan, ketika muncul cerita bahwa Raja-raja Mandailing hendak memberinya gelar, dia terus berpikir apakah itu semua klop dengan harapan Ayahanda.

“Ya, alhamdulillah, pada saat menerima gelar tertinggi untuk orang yang bermarga Batubara itu, saya juga merasa mendapat beban teramat berat. Jelas, gelar itu tak main-main. Ada maknanya. Mengandung harapan besar. Ada doa di dalamnya.

Ivan pun coba menjabarkan lebih jauh dengan intonasi rendah dan suara yang berat: “Patuan…, orang terhormat yang karena arif dan bijaksana diposisikan sebagai “tuan” yang diakui. Karena itu, saya salami maknanya, dimana istilah “tuan” menjadi “Patuan”. Ini kan…, dalam kali maknanya. Dahsyatlah. Jangan salah kita, itu beban berat. Belum tentu saya mampu mengembannya.”

***

Iya, kalau dicermati, betapa berat beban itu. Belum lagi kosa kata “Parimpunan”, yang merujuk pada personalitas tokoh yang diharapkan untuk bisa merangkul dengan kerendahan hati. Menghimpun semua kalangan. Semua golongan. Semua keluarga. Semua marga, dalam bingkai “Dalian na Tolu”. Semua pihak bisa berkomunikasi.

PPGM butuh waktu untuk menyerap lebih utuh titah Patuan Mandailing dari Hutasiantar dan Mangaraja Iro Parlagutan dari Manambin Bolak itu. Sejatinya, perintah adat itu berisi “olos dan andung seluruh Raja-raja Mandailing” atas kondisi Madina hari ini.

Dia menggambarkan makna gelar yang sudah disandangnya. Kata “gomgom”, sebut Ivan lebih jauh, “juga punya makna yang senada dan seirama dengan “parimpunan”. Setelah semua kekuatan berhimpun, tentu harus ada juga kapasitas dan keberanian untuk bersiap jadi pemberi perlindungan, pengayoman dan sekaligus bimbingan agar semua unsur berpadu dalam satu visi dan motivasi kuat bernama Mandailing.

Apakah gelar tertinggi itu sinkron dengan kerisauan dan harapan Ayahanda yang beberapa waktu sebelumnya sudah wafat? Ini juga terus menjadi pemikiran baginya.

Memang, akunya, hingga saat itu, tak ada yang lari atau jauh dari harapan ayahanda. Insya-Allah, Ayahanda pun mungkin tersenyum melihatnya sudah berbuat atas kegaulauan ayah, terutama di masa-masa akhir hidup ayah.

Di sisi lain, Ivan juga merasa terberi dengan gelar itu. Kepada media saat itu, Ivan mengungkapkan bahwa dia sangat bersyukur dapat diterima dalam tatanan adat Mandailing. Menjadi seseorang yang dipilih.

“Alhamdulillah, hari ini saya dan Namora Junjungan Nauli serta seluruh warga Alahankai dan Ulu Pungkut Mandailing Julu, telah menerima nikmat persaudaraan dari koum koum se Mandailing Natal, Bupati dan unsur Forkopimda Mandailing Natal. Sesuatu yang sangat berharga bagi kami dan penerus. Sebaik-baik dakwah, itu adalah keteladanan dan ini yang diperlihatkan koum-koum (saudara), terutama senior di Tano Rura Tano Barani Mandailing,” ujar Ivan Batubara Kerala rmolsumut.id (10 Juli 2022)

Senada dengan itu, Ivan juga mendapat anugerah gelar adat Melayu dari Kesultanan Deli di Balairung Istana Maimun Medan pada 2 Oktober 2022. Yakni, Datok Sri Paduka Mahkota Raja. Gelar dari Sultan Deli XIV Tuanku Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam ini pun, katanya, termasuk nikmat dari persaudaraan yang amat membahagiakan.

Dia menambahkan, “Persaudaran Melayu dan Mandailing diharapkan terus terjaga, terutama dalam menggalakkan semangat membangun kampung halaman. Gelar yang saya terima sungguh merupakan kehormatan yang harus saya jaga, terutama akhlak. Inilah Mandailing, semua bersatu dalam kekeluargaan.”

