
Sejak tanggal 01 Mei 2024, Wartawan Media PT.Malintang Pos Group, melakukan Dialog dengan masyarakat tentang Mencalonkannya H.Ivan Iskandar Batubara untuk menjadi Bupati Mandailing Natal,Priode 2024 – 2029,berikut ini laporannya dibuat secara Bersambung.Redaksi.
Apa yang dicapai Mandailing Natal dalam pemajuan budaya selama 25 tahun? Nyaris tidak ada. Kecuali sebatas Gordang Sambilan.
Padahal, ada ratusan khazanah budaya Mandailing Natal yang semestinya dikembangkan dan diwariskan.
Beberapa periode kepemimpinan berubah sejak tahun 1999. Semua rezim hanya menjadikan budaya Mandailing sebagai jualan kampanye. Bukan jualan, bualan tepatnya.
Bahkan sekarang, pelajaran Muatan Lokal Budaya Mandailing Natal tidak ada lagi. Digantikan oleh pelajaran etika agama Islam. Dan itu dikuatkan perda. Padahal semestinya, pelajaran Muatan Lokak hanya berisi karakteristik daerah.
Sekalipun masyarakat Mandailing Natal agamis, taat beribadah, tetapi agama Islam bukan kebudayaan daerah sebagaimana yang dimaksud oleh undang-undang pemajuan budaya.
Kawasan Mandailing Natal selama berabad-abad dikenal karena keluruhan budayanya. Karena itu, berbagai perguruan tinggi di luar negeri membuka penelitian-penelitian tentang budaya Mandailing.
Bahkan font aksara Mandailing dibuat oleh perguruan tinggi di Eropah. Padahal, di sini, di asalnya sendiri, tidak ada lagi mata pelajaran tentang Aksara Mandailing.
Rata-rata sebelas bahasa daerah punah setiap tahun di Indonesia. Bahkan aksara daerah saja hanya ada tujuh rumpun aksara lagi. Itu termasuk Aksara Mandailing. Aksara ini juga diambang kepunahan, karena tidak cukup 1/1000 penduduk yang masih bisa menggunakan aksara Mandailing.
Belum lagi soal warisan budaya kita. Candi Simangambat sepanjang usia pemkab Mandailing Natal tidak pernah ada sentuhan. Candi Saba Biara Panyabungan punah tak berbekas. Ada puluhan situs dan cagar budaya kita yang sama sekali tidak pernah digubris.
Ada warisan nilai budaya Mandailing yang sangat banyak dan tidak pernah disentuh. Toge Panyabungan, Itak Poul-poul, dan Sasagun, misalnya, ditetapkan oleh Kemendikbudristek sebagai Warisan Budaya Mandailing, sama sekali tanpa peran pemerinrah daerah.
Ketika daerah lain berlomba mengusulkan warisan budayanya untuk ditetapkan Indonesia dan Unesco, Mandailing Natal tidak melakukan apa pun.
Tahun 2018, sudah ditetapkan 11 Kelompok Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Mandailing Natal oleh Kemendikbud. Ada manuskrip, seni, teknologi tradisional, pengetahuan tradisional, dan lain-lain.
Setiap kelompok terdiri dari banyak sub. Karena itu, ada ratusan budaya Mandailing Natal yang harus dimajukan. Usaha ke arah itu tidak pernah ada.
Karena itu kita menaruh harapan besar kepada Ivan Iskandar Batubara, yang berniat menjadi Bupati Mandailing Natal periode berikutnya.
Kita percaya kepada beliau karena beliau selama ini banyak memberi sentuhan kepada budaya daerah. Dengan begitu, pemajuan kebudayaan Mandailing Natal tidak lagi sebatas jargon atau visi misi kampanye Pilkada saja.( Bersambung Terus)
Penulis : Iskandar Hasibuan








