Ikhlas dan Harus Bangkit…….!

Bahtiargayo

Kami ihklas ya Rab atas cobaan mu ini. Semua ini untuk menguji kecintaan kami pada Mu. Jangankan harta benda yang menjadi titipan Mu, jiwa dan raga ini juga ketika sampai masanya untuk Engkau jemput, kami ikhlas.

Sedih… siapa yang tidak sedih. Namun kita tidak boleh larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Ambillah hikmah dibalik amukan alam ini.

Saya menyaksikan seluruh penjuru negeri ini hancur lebur. Ketika saya mengetahui sumber penghidupan saya untuk masa tua, luluh lantak dihajar amukan alam. Nafas saya terenyuh, ada tetesan air mata. Tidak lama kemudian, bathin saya tenang.

“Älhamdulilah ya Rab selama ini Engkau telah memberi nikmat kepada kami, kini Engkau uji ketabahan kami. Kuatkanlah ya Malikul Mulk. Beri Semangat kami untuk bangkit”.

Kebun alpukat yang diselingi tanaman kopi di Tetak, Dedamar, Bintang, luluhlantak diterjang banjir bandang. Di atas tanah ini sudah tumbuh 420 batang alpukat, berumur 5 tahun lebih. Sudah mulai belajar berbuah.

Demikian dengan kebun untuk beristirahat masa tua di Kala Segi, Bintang, juga ikut menjadi amukan alam. Kampungku…… Kala Segi hancur-hancuran. Perumahan saudaraku di sana tidak lagi berwujud rumah. Harta benda yang ada semuanya ditelan amukan banjir bandang.

Sampai kini, gubuk papan tempat istirahat kami di pinggir danau ini masih terendam lumpur, belum mampu kami urus.

Sawah warisan Ume Roda di Suku, Wihlah Setie, Bintang, sekitar juga terkena air bah. Lebih dari 1,5 kaleng bibit tidak lagi bisa digunakan untuk persawahan.

Anakl-anak saya kumpulkan. Keluarga juga saya beritahu atas cobaan ini. Allah menunda rejeki kami dengan cobaanya, semuanya disapu. Kini tinggal kenangan. Kami ihlas atas cobaan ini.

Saya tetap aktif meliput berita, mengabarkan bahwa negeri kami porak-poranda. Anak anak saya juga bangkit, menjadi relawan, membantu saudara mereka yang tertimpa musibah. Teman hidup saya juga menjadi relawan pendidikan.

Musibah besar. Ada diantara kita kehilangan orang yang kita cintai, bahkan jasadnya ada yang belum ditemukan. Yang hilang, bila nanti jasadnya tidak ditemukan, kita harus ihlaskan karena dia sudah bersemayam ke asal muasalnya. Damai dalam pelukan bumi.

Kita yang tersisa dari bencana harus berjuang, bertahan hidup walau dalam kondisi yang sangat susah. Saat saat kritis sudah kita lalui, linangan air mata dalam munajat doa sudah kita lakukan. Yakinlah Tuhan maha mendengar apa jeritan hati kita dalam deraian air mata.

Kita yang bertahan hidup akibat sapuan musibah yang meluluh lantakan negeri ini, harus bangkit. Tidak boleh selamanya larut dalam kedukaan. Walau ada diantara kita sudah tidak punya apa-apa lagi, namun yakinlah kita masih punya Tuhan yang menuntun hidup kita.

Kita harus bangkit! Jangan menyerah dengan keadaan. Tuhan memberikan cobaan karena kita mampu menghadapinya. Karena itu janji Allah, tidak menguji manusia diluar batas kemampuanya. Kita diuji Tuhan, karena Tuhan memilih kita, karena kita mampu menghadapinya.

SumberBerita : Faceboook Bahtiargayo

Admin ; Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Paket Ketahanan Pangan Dana Desa TA 2025 di Kec.Panyabungan Utara Diduga Fiktif Rp 25 Juta/ Desa

    PANYABUNGAN UTARA(Malintangpos Online): ” Ada -Ada Saja, Kades ini,” Paket Ketahanan Pangan sebesar Rp 20.000.000 – per desa untuk Tahun Anggaran (TA) 2025 di 11 desa Kecamatan Panyabungan Utara diduga…

    Read more

    Continue reading
    11 Januari: “Bersyukur Merajut Sejarah” Bersama Waspada dan Permata Hati

    *** Oleh: Hasriwal AS *** *Bagi ku*, tanggal 11 Januari bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah tanggal “keramat” yang mematrikan dua peristiwa monumental dalam hidup ku. Sejarah besar bangsa melalui…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses