Organisasi Itu Sekolah Pemimpin atau Tangga Kekuasaan?
Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Ada orang masuk panggung politik melalui organisasi pemuda. Ada pula yang berangkat dari kehidupan desa, bekerja keras, membangun usaha, lalu menemukan jalan ke partai politik.
Yasir Ridho Lubis dan Aswin Parinduri memperlihatkan dua jalur berbeda. Keduanya menarik dibaca bukan sekadar dari jabatan yang pernah diduduki, melainkan dari modal sosial yang mengantarkan mereka ke panggung publik.
Yasir Ridho: Sekolah Organisasi
Yasir Ridho aktif di KNPI Sumatera Utara sejak 1998. Ia menapaki jenjang organisasi hingga menjadi ketua, kemudian berkarier di Partai Golkar dan duduk di DPRD Sumut selama dua periode, 2014–2024. Ia juga pernah menjabat Wakil Ketua DPRD Sumut.
Perjalanan itu memperlihatkan bagaimana organisasi kepemudaan dapat menjadi ruang belajar mengelola jaringan, bernegosiasi, dan mempertemukan kepentingan berbeda. Julukan tukang jahit yang melekat kepadanya bahkan punya dua makna: profesi usaha menjahit dan kemampuannya merajut komunikasi politik. IDN Times.
Tetapi, ada pertanyaan yang lebih penting daripada panjangnya daftar jabatan: apakah keterampilan merajut kepentingan politik juga menghasilkan kemampuan merajut solusi bagi masyarakat?
Aswin Parinduri: Sekolah Kehidupan
Jejak Aswin bermula dari pengalaman bekerja sebagai penderes, buruh bangunan, petani, dan kepala desa. Ia kemudian memasuki dunia usaha, memimpin Gapensi Madina pada 2003–2008, serta aktif di lingkungan AMPI dan Partai Golkar.
Pengalaman tersebut menawarkan jalur kaderisasi yang berbeda. Bukan hanya ruang rapat organisasi, melainkan pengalaman mencari nafkah, menghadapi persoalan warga, dan mengelola kegiatan ekonomi. Aswin kemudian tampil dalam kontestasi Pilkada Madina dan memasuki politik legislatif tingkat provinsi.
Profil awalnya dapat ditelusuri melalui catatan perjalanan Aswin Parinduri. Namun, pengalaman hidup dari bawah tidak otomatis menjamin keberpihakan; ukurannya tetap keputusan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Dua Jalur, Satu Ujian
Yasir memperlihatkan modal organisasi dan kemampuan membangun jaringan politik. Aswin memperlihatkan modal pengalaman kerja, kewirausahaan, dan organisasi profesi.
Keduanya membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah organisasi benar-benar membentuk karakter pemimpin, atau hanya memperluas jaringan menuju kekuasaan?
Sebab, organisasi bisa menjadi sekolah integritas, tetapi juga bisa berubah menjadi pasar transaksi jabatan. Pesantren dapat membentuk tradisi ilmu dan adab, tetapi gelar santri pun tidak otomatis menjadikan seseorang negarawan.
Karena itu, membaca jejak tokoh tidak cukup dengan menghitung jabatan, organisasi, atau banyaknya orang yang mengenalnya. Kita perlu menguji kepekaannya terhadap masalah, keberanian mengambil keputusan, integritas saat menghadapi konflik kepentingan, serta kemampuannya melihat masa depan.
Jabatan menunjukkan posisi. Jaringan menunjukkan jangkauan. Tetapi, penyelesaian masalah menunjukkan mutu kepemimpinan.

Bagi Mandailing Natal, pelajaran ini penting ketika kita membaca perjalanan kader OKP, alumni pesantren, pengusaha, dan politisi. Kita tidak sedang mencari siapa yang paling banyak memiliki organisasi, melainkan bagaimana berbagai ruang kaderisasi itu menghasilkan pemimpin yang sanggup mengubah modal sosial menjadi kemaslahatan publik.
Sebab, panggung kekuasaan seharusnya menjadi tempat menguji hasil kaderisasi, bukan tujuan akhir kaderisasi.(*)
Mandailing Epicentrum — membaca jejak, menguji karakter, menakar masa depan.
Admin : Iskandar Hasibuan.








