
MASYARAKAT Yang memakai pasilitas Jalan Jembatan Merah – Natal Kabupaten Mandailing Natal, selama ini selalu was-was disebabkan banyaknya daerah yang rawan longsor dan sempat beberapa hari hubungan lalulintas putus total ke daerah itu, tetapi masyarakat dan juga pihak Bina Marga dan Bina Kontruksi Sumut melalui UPT.Bina Marga Kotanopan terus melakukan pembersihan diberbagai tempat, sehingga sejak Jumat(10-11) sampai Sabtu (11-11) hubungan lalulintas kembali normal seperti biasanya.
Namun begitu, pihak Bina Marga dan Bina Kontruksi Sumut melalui UPT.Bina Marga Kotanopan yang terus bolak-balik dijalur Jembatan Merah- Natal tetap melakukan monitoring hingga jalur Kotanopan – Ulu Pungkut yang beberapa hari belakangan ini mengalami longsor dibeberapa titik dan sekarang ini lagi dilakukan pembersihan.

Untuk kita ketahui bersama, bahwa Jalur Jembatan Merah- Natal yang selama ini kita kenal betul “ Rawan Longsor” sudah barang tentu ketika hujan yang terus menerus mengguyur wilayah Mandailing Natal, akan membuat tanah/tebing jalan labil dan mudah longsor, tapi itu semua bukan kehendak kita, melainkan faktor alam yang memang sudah sejak lama rusak disebabkan tangan-tangan jahil yang menggunduli hutan kita dan sekarang ini muncul akibatnya.
Namun, masyarakat yang sempat diajak penulis bincang-bincang, sangat berharap kepada Pemerintah Sumutera Utara Cq.Dinas Perhubungan Sumut maupun DPRD Sumut, agar kembali mengkaji Kelas jalan Jembatan Merah- Natal, sebab hampir setiap tahun anggaran oleh Dinas Bina Marga dan Bina Kontruksi Sumut, mengalokasikan anggaran perbaikan dan pemeliharaan, tapi dengan mudah rusak disebabkan Truk yang melintasinya melebihi tonase jalan, sehingga terkesan kontaktor yang mengerjakan jalan yang kurang baik, padahal disebabkan truk yang lalu lalang sudah jauh dari kapasitas/kelas jalan yang dilewati truk CPO khususnya.
Bagaimana dengan Bina Marga dan Bina Kontruksi Sumut…? Sebenarnya kalau kita jujur melihat sikap dan langkah yang telah dilakukan oleh Ka.UPT.Bina Marga Kotanopan sudah maksimal sekali, namun akibat kondisi medan yang begitu parah, tentu dalam pembersihan tumbukan longsor mengalami keterlambatan sedikit, harusnya keadaan itu harus dimaklumi bersama oleh masyarakat pengguna jalan daerah itu.

Cuma, ujar A.Rahmad Hariadi Nasution warga Batang Natal, harusnya Gubsu mengajukan anggaran yang lebih besar untuk daerah yang rawan-rawan bencana/longsor, misalnya anggaran untuk UPT.Bina Marga yang mengawasi Jalan Jembatan Merah – Natal jangan seperti selama ini dan alat berat yang di stand by kan juga minimal ada tiga(3) Unit agar bisa dengan cepat diatasi semua bencana longsor yang muncul, jangan setelah terjadi longsor baru dicarikan alatnya.
Contoh, ketika Longsor diwilayah Aek Milas, Jambur Baru maupun yang lainnya, kita harus mengakui dengan jujur siapapun petugas ataupun siapapun penanggung jawab dan pengawas yang ditugaskan ke daerah itu akan “Jantungan” melihat kondisi longsoran yang muncul, makanya kita sangat berharap kepada Gubsu segera mengkaji ulang anggaran untuk wilayah-wilayah rawan longsor di Sumatera Utara, bukan yang di Mandailing natal saja( Bersambung Terus).
Liputan : Siti Putriani Lubis
Admin : Dina Sukandar Hasibuan,A.Md






