
Seorang anak kelas II SD ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di sebuah pohon jeruk di Kecamatan Bukit Malintang.
Berita itu segera membawa kita kepada satu dugaan: bunuh diri.Tetapi justru di situlah pertanyaan besarnya dimulai.
Benarkah itu bunuh diri?
Pertanyaan ini bukan sekadar urusan istilah.
Bukan pula sekadar urusan polisi
menentukan pasal atau menyelesaikan sebuah perkara.
Sebab yang meninggal adalah seorang anak.Anak kelas II SD.Kalau setelah pemeriksaan yang memadai ternyata benar bahwa anak tersebut mengakhiri hidupnya sendiri, maka kita berhadapan dengan pertanyaan sosiologis yang sangat berat:
Ada apa dengan dunia sosial di sekitar anak itu?
Apa yang dialaminya?
Apa yang diketahuinya?
Apa yang tidak diketahui orang dewasa?
Mengapa cara bunuh diri seperti itu ada di dalam kepala seorang anak berusia 7-9
tahun itu?
Bagaimana keadaan keluarganya?
Bagaimana lingkungan sekolahnya?
Bagaimana relasinya dengan teman-teman?
Apakah pernah ada tekanan, kekerasan, perundungan, ketakutan, konflik atau
pengalaman lain yang mungkin tidak terbaca oleh orang dewasa?
Kita tidak boleh menjadikan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai tuduhan.Tetapi kita juga tidak boleh menganggapnya tidak penting.
Di sinilah pemikiran sosiologi Emile Durkheim menjadi relevan. Dalam membaca bunuh diri, Durkheim tidak semata-mata melihat tindakan individu sebagai urusan pribadi.
Ia menghubungkannya dengan hubungan individu dengan struktur dan
lingkungan sosialnya.
Tentu saja, teori Durkheim tidak boleh dipakai untuk menyimpulkan bahwa anak
tersebut pasti mengalami persoalan sosial tertentu.
Kita belum memiliki fakta untuk
mengatakan itu.Tetapi teori tersebut memberi kita sebuah pintu pertanyaan:
Kalau benar bunuh diri, masyarakat macam apa yang berada di sekitar anak itu?
Pertanyaan itu menjadi jauh lebih serius karena usia korban.Namun ada kemungkinan kedua.Bagaimana kalau ternyata tidak ada fakta yang cukup untuk menyatakan bahwa anak itu bunuh diri?
Maka persoalannya tidak menjadi lebih ringan.
Justru pertanyaannya berubah:Ada apa sehingga seorang anak ditemukan meninggal dalam kondisi yang menyerupai
bunuh diri?
Apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia ditemukan?
Siapa yang terakhir melihatnya?
Bagaimana kondisi tempat kejadian?
Apa hasil pemeriksaan medis?
Apa yang diketahui keluarga?
Apa yang diketahui sekolah?
Apakah ada informasi lain yang dapat menjelaskan kematian tersebut?
Semua pertanyaan itu bukan tuduhan.
Itulah pekerjaan penyelidikan.
Karena itu, dalam kasus seperti ini polisi mempunyai posisi yang sangat penting.
Polisi bukan hanya dituntut menemukan siapa, tetapi terlebih dahulu memastikan
apa yang sebenarnya terjadi.
Dan di sinilah kita perlu berhati-hati dengan cerita yang terlalu cepat.Jangan sampai karena seseorang ditemukan tergantung, maka masyarakat segera diberi cerita bahwa ia bunuh diri.
Sebab sekali label itu terpasang, seluruh pembicaraan berikutnya akan mengikuti
label tersebut.
Keluarga mungkin merasa harus menerima.Masyarakat mungkin berhenti bertanya.
Sekolah mungkin tidak lagi melihat persoalan lebih jauh.Dan penyelidikan sosial terhadap kehidupan korban bisa kehilangan momentum.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh karena korban masih anak-anak lalu buru-buru
menyimpulkan bahwa ia pasti dibunuh atau mengalami kekerasan.
Keduanya sama-sama membutuhkan bukti.
Maka yang paling penting sekarang bukan membangun cerita.
Yang paling penting adalah memastikan fakta.
Kalau benar bunuh diri, kita harus berani bertanya kepada diri sendiri: apa yang gagal
kita lihat dari kehidupan seorang anak sampai ia bisa sampai ke titik itu?
Kalau bukan bunuh diri, kita harus bertanya lebih keras: apa yang sebenarnya terjadi terhadap anak tersebut?
Dua kemungkinan itu sama-sama membawa konsekuensi sosial yang besar.
Karena itu, polisi tidak boleh gegabah menitipkan kesimpulan sebelum fakta lengkap.
Masyarakat juga jangan buru-buru menitipkan prasangka.
Biarkan TKP berbicara.
Biarkan pemeriksaan medis berbicara.
Biarkan saksi berbicara.
Biarkan keluarga dan lingkungan korban diperiksa secara hati-hati.
Dan setelah seluruhnya dikumpulkan, biarkan fakta yang berbicara.
Sebab yang sedang kita bicarakan bukan sekadar sebuah kasus.
Kita sedang membicarakan kematian seorang anak kelas II SD.Kalau benar ia memilih kematian sendiri, itu adalah alarm sosial.
Kalau ternyata bukan, itu adalah alarm yang berbeda—dan mungkin lebih keras.
Apa pun kesimpulan akhirnya, jangan sampai seorang anak mati untuk kedua kalinya: pertama secara fisik, dan kedua ketika masyarakat terlalu cepat memutuskan cerita tentang kematiannya. (*)
Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum
Admin : Iskandar Hasibuan.








