… Luruskan Niat, Nikmati Proses, dan Pengabdian Berujung Kepuasan Batin…
Kripis Politik || Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Jejaknya terbentang dari rumah mahasiswa hingga panggung politik. Dari tempaan organisasi menuju tanggung jawab kepada masyarakat serta di hadapan Tuhan.
Satu nama muncul dalam analisis politik sesepuh Golkar Madina, Ompung Sarling — H. Syariful Sarling Lubis. Kader yang dinilai memenuhi syarat untuk bertarung dalam kontestasi Musda VII Golkar Madina tanpa diskresi ialah Zubaidah Nasution.
Menarik. Ketika ruang politik semakin terbuka bagi perempuan, sementara banyak faktor penentu tampak berpihak kepadanya, adakah terbersit hasrat dan ambisi untuk melangkah lebih jauh? Mengukir sejarah bahwa politik akan lebih keibuan di tangan seorang perempuan?
Dalam politik, peluang dan ambisi adalah dua perkara yang berhubungan, tetapi tidak identik. Kajian Jennifer L. Lawless dan Richard L. Fox tentang ambisi politik menunjukkan pentingnya membedakan keinginan memasuki kontestasi dari peluang dan hambatan yang menentukan apakah seseorang benar-benar maju.
Dengan kata lain, memenuhi syarat belum tentu berarti ingin menduduki jabatan. Sebaliknya, tidak mengumumkan ambisi bukan berarti seseorang tidak memiliki orientasi kepemimpinan.
Sementara itu, perspektif Pierre Bourdieu tentang modal sosial, budaya, dan simbolik mengajak kita membaca perjalanan seorang politisi secara lebih utuh. Pengalaman organisasi, jaringan pergaulan, pengetahuan politik, dan pengakuan dari lingkungan partai dapat menjadi modal yang terbentuk melalui proses panjang. Modal itu tidak otomatis mengantarkan seseorang ke kursi ketua, tetapi membantu menjelaskan bagaimana posisi politik dibangun dan diakui.
Dalam konteks perempuan, persoalannya bahkan lebih kompleks. Riset tentang kepemimpinan partai menunjukkan bahwa peluang perempuan tidak hanya ditentukan oleh kapasitas dan kemauan pribadi, tetapi juga oleh aturan, budaya organisasi, serta mekanisme seleksi kepemimpinan.
Dengan tiga perspektif itu, perjalanan Zubaidah Nasution menarik dibaca bukan semata-mata untuk menjawab apakah ia akan maju dalam Musda VII Golkar Madina. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah bagaimana ia membangun modal politik, memaknai proses kaderisasi, dan menempatkan peluang kepemimpinan dalam perjalanan pengabdiannya.
Memenuhi persyaratan untuk bertarung dalam Musda tidak otomatis berarti seseorang berambisi menjadi ketua. Sebaliknya, tidak menyatakan kesiapan secara terbuka juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seorang kader tidak memiliki orientasi politik yang lebih jauh.
Ambisi perlu dibaca melalui pernyataan, rekam jejak, pilihan, dan tindakan yang dapat diamati—bukan sekadar dugaan.
Di sinilah menariknya membaca perjalanan Zubaidah. Apakah setiap tangga organisasi dipandang sebagai jalan menuju jabatan berikutnya, ataukah setiap tahapan memiliki arti tersendiri dalam proses pengkaderan dan pengabdian? Pertanyaan ini bukan untuk menebak ambisinya, melainkan memahami bagaimana ia memaknai perjalanan politik yang telah ditempuh.
Lantas, ke mana arah Zubaidah Nasution dalam Musda VII Golkar Madina?
Perbincangan dengan politisi Golkar ini belum memberikan jawaban tegas tentang sejauh mana ia ingin melangkah. Namun, jejak perjalanan dan pengalaman organisasinya menyediakan bahan untuk penelusuran lebih jauh.
Sebab, profil seorang kader tidak semestinya berhenti pada pertanyaan apakah ia siap menjadi ketua. Perlu juga ditelusuri apa yang telah dikerjakannya, nilai apa yang dipegangnya, dan bagaimana ia menempatkan pengabdian dalam perjalanan politik.
