Ketua DPC.PDIP Madina Iskandar Hasibuan, Money Politik Menjadi Musuh Bersama Masyarakat

Iskandar Hasibuan

PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Ketua DPC.PDI Perjuangan Kab.Madina Iskandar Hasibuan, mengajak seluruh elemen masyarakat agar menjadikan praktek Money Politik di pemilihan Legislatif yang akan dilaksanakan 17 April 2019 mendatang sebagai musuh bersama, karena selama ini praktek yang merusak pesta demokrasi tersebut berjalan dengan sukses, tanpa ada yang menghalanginya.

            “ Beberapa waktu yang lalu telah di gaungkan oleh Kobol Nasution di Media Sosial(Medsos), tetapi sekarang sudah mulai redup kembali, karena itu saya sebagai salah satu Calon Legislatif dari PDI Perjuangan di Dapil V Madina, mengajak masyarakat untuk menjadikan Money Politik sebagai musuh bersama,” ujar Ketua DPC.PDI Perjuangan Kab.Madina Iskandar Hasibuan, Kamis(9-8) di Rindang Hotel Jln.Willem Iskander Dalan Lidang Panyabungan.

            Untuk kita ingat bersama, bahwa tanggal 17 April 2019 yang akan datang  merupakan momen yang paling ditunggu bagi para calon legislative untuk menentukan apakah dirinya terpilih atau tidak sebagai anggota DPR baik tingkat daerah, provinsi, maupun pusat.

Disebutkan Iskandar, Setiap caleg berlomba-lomba mensosialisasikan janji-janjinya kepada rakyat di daerah pemilihannya masing-masing. Banyak cara yang mereka lakukan untuk bersosialisasi tentang dirinya. Cara yang dilakukan mulai dari cara yang biasa digunakan para caleg hingga cara-cara yang tak lazim digunakan oleh para caleg lain.

Kata dia, namun sosialisasi tersebut dirasa kurang efektif dalam menarik perhatian masyarakat untuk memilih dirinya sebagai wakil rakyat. Para caleg biasa mensosialisasikan dirinya kepada masyarakat dengan disertai pemberian uang yang alih-alih sebagai pemberian hadiah, untuk beli makan dan lainnya.

 Hal itu dilakukan jauh-jauh hari sebelum waktu pencoblosan dilakukan. Pemberian tersebut juga dirasa tidak cukup untuk menarik simpati masyarakat, karena kehendak manusia dapat berubah-ubah kapan saja dan dimana saja.

Sehingga waktu mendekati hari H, para caleg gencar melakukan bagi-bagi uang kepada masyarakat agar yakin dan mantap untuk memilihnya. Nominal yang dikeluarkan juga tidak sedikit, setiap caleg membagikan uang sekitar Rp100.000- Rp 150.000 bahkan lebih per orang. Cara ini dirasa cukup efektif untuk menarik perhatian masyarakat untuk datang langsung ke TPS dan memilihnya.

Meskipun praktik ini dilarang oleh KPU, namun kenyataan dilapangan masih banyak ditemukan parktik-praktik kotor tersebut. pertanyaan mendasar kepada para caleg yang melakukan praktik tersebut, apakah tidak takut diberi sanksi oleh KPU ?

Namun mereka memiliki alasan tersendiri tentang hal itu, salah satunya adalah pemberian tersebut merupakan pemberian biasa yang dilakukan ketika seseorang memberi uang kepada pengemis. Jika tidak diberi uang masyarakat enggan datang ke TPS apalagi mencoblos caleg. Fenomena tersebut sering kita jumpai disaat momen menjelang pemilu, atau pemilihan pejabat politik yang lainnya.

Terlepas dari alasan yang dikeluarkan oleh para caleg, fenomena ini sangat berdampak terhadap perilaku masyarakat saat ini. Dampak yang paling mononjol adalah ketergantungan masyarakat dalam memilih caleg berdasarkan uang yang diberikan bukan visi misi, serta latar belakang para caleg. Saat ini setiap orang beranggapan

 “ aku gak nyoblos nek ,saya tidak akan memilih, jika saya tidak dikasih uang. Jika praktik ini terus dilakukan maka yang terjadi adalah membentuk perilaku-perilkau materialis alias semua yang dilakukan ada uangnya tidak ?”.

Dampak perilaku yang materialis akibat money politik dimasyarakat adalah seseorang memilih caleg bukan karena idealismenya tetapi berdasarkan lingkungan disekitarnya yang memberikan uang dan pengaruh dari tetangganya. Dengan kata lain, masyarakat gampang ikut ikutan lingkungannya.

Temennya ke barat dia ikut ke barat, temennya masuk sumur, dia juga ikut masuk susmur. Hal ini terjadi karena fikiran itu terbentuk karena pengaruh lingkungan di sekitarnya. Karena lingkungan tersebut juga dikategorikan materi.

 “Jika terbentuk pola pola seperti ini masyarakat  Mandailing Natal yang tidak memiliki jati diri, sehingga mudah terombang ambing oleh keadaan disekelilingnya. Jika masyarakat mudah dikendalikan maka tinggal kita lihat siapa yang mengendalikan,” itu pakta dilapangan yang terjadi baik dulu maupun yang akan datang,”  kata Iskandar Hasibuan.

Makanya, jalan terbaik, sejak sekarang seluruh elemen masyarakat yang ingin Wakilnya di Gedung DPRD Mandailing Natal merupakan seorang perwakilan yang mampu menjemput aspirasi ke akar rumput, tentu praktek Money Politik harus dijadikan menjadi musuh bersama, kalau tidak demokrasi kita semakin runyam, ujar Iskandar Hasibuan(Put/Rel)

 

 

 

 

Admin : Siti Putriani Lubis

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.