Idhul Fitri Momentum Akselerasi Sosial

Memaknai Idul Fitri berarti memaknai perjalanan hidup kita. Ini merupakan momentum terbaik bagi setiap manusia untuk kembali ke fitrahnya sebagai makhluk yang suci.

Idul Fitri bermakna kembali kepada naluri kemanusiaan yang murni. Ya, Setelah satu bulan lamanya kita ditempa menahan segala hawa nafsu, memberikan hak-hak jiwa dan raga secara adil, kini saatnya kita dituntut menjadi jiwa yang baru. Layaknya bayi yang baru lahir, kertas putih yang belum ternodai.

Namun, kembali sucinya manusia jangan ditafsirkan keliru yang menganggap perbuatan dosa yang lalu akan dihapus, sehingga tak segan melakukan dosa yang baru karena akan dihapus kembali pada idul fitri mendatang. Bukan begitu memaknainya.

Kembali fitrahnya manusia harus dipahami secara kaffah (menyeluruh). Manusia senantiasa diberikan petunjuk tetap berusaha merujuk pada kebenaran yang hakiki di sisi Allah.

Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individu, kita harus mampu memberikan hak-hak kepada seluruh aspek kehidupan yang menjadikan hati, jiwa dan raga tenang, nyaman dan damai dengan meningkatkan kebutuhan rohaniah, yakni iman dan taqwa kepada Sang Pencipta.

Sedangkan sebagai makhluk sosial, kita pun tidak lepas dari perkara yang berhubungan dengan manusia lain dan lingkungannya. Tentunya dengan saling menyayangi, saling peduli, saling menghargai dan saling memaafkan, serta jalinan hubungan kemanusiaan lainnya.

Karena manusia harus menjaga keduanya, antara hubungan dengan Sang Pencipta dan hubungan dengan manusia lainnya maupun lingkungan sekitarnya secara seimbang menjadikan hati, jiwa, pikiran dan perbuatan ke arah yang lebih baik dan bermanfaat.

Idul Fitri adalah momentum perubahan positif bagi diri kita, antara lain momentum refleksi diri, mengetuk kepekaan sosial dan memperkokoh kebersamaan.

Refleksi Diri

Memasuki bulan Syawal setiap tahunnya, atau yang lebih akrab dikenal dengan Idul Fitri, mengisyaratkan agar kita melakukan pendekatan diri kepada Allah, tuhan semesta alam, sekaligus merefleksikan diri sejauh mana perbuatan yang telah dilakukan di muka bumi ini, baik yang berhubungan dengan Sang Pencipta maupun hubungan dengan lingkungan sekitarnya, termasuk alam dan manusia lainnya.

Dari perjalanan hidup kita dari waktu ke waktu, Idul Fitri selalu menyadarkan umat manusia betapa pentingnya memperkuat keimanan. Namun, dalam rentang perjalanan itu, kita lupa akan kelemahan dan kerendahan diri, seakan-akan manusia memiliki kekuatan dan kekuasaan yang abadi.

Sebagian dari kita selalu mengejar dan mencintai kepentingan duniawi yang bertolak belakang dengan petunjuk Allah. Seperti, menjadikan kekuasaan dan jabatan untuk mempertahankan sekaligus memperkaya diri dan keluarganya, berbuat zalim, munkar, penyakit hati yang selalu kambuh kapan saja, seperti, iri, dengki, fitnah, amarah, dendam, takabbur dan lainnya. Padahal, manusia adalah makhluk yang diciptakan tuhan dengan segala keterbatasan yang harus tunduk dan mengabdi kepada Allah serta menjalin hubungan yang baik dengan manusia lainnya.

Kelalaian manusia kepada Allah berdampak akan lupanya kita akan diri sendiri maupun lingkungan di sekitar. Kelalaian ini kerap menunjukkan kesombongan manusia yang berubah menjadi serakah, egois bahkan berubah perilaku, layaknya binatang buas yang menjadikan alam ini adalah miliknya dan menerapkan hukum rimba sebagai aturannya. Akibatnya, berbagai perilaku buruk bermunculan di muka bumi ini, seperti praktek korupsi yang menghancurkan sendi kehidupan, penguasa menindas rakyatnya, pimpinan menzalimi bawahan, kebencian menyebar kemana-mana, saling bermusuhan dan konflik berkecamuk yang menelan korban harta dan nyawa manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, Idul Fitri selalu hadir untuk menyadarkan kembali atas kelalaian itu, agar mendekatkan diri kepada Allah dan membebaskan kita dari pola hidup keduniawian yang berlebihan dengan melepaskan belenggu egoisme, belenggu harta, belenggu jabatan dan kekuasaan. Pada hakekatnya, bunga-bunga keduniawian itu tidaklah kekal dan pasti ada masa berakhirnya.(Muhammad Ridwan Pasaribu)

 

Admin : Dita Risky Saputri.SKM..

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.