Pernyataan “Siap, Ketua!” bukan satu-satunya ukuran ambisi. Begitu pula klaim “Siap menjadi Ketua!” tidak dengan sendirinya menjadi bukti kematangan politik.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah satu bagian dari perjalanan. Proses, komitmen, dan tanggung jawab kepada masyarakat merupakan dimensi lain yang tak kalah penting untuk dibaca.
Rumah Pertama

Perjalanan Zubaidah Nasution bersama organisasi tidak dimulai di panggung politik. Alumni IISIP Jakarta ini pernah menjadi Bendahara Umum Imatapsel, organisasi mahasiswa asal Tapanuli Selatan yang baru berdiri di Jakarta pada 1994—ketika wilayah Mandailing Natal masih menjadi bagian dari Tapanuli Selatan.
Menghimpun mahasiswa daerah di perantauan ketika itu bukan pekerjaan sederhana. Jangankan arsip berupa daftar nama alumni dan data calon anggota, sekretariat saja masih harus menumpang.
Sebagai pengurus, ia bersama kawan-kawan harus menginventarisasi mahasiswa asal daerah mulai dari nol. Menelusuri jejak keluarga dan pergaulan para perantau, membangun jaringan, menyambangi rumah tokoh, dan meyakinkan banyak pihak tentang pentingnya organisasi bagi anak-anak muda yang jauh dari kampung halaman. Zubaidah mengikuti proses itu dengan tekun.
Imatapsel menjadi ruang belajar tentang organisasi, solidaritas, dan pengabdian kepada kampung halaman. Program Safari Ramadan 1994, misalnya, membawanya bersama pengurus pada satu kesepakatan hingga terealisasi di tiga titik pengabdian: Sipirok, Padangsidimpuan, dan Panyabungan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Zubaidah kembali ke Panyabungan. Ia sempat bergelut di bagian pemberitaan sebuah stasiun radio sebelum membangun usaha sendiri yang bertahan hingga sekarang.
Ia justru lebih dahulu menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu, sebelum kemudian memasuki kontestasi Pemilu Legislatif melalui Partai Golkar pada 2019.
Lintasan itu mempertemukan pengalaman organisasi, kemandirian ekonomi, kehidupan keluarga, dan romantika politik praktis. Setiap fase tentu memberikan tantangan dan pelajaran tersendiri.
Sekolah Politik
Dalam unggahan media sosialnya, Zubaidah menyebut bahwa perjalanan di Golkar mengajarkannya kesabaran, motivasi, ketekunan, dan pengabdian. Dinamika politik, menurut pengakuannya, juga mendewasakannya dalam menjalani politik praktis.
Pernyataan ini memperlihatkan bagaimana ia memaknai partai bukan semata-mata sebagai kendaraan untuk memperoleh jabatan, melainkan sebagai ruang pembelajaran. Di dalamnya, kader berhadapan dengan perbedaan kepentingan, tuntutan organisasi, persaingan, dan tanggung jawab yang tidak selalu mudah.
Pengkaderan memang tidak selesai ketika seseorang memperoleh posisi. Justru setelah kepercayaan diberikan, pelajaran organisasi diuji melalui cara mengambil keputusan, memperlakukan sesama kader, menyikapi perbedaan, dan melaksanakan amanah.
Kesenangan menjalani proses tersebut juga penting. Ketika seseorang menikmati proses belajar dan pengabdian, perjalanan politik tidak hanya diukur dari pencapaian jabatan. Ada kepuasan tersendiri ketika pengetahuan bertambah, kedewasaan tumbuh, dan tanggung jawab dapat dijalankan dengan baik.
Semuanya memberi pelajaran tentang kesabaran, motivasi, ketekunan, dan pengabdian. Semua itu terangkum dalam istilah personalnya: “Sekolah Golkar”.
Cerita Figur Berjasa

Bagi Zubaidah, penting untuk mengingat, mengenang, dan menghargai orang-orang yang pernah berjasa kepada partainya. Di sana, ada pelajaran penting tentang bagaimana berpartai.
Di balik kisah-kisah heroik tentang inisiatif, terobosan, dan keberanian yang pernah membawa Golkar Madina ke posisi terdepan, terdapat rantai kasih sayang yang tidak boleh putus.
Karena itu, mengenang sosok almarhum H. Zainuddin Hasibuan, yang akrab disapa Bang Ucin, menjadi penting.
Zubaidah sendiri baru mengenal Bang Ucin sebagai figur yang banyak berjasa bagi Golkar Mandailing Natal melalui cerita para senior.
