Holong Na Marama Adalah Spirit Ivan

Bagian 4 dari 4 tulisan berjudul “Pesan Ayah tak Boleh Ditawar, Spirit Ivan tak Terbendung”

H.Ivan Iskandar Batubara/Dokumen

Iya, mengingat pesan Ayahanda, berarti mengenang begitu banyak momentum. Tak jauh beda dengan orang lain atau saudaranya sendiri. Ivan pun sering mengenang Ayahanda dari kisah orang lain dan catatan media.

Itu menjadi frame yang bikin rasa “holong na marama” itu lebih besar dan lebih dahsyat lagi. Nyata, banyak orang yang dekat dengan Alm Ayahanda Dr (HC) H Maslin Batubara. Mereka merasa, Sang Ayah sudah seperti orang tuanya sendiri.

Karena itu, pesan Sang Ayah tak hanya teringat saat dia berdoa. Bahkan, setiap dapat cerita dari orang-orang yang sempat merasa jadi anaknya, senantiasa menghadirkan kembali kenangan itu.

***

H.Ivan Iskandar Batubara ketika berkunjung di KKM Milik Sobir Lubis.SH.

Satu dari sekian banyak pengakuan muncul bersama ucapan turut berdukacita dari MUI Sumut atas wafatnya Ayahanda. Website muisumut.or.id (edisi: 23 Juli 2021) memuat sebuah tulisan berisi kesaksian (testimoni). Sekretaris Komisi Bidang Fatwa MUI Sumut, Dr Irwansyah MHI mengungkapkan perasaan personalnya bahwa dia sudah merasa seperti anak.

Apa sebabnya?

Bukan saja karena membantu biaya pendidikannya hingga melaih gelar doktor (Dr), tapi Sang Ayah juga sempat berpesan agar dia: “…. senantiasa lurus, jangan bengkok!”

Bahkan, Sang Ayah memberi petuah dan nasehat yang sangat kuat: “Jadilah ulama, jangan hanya sekedar intelektual”.

Tak hanya itu, artikel singkat itu juga menyebutkan, Irwansyah yang saat itu belum bertitel doktor harus meneruskan pendidikan. “Saat kau sulit, bilang,” lanjut Sang Ayah kala itu, sebagaimana dituliskan Irwansyah di laman milik MUI Sumutara itu.

Ungkapan yang diluahkan pada hari kepergian Sang Ayah itu juga melukiskan sebuah testimoni yang menggetarkan:

“Sampai sekarang rasanya suaramu itu seperti baru kudengar dua jam yang lalu.”

Doktor bidang hukum Islam itu juga bercerita. Sang Ayah pernah mengajakanya bersama Prof Syahrin Harahap, Ramli Abdul Wahid, HM Nasir dan Ismail Efendi untuk menghadiri acara Al Washliyah di Jakarta pada 2017.

“Kau ikut, kita perlu generasi,” tegas Ayahanda memastikan agar Irwansyah ikut rombongan. Bagi Irwansyah, kalimat ini menjadi tanda bahwa Ayahanda Maslin Batubara senantiasa berfikir jauh ke depan, termasuk soal generasi penerus di ormas Al-Wasliyah.

***

Belum lagi kesaksian-kesaksian langsung lainnya. Seperti di Madina, sejumlah masjid di Kota Medan dan beberapa desa Kabupaten Palas juga melaksanakan Sholat Ghaib mengiringi kepergian Ayahanda.

Semua itu, menguatkan pesan Ayahanda hingga seperti lukisan yang terpahat pada batu. Tentu, bagi Ivan sendiri, tona itu tak boleh dibantah. Maka, ketika faktor-faktor lain pun turut menopang dan elemen pendukungnya hadir sebagai sinergi, spirit mengabdi untuk Madina makin besar dan sudah tak terbendung.

Dari sanalah mengorbit sebuah narasi besar yang bagi Ivan menjadi sakral:

“Patujoloon Mandailing Natal, Standar Baru Kemajuan Daerah”. Jika bukan sebuah tesis, judul ini nantinya menjadi sebuah proposal untuk meyakinkan segenap masyarakat Mandailing Natal bahwa sudah saatnya Mandailing Natal bergerak ke depan.

Harapannya, selain menjadi rujukan (role model), begitu kira-kira optimisme Ivan, tiba gilirannya Mandailing Natal menjadi barometer untuk menilai kemajuan sebuah kabupaten/kota.(*)

Penulis:
Muhammad Ludfan Nasution, jurnalis dan Anggota DPRD Madina 2014-2019

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.