Sekitar gelar adat Melayu ini, dia mengungkapkan, “Datuk” adalah gelar yang disandang nenek moyang marga Batubara. Sedang “Sri Paduka”, menunjukkan pangkat kemuliaan seorang raja yang dilantik oleh kepala-kepala adat dalam wilayah adatnya.

Lalu, “Mahkota Raja” di bagian belakang menandakan tokoh yang mendapat gelar itu adalah raja, yakni yang berkuasa di Tanah Mandailing, Patuan Parimpunan Gomgom Mandailing.

Gelar yang diberikan Sultan Deli, tambah Ivan Batubara seperti ditulis infomu.co (3 Oktober 2022), menjadi spirit kebersamaan Melayu dan Mandailing untuk memajukan NKRI.

Begitulah terus-menerus, Ivan menyelami makna kedua gelar yang sudah disandangnya.

***

Nah, itulah. Hidup penuh kejutan. Walaupun belum betul-betul dapat mendudukkan gelar itu di dalam dirinya, Raja-raja Mandailing sudah minta jumpa. Ada “hata olos dan hata andung” yang hendak mereka sampaikan.

Apa itu?

Dalam pertemuan hikmat yang berlangsung di bagas godang Alahankae, Raja-raja Mandailing memintanya untuk terlibat langsung membenahi Mandailing Natal dan maju menjadi Calon Bupati Madina 2024-2029.

Pada saat itu, walau terkejut sekaligus takjub, Ivan pun memberikan “hata alus” (tanggapan). Dengan bahasa yang juga halus dan tinggi lagi bijaksana, PPGM waktu itu menyampaikan, seperti pernyataan yang kemudian muncul di sejumlah media, dia tidak mengelak. Tidak bisa menolak. Tak akan mungkin lari.

Mengapa?

“Karena itu tadi, pesan ayah untuk ikut membantu Mandailing Natal untuk bergerak meraih mimpinya,” sebut Ivan.

Tentu saja, olos-andung Raja-raja Mandailing itu juga membawa konsekuensi teknis. Sekalipun, menurutnya, masih senapas dengan harapan Ayahanda, maju sebagai bakal calon bupati bisa menyebabkan pergesekan yang tidal produktif

Menurutnya, andai kata peran seperti itu yang harus dimainkan dan memang itulah pilihan terbaik untuk memenuhi harapan Ayahanda, banyak hal yang harus dipersiapkan.

Katanya, secara umum, ada dua hal jadi poin penting. Dua-duanya harus beres. Keduanya, bisa jadi boomerang. Padahal, semuanya harus produktif untuk mencapai tujuan.

Pertama, dia harus bisa merekatkan ikatan sesama saudara. Termasuk koum-koum di Ulupungkut. Begitu juga para sesepuh di pantar paradaton (sidang adat Mandailing). Pokoknya, banyak pihak harus diajak dan terlibat dalam membangun Mandailing Natal.

Kedua, tambahnya, faktor yang sangat mendasar yang melekat dalam kondisi terkini. Jelas memang, umumnya masyarakat Mandailing Natal, termasuk kekuatan yang memang hendak mengatasi problem-problem besar saat ini, mau mendukungnya. Tapi, belum tentu semuanya siap untuk berbenah dan mengubah pemikiran (mindset).

“Ini sangat prinsipil buat saya. Adat dan agama mengajari kita untuk mengutamakan nilai lebih dari bendanya. Untuk sampai ke suatu tempat, misalnya, kita kan tidak harus naik pesawat, misalnya. Yang terpenting kan, bagaimana supaya sampai ke tujuan.

Tapi kan, kita juga lihat, banyak yang keliru. Tak sedikit tokoh yang berpikir, untuk sampai ke Jakarta, misalnya, harus naik pesawat. Padahal, bisa saja jalan darat atau jalan kaki, tergantung situasinya. Jadi nilainya lepas, esensinya lari kan?” katanya menggugah. (Bersambung)

Penulis:
Muhammad Ludfan Nasution, jurnalis dan Anggota DPRD Madina Priode 2014 – 2019.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.