Kisah tentang dedikasinya menjadi sumber keteladanan. Karena itu, dalam rangkaian peringatan HUT Golkar ke-62, Zubaidah bersama pengurus DPD Golkar Madina berziarah ke makam almarhum dan bersilaturahmi dengan keluarga Bang Ucin.
Di sini, ada dimensi lain dari pengkaderan: pewarisan nilai melalui ingatan kolektif. Organisasi tidak hanya dibentuk oleh mereka yang sedang memegang jabatan, tetapi juga oleh jejak orang-orang yang pernah bekerja dan mengabdikan diri sebelumnya.
Menghormati pendahulu bukan berarti menganggap masa lalu selalu lebih baik. Yang penting ialah kemampuan mengambil pelajaran dari sejarah, meneruskan nilai yang relevan, dan memperbaiki hal-hal yang masih perlu dibenahi.
Rekan Juang
Dimensi kebersamaan yang hangat dan indah tampak pula dalam aktivitas Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Madina.
Dalam salah satu unggahannya, alumni SMA Negeri 1 Panyabungan ini bercerita tentang kebersamaan dengan kader perempuan Golkar saat menjumpai salah seorang rekan senior.
Pada kesempatan itu, mereka tidak hanya berkunjung ke rumah. Pertemuan berlanjut ke kebun dan sawah, tempat rekan juang tersebut menjalani kesehariannya.
Ia menyebut momen itu dengan ungkapan dalam bahasa Mandailing: “Holong Mangalap Holong”—kasih sayang menjemput kasih sayang.
Potret itu menggambarkan bahwa ikatan sesama anggota KPPG bukan sekadar hubungan teman satu partai, melainkan seperti keluarga yang saling menggenggam tangan dalam suka dan duka.
Kehangatan semacam ini merupakan modal sosial organisasi. Kontak dan perjumpaan seperti ini dapat menjaga hubungan antarkader, memperkuat solidaritas, dan membuat organisasi tidak hanya hidup ketika ada rapat, kontestasi, atau pergantian kepengurusan.
Namun, ikatan kekeluargaan juga perlu berjalan bersama kedewasaan berorganisasi. Perbedaan pendapat harus tetap memperoleh ruang, kritik tidak semestinya dianggap sebagai permusuhan, dan kepentingan bersama perlu ditempatkan di atas kenyamanan kelompok sendiri.
Amanah untuk Mengabdi

Pengabdian politik pada akhirnya tidak cukup diukur dari hubungan internal partai. Justru, pengabdian harus bersentuhan dengan persoalan masyarakat.
Dalam pemberitaan mengenai reses anggota DPRD di Desa Sibaruang, Kecamatan Siabu, Zubaidah mengangkat aspirasi warga terkait gagal panen, kebutuhan benih dan pupuk, serta dukungan bagi petani. Aspirasi itu kemudian dibawa ke partai, fraksi, dan paripurna DPRD Madina.
Dalam tugas pengabdian seperti itu, Zubaidah juga memiliki pengalaman yang patut dicatat. Ketika meninjau lokasi semburan lumpur panas di Desa Roburan Dolok selaku anggota DPRD Madina, ia mendesak pemerintah agar segera melakukan mitigasi.
Kedua persoalan yang ditemuinya memperlihatkan kebutuhan masyarakat yang nyata. Petani memerlukan dukungan agar penghidupannya tidak terus-menerus rentan. Begitu juga warga yang menghadapi potensi bahaya lingkungan membutuhkan pemeriksaan teknis, informasi risiko yang jelas, dan tindakan pemerintah yang mendahulukan keselamatan.
Menyerap aspirasi merupakan langkah awal. Menyampaikan persoalan kepada pemerintah adalah tahap berikutnya. Mengawal tindak lanjut dan memastikan hasilnya merupakan tanggung jawab yang lebih panjang.
Di sinilah amanah sebagai wakil rakyat memperoleh makna praktis. Bukan hanya hadir, mendengar, atau menyampaikan pernyataan, melainkan menggunakan kewenangan yang dimiliki untuk mendorong penyelesaian sesuai tugas dan kapasitas kelembagaan.
Bagi Madina, harapan yang relevan dari proses pengkaderan semacam ini ialah lahirnya kader yang semakin memahami persoalan masyarakat, semakin cermat memperjuangkan kepentingan publik, dan semakin bertanggung jawab terhadap hasil kerjanya.
Harapan tersebut tidak harus diterjemahkan sebagai ambisi untuk mengejar jabatan berikutnya. Itu dapat diwujudkan melalui kesungguhan menjalankan peran yang sedang dipercayakan.
Matang dalam Dinamika
Perjalanan politik juga membawa seorang kader ke dalam dinamika internal partai. Musda VII Golkar Madina menjadi salah satu konteks yang memperlihatkan bahwa organisasi memiliki perbedaan preferensi, kepentingan, dan perhitungan.
Dalam situasi seperti itu, kematangan politik tidak semata-mata terlihat dari seberapa keras seseorang menyuarakan dukungan atau seberapa menonjol posisinya dalam kontestasi. Kematangan juga berkaitan dengan kemampuan memahami keadaan, menjaga hubungan organisasi, menghormati mekanisme yang berlaku, dan tetap bekerja setelah dinamika kepemimpinan berlalu.
Ia menyadari bahwa tidak semua kontribusi harus tampil di panggung. Namun, setiap klaim mengenai peran seseorang dalam kontestasi tetap perlu bertumpu pada fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Bagi seorang kader seperti saya,” lanjutnya, “proses seperti ini merupakan bagian dari pembelajaran yang tidak selalu tertulis dalam materi pengkaderan.”
Karena itu, ia mengaku telah belajar tentang bagaimana organisasi lebih luas daripada kepentingan satu figur. Lebih dari itu, ia juga memahami bahwa pengabdian mesti terus berjalan di tengah perubahan situasi.
Kepuasan Tumbuh

Sosok bergelar Sarjana Sosial (S.Sos.) ini telah melewati sejumlah fase dalam perjalanan organisasi, mulai dari kegiatan berbasis sosial hingga politik praktis yang juga bernuansa sosial.
Pada akhirnya, proses tersebut tidak harus selalu berujung pada jabatan yang lebih tinggi.
“Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang merasa telah bertumbuh, mampu menjalankan amanah secara optimal, dan terus berupaya memberi manfaat sesuai peran yang dipercayakan kepadanya,” ungkap putri almarhum H. Burhanuddin Nasution ini dengan nada mantap.
Bagi istri dari Sahruddin Nasution ini, perjalanan itu masih berlangsung. Ukurannya bukan semata-mata seberapa jauh ia akan melangkah, melainkan seberapa baik ia menjalani setiap tahapnya.
Sebab, dalam politik yang berorientasi pada amanah, kepuasan terdalam tidak selalu datang dari bertambahnya kedudukan. Rasa itu tumbuh dari kesadaran atas makna setiap pengalaman yang telah dilalui.
Bagi Golkar, merujuk pada teori-teori di atas, inilah salah satu pertanyaan penting tentang keberhasilan pengkaderan: bukan hanya berapa banyak kader yang menduduki jabatan, melainkan bagaimana mereka menjalani proses, menjaga nilai organisasi, dan melaksanakan tanggung jawab publik.
Horizon Tauhid
Dalam perspektif Mandailing Epicentrum, jabatan, kemampuan, kesempatan, dan kepercayaan bukan semata-mata pencapaian pribadi. Semuanya merupakan amanah kolektif yang membawa tanggung jawab moral di hadapan manusia sekaligus di hadapan Allah SWT.
Cuplikan kisah di atas melukiskan bahwa Zubaidah menempatkan kesabaran bukan sebagai sikap pasif dalam menghadapi persoalan. Ketekunan bukan sekadar bertahan dalam persaingan. Pengabdian juga bukan hanya kesediaan menjalankan tugas organisasi.
Ketika diarahkan pada kebaikan, keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan masyarakat, kesabaran, ketekunan, serta semangat juang untuk terus mengabdi menemukan makna sesungguhnya.

Ia sepakat, “Kerja politik harus membawa manfaat bagi orang banyak, masyarakat yang lebih luas. Ini prinsip!”
Dengan ukuran itu, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh posisi yang berhasil diraih. Cara menerima kepercayaan, ketangguhan menjalankan amanah, dan manfaat yang dihasilkan juga menjadi bagian dari pertanggungjawaban. [gl-mep]
Admin : Iskandar Hasibuan.